Sabtu, 28 Januari 2017

Tentang Pengendalian Diri

Perihal pengendalian diri, saya mungkin bukan orang yang pantas untuk berbicara hal ini karena saya sendiri juga masih belajar. Tapi tak ada salahnya kan sebagai manusia kita saling mengingatkan. 

Hal yang saya maksud dengan pengendalian diri adalah bagaimana mengendalikan diri ketika emosi. Terkadang kita suka ngomel gak jelas ketika marah dan mengumbarnya di sosmed, emosi gak terkontrol. Saya berusaha sebisa mungkin menahan diri untuk hal ini. Bukannya apa-apa, saya merasa malu kalau ada kata-kata yang tidak pantas saya ucapkan, makanya sebelum berbicara suka mikir-mikir dulu. Saya yakin ada yang pernah merasakan hal itu kan, saat marah, emosi meletup-letup. Semua kata-kata cacian/hinaan dikeluarkan, lalu setelah itu, setelah emosinya mereda ... merasa malu sendiri, "Kenapa ya tadi aku bisa ngomong kayak gitu?"



Ketika ada masalah ... ABG nih, dengan pacar misalnya, langsung update status di facebook. Entah apa maksudnya, mungkin berharap biar 'si pacar' baca, lalu sadar. Atau cuma sekedar pelampiasan emosi semata, biar plong. Yang anehnya lagi, padahal sebelumnya update status yang mesranya luar biasa. Ckckck ... lucu, dan terkadang pengen ketawa ngelihatnya. Maaf, untuk akun seperti ini, kalau gak kenal orangnya, biasanya suka saya hapus dari pertemanan. Bukannya songong, tapi bikin gak enak hati bacanya dan gak  sedap dipandang, takut kebawa atmosfernya. Hehe.

Jadi sebaiknya, ketika marah ... jauh-jauh dari seosmed, deh! Jangan sampai masalah kita jadi konsumsi publik, apalagi bagi yang sudah punya pasangan, malunya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga pasangannya yang menjadi penyebab marahnya.


Saya sih biasanya lebih memilih untuk diam ketika marah dan memilih menjauh sumber penyebab marah. Diam adalah cara yang efektif. Ya, saya diamkan saja orangnya lalu pergi. Kalau masih ada masalah yang harus diselesaikan, nanti dibahas ketika emosinya sudah reda, secara baik-baik.

Baik dan buruknya seseorang kelihatan lo saat dia marah. Orang yang 'dewasa' dan 'sabar' akan kelihatan dari cara marahnya. So, hati-hati ya, ketika marah! *keep smile ;)

Agama dan Akhlaknya (Dalam Memilih Calon Pasangan)

Orang yang baik agamanya belum tentu baik akhlaknya, dan orang yang baik akhlaknya belum tentu baik agamanya. Karena agama dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Begitu yang saya pahami akhirnya dari ceramah Ustadz dan penjelasan beberapa orang teman. Mungkin sebagian kita pernah berkomentar, "Ih dia kerudungnya panjang ... tapi kok masih pacaran!" Atau komentar yang senada lainnya. 

Padahal kita seharusnya tahu, panjangnya kerudung tak ada hubungannya dengan hal itu semua. Ibadah seseorang adalah perihal agamanya, dan tingkah laku seseorang adalah perihal akhlaknya. Makanya dalam ceramah ustadz yang saya dengar, jika ingin mengetahui akhlak seseorang, tanyakan pada lingkungan tempat kerjanya. Dan jika ingin melihat agamanya datanglah ke masjid atau majelis ilmu. Karena seseorang akan cenderung baik jika berada di tempat yang baik. Intinya begini, kita tidak bisa menyalahkan agama seseorang ketika melihat akhlaknya buruk. Dan SEHARUSNYA orang yang baik Agamanya juga baik akhlaknya.

Jadi jika ingin memilih calon pasangan, pastikan yang baik AGAMAnya dan juga AKHLAKnya. Semoga dapat dipahami penjelasan singkat ini. :)

Jumat, 27 Januari 2017

Psikotest dan Segala Jenis Misterinya

Nah, postingan kali ini untuk memenuhi janji saya pada postingan sebelumnya, yaitu janji untuk membahas psikotest dengan segala jenis misterinya. Kenapa saya bilang 'misteri'? Karena tidak ada yang bisa menebak hasil psikotest, apakah seseorang itu cocok dengan lembaga/perusahaan tempat seseorang itu mendaftar. Karena yang dinilai karakter/ kepribadian, jadi tidak menjadikan seseorang yang pintar akan diterima di suatu perusahaan. Sebab ada beberapa kasus, orang-orang yang ber-IPK tinggi belum tentu diterima. Bukannya tidak lulus, mungkin lebih tepatnya tidak cocok. Karena seseorang yang tidak lulus belum tentu jelek. Hanya saja karakternya tidak sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Misalnya untuk menjadi guru di sekolah, dibutuhkan orang-orang yang menyukai anak-anak, sabar, dsb. Atau untuk menjadi pegawai bank, dibutuhkan karakter yang teliti, tekun, ulet, mau berkerja keras, dsb.

Tapi apapun itu, tipe soal psikotest pada umunya sama. Ada Tes Potensi Akademik (TPA), warteg tes, tes gambar, dsb. Namun yang saya bahas di sini hanya beberapa saja berdasarkan pengalaman saya, karena saya bukan ahlinya (mungkin yang lebih tepat menjelaskan ini adalah orang psikologi).

Pertama, yang akan saya jelaskan adalah tes gambar. TPA mungkin sudah pada tahu ya, gak beda jauhlah dengan TPA Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Biasanya TPA lebih melihat kemampuan kognitif. Kalau tes gambar agak unik. Biasanya kita diminta untuk menggambar orang utuh (dari kepala sampai kaki) laki-laki dan perempuan, menggambar pohon yang berkambium, dan menggambar rumah pada kertas hvs yang berbeda-beda. Yang dinilai di sini adalah BUKAN kemampuan menggambar kita, tapi kepribadian kita yang dilihat dari hasil gambar kita. Saran saya menurut apa yang saya baca, untuk gambar orang, buatlah gambar orang utuh dan detail dengan umur yang lebih tua dari kita. Karena berdasarkan gambar itu kita diminta untuk menuliskan identitas orang yang kita gambar, seperti nama, umur, dan pekerjaan/ aktivitasnya. Untuk alasannya nanti saya tambahkan penjelasannya, atau teman-teman searching sendiri aja ya. ^_* Lalu untuk gambar pohon, gambar juga yang detail mulai dari akar, batang,ranting, buah, daun, bahkan tulang daun. Tambahkan juga makhluk hidup di sekitarnya, seperti rumput yang tumbuh di kaki pohon, atau burung yang terbang, Ingat, gambarlah pohon di tengah-tengah hvs, simetris, kertas yang disisakan atas-bawah, kiri-kanan, sama.

Kedua, Warteg Tes. Warteg Tes adalah tes menggambar juga, hanya saja bedanya di sini tersedia 8 kotakyang setiap kotaknya terdapat garis atau titik. Dan kita diminta untuk menggambar berdasarkan garis atau titik tersebut. Kurang lebih seperti di bawah ini gambarnya.


Tips untuk menghadapi tes ini adalah, mulailah menggambar dari kotak yang kanan ke kiri atau kiri ke kanan, yang penting tidak monoton, dan tidak juga mengacak. Karena menurut yang saya baca, kalau mengacak ... menggambar Anda adalah pribadi yang sulit diatur/ mengikuti aturan, lebih tepatnya pembangkang. Trus, untuk gambar garis representasikan dengan benda mati seperti jam, amplop, dll. Dan untuk gambar garis, representasikan dengan makhlukhidup seperti bunga, itik, dsb. Karena kalau tidak, berarti ada yang salah dnegan kepribadian Anda katanya. 

Oke, Bye Bye. Semoga SUKSES.  ;)

Tes Seleksi Masuk Untuk Menjadi Guru di Sekolah Swasta


Maksud saya menulis postingan ini hanya untuk sekedar sharing saja, mengingat saya baru lulus kuliah dan memasuki dunia kerja. Barangkali ada teman-teman yang sedang mencari pekerjaan atau mempersiapkan diri menghadapi tes setelah mendapat panggilan dan butuh informasi ... karena jurusan saya Penddikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), makanya saya ingin sharing tentang seleksi masuk untuk  menjadi guru di sekolah swasta (terkhususnya di kota Bandung) berdasarkan pengalaman saya sendiri. Langsung saja ....



1. Wawancara
Waktu itu saya wawancara dalam bahasa Inggris. Hal yang ditanyakan dalam wawancara adalah seputar pendidikan (kurikulum, metode pembelajaran, karakter guru profesional, dll.) serta sallary (gaji). Ada 2 orang pewawancara dengan meja terpisah. Di meja satunya lagi khusus untuk mengetes wawasan keIslaman saya (bacaan Al Quran,  Tahfidz/hafalahn surat-surat, hafalan hadist, hafalan doa sehari-hari, dll.)

2. Microteaching (Tes Mengajar)
Kalau bisa microteachingnya dalam bahasa Inggris kata Kepala Sekolahnya. Microteaching langsung dihadapan anak. Waktu saya micoteaching diamati/dinilai oleh 3 orang pengamat (Ketua Yayasan, Kepala Seolah, dan Guru Kelas). Selain guru kelas bisa juga diamati oleh Koordinator Level (Korlev). Tema dan Level/Kelas untuk microteaching ditentukan dari sekolah. Waktu microteaching biasanya 1 jam pelajaran.

3. Psikotest
Untuk standar psikotest berbeda-beda setiap sekolah, ada sekolah yang menerapkan standar perusahaan. Yang paling susah ditebak adalah hasil psikotest ini. Nanti akan saya buat postingan khusus tentang psikotest ini dan tips and trik dalam menghadapi psikotest.

Sekian dulu dari saya :)
*Nb: standar untuk tes seleksi masuk setiap sekolah berbeda-beda, hal yang saya sharingkan di atas gak mutlak, semakin bagus sekolahnya, semakin tinggi standarnya.

Sabtu, 19 November 2016

Alasan Orang Suka Saya dan Tidak Suka Saya

Hari ini hari terakhir IHT di hari Sabtu, ada yang menarik dari feedback di hari ini yaitu, setiap peserta diminta menyebutkan rasa suka dan rasa tidak sukanya terhadap peserta lain. Saya paling suka hal yang berbau psikologi seperti ini karena setiap orang bisa mengenali karakternya dan kekurangannya untuk perbaikan diri. Untuk itu hal ini sengaja saya tulis di sini, agar saya selalu ingat bagaimana orang lain mengenal saya, terutama kekurangan saya dan saya bisa memperbaiki diri. Tadi tiba giliran saya, saya diminta duduk di depan peserta lainnya, dan saya harus mendengarkan statement dari setiap peserta.
Bu Nuri: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi pintar. Saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi kurang hangat." (Besok kemana-mana saya bawa kompor, Bu. )
Bu Muti: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi ramah. Saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi kalau udah ngomong suka nyerocos dan saya gak ngerti." Lalu dikomen sama peserta lain, "Itu Ibunya yang emang lola apa gimana? "
Bu Susan: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi cerdas. Dan saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi kurang senyum." (Mungkin waktu itu saya lagi PMS Bu, hehe.)
Bu Sisil: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi rajin. Dan saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi orangnya terstruktur." Lalu diiyakan sama peserta lain, "Iya ya ... perfect gitu ya." (Maksudanya saya kalau mengerjakan sesuatu harus sempurna ya? Iya, sih ....)
Bu Lola: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi pintar. Saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi susah akrab dengan orang lain."
Pak Agus: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi orangya bertanggung jawab. Saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi butuh proses untuk dekat dengan orang lain."
Pak Tian: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi orangnya cerdas. Saya tidak suka Bu Nelvi karena ngomongnya pelan, pelannnn ... banget." (Lain kali saya ngomong pake TOA, Pak. )
Pak Syamsul: "Saya suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi orangnya sopan. Saya tidak suka Bu Nelvi karena Bu Nelvi orangnya tertutup." Lalu dikomen sama peserta lain, "Jadi kamu mau Bu Nelvi terbuka, terbuka apanya? " (Dasar Bapak-Bapak bercandaannya. )
Lalu kata pematerinya, "Beginilah ya ... bercandaannya orang 20 tahunan." Si Ibu mukanya sampai merah karena dari tadi ketawa ngakak mendengar perkataan kocak dari peserta lainnya. Keingat waktu muda ya, Bu? Hihi.


*catatan: kita baru mengenal selama sebulan terakhir dan baru beberapa kali pertemuan. Tapi kita sudah bisa mengenal karakter masing-masing. :)

Oke guys, hari ini hari yang sangat menyenangkan. Terima kasih untuk teman-temannya untuk kritik dan sarannya. Saya akan [terus] belajar lagi untuk memperbaiki diri.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kisah Saya Tidak Lulus Seleksi LPDP - Sepertinya ditolak LPDP itu lebih nyesek daripada putus cinta

HAHA. Itulah kata pertama yang ingin saya gambarkan, bawa enjoy aja. Walaupun pada hari H penguman 'sempat' berlinang air mata, sekarang enggak dong ya. Allah ganti dengan hal yang lebih baik.

Jangan tanya kenapa saya tidak lulus? Saya juga tidak tahu jawabanna, tapi saya mempunyai beberapa indikasi. Apalagi kalau bukan soal kontribusi. Saya benar-benar digembleng pas pertanyaan ini. Pertanyaan yang sama sampai ditanyakan dua kali oleh interviewer kepada saya. Apa Itu? penasaran kan ...?

Nanti aja ya, saya kasih tahu script wawancara saya. Sekarang saya ngantuk dan mohon undur diri untuk rehat dulu. Babay ...

Sabtu, 15 Oktober 2016

Ramahnya Gojek Bandung

 

Gojek. Itu adalah salah satu kemudahan yang saya dapatkan di Bandung. Apa itu gojek? Pasti sudah tidak asing lagi bagi sebagian Anda. Itu lo ... ojek online, yang bisa dipesan kapan saja dan dimana saja. Bagi saya hal ini sangat membantu. Murah, cepat, dan menyenangkan. Jadilah aplikasi 'Gojek' selalu nangkring di android saya.

Awal saya menggunakan gojek, ketika saya malas mencari-cari alamat. Dengan gojek saya hanya tinggal mengetik alamat atau tempat tujuan dan saya bisa sampai ke tempat tujuan dalam waktu yang cepat tanpa harus nanya sana-sini. Gojek juga sangat membantu ketika saya harus ke tempat-tempat tertentu yang tidak dilalui angkot, seperti komplek perumahan dan yang lainnya. Dan saya yakin hal ini juga bisa dilakukan oleh ojek biasa.

Namun hal yang paling membedakannya adalah soal tarifnya yang murah. Anda bisa mengetahui tarif sebelum memesan, dan tarif ini tergantung pada jarak yang Anda tempuh. Selain itu, para driver gojek juga ramah-tamah. Ada penilaian yang konsumen berikan setelah menggunakan gojek berupa poin yang dapat meningkatkan pendapatan driver gojek. Mungkin inilah yang membuat driver gojek ramah-tamah. Jika menggunakan gojek, Anda akan selalu ditawarkan untuk menggunakan helm oleh drivernya, jas hujan saat hujan, dan bahkan masker untuk melindungi dari debu.

Setiap menggunakan gojek, selalu ada cerita yang saya dapatkan. Entah itu tentang perjuangan, kerja keras, dan sebagainya. Pernahnya saya diboncengi oleh driver gojek seorang perempuan, dan hal ini sangat jarang. Hal yang saya lihat dari si Ibu ini adalah semangatnya untuk berkerja, tapi tetap bisa memperhatikan pendidikan anaknya.

Dibalik kelebihan, tentu ada juga kelemahan. Aplikasi gojek kadang bisa eror. Di jam-jam sibuk seperti saat magrib, kita bisa susah menemukan driver. Untuk itu ketika akan menggunakan gojek, ada baiknya dipesan 30 menit sebelum berangkat. Susahnya menemukan driver yang berlokasi di dekat kita adalah masalah yang sering saya hadapi. Alasannya karena ada kawasan-kawasan tertentu yang tidak bisa dimasuki gojek sebab kawasan tersebut adalah kawasan ojek biasa. Masalah penetapan kawasan oleh ojek biasa adalah suatu upaya agar konsumen tetap menggunakan ojek biasa, sehingga ojek biasa tidak tersingkirkan begitu saja.

30 tahun Mendatang Anak Kita


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Sumber Foto: Google

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau siapkan mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?
Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.
Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.
Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.
Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.
Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.
Ini juga berlaku bagi kita.
Ingatlah do’a yang kita panjatkan:
“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”
Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

***
Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan.

Sumber:  https://osolihin.wordpress.com/2013/02/02/30-tahun-mendatang-anak-kita-tulisan-mohammad-fauzil-adhim/

Kamis, 29 September 2016

Nasihat-nasihat Mulia dari Seorang Ibu yang Terdidik


Ada satu nasihat bagus yang diwariskan oleh seorang wanita Arab, yaitu, nasihat Umamah binti Harits kepada putrinya, Ummu Iyas binti Auf pada malam pernikahannya. Beberapa nasihatnya waktu itu adalah sebagai berikut:

"Putriku, engkau akan meninggalkan suasana yang telah melahirkanmu, dan engkau pun akan berpisah dengan kehidupan yang selama ini membesarkanmu. Seandainya seorang wanita tidak membutuhkan seorang suami karena kekayaan kedua orangtuanya dan kebutuhan mereka terhadapnya, maka engkau adalah orang yang paling tidak membutuhkan suami. Namun, kenyataan menyatakan bahwa wanita itu diciptakan untuk laki-laki dan kaum laki-laki diciptakan untuknya."

Adapun inti dari nasihat-nasihatnya adalah sebagai berikut:

Pertama dan kedua: Seorang istri harus mematuhi suaminya dengan penuh ketulusan dan memperhatikan perintah-perintahnya dengan penuh ketaatan.

Ketiga dan keempat: Seorang istri hendaknya memelihara kebersihan bagian-bagian tubuhnya yang selalu menjadi tujuan hidung dan mata suami. Artinya, jangan sampai matanya melihat sesuatu yang tidak menyenangkannya pada dirimu, dan agar ia selalu mencium bau wangi dari tubuhmu.

Kelima dan keenam: Seorang istri hendaknya selalu memperhatikan waktu tidur dan waktu makan suaminya. Karena, rasa lapar akan membuatnya garang dan kurang tidur akan membuatnya mudah marah.

Ketujuh dan kedelapan: Seorang istri hendaklah menjaga harta suaminya, memelihara kehormatannya dan keluarganya, mengatur keuangan rumah tangga dengan cara yang baik dan merawat anak-anaknya dengan penuh perhatian.

Nasihat kesembilan dan kesepuluh: Jangan pernah menentang perintahnya dan juga menyebarkan aib atau rahasianya. Sebab, menentang perintahnya, engkau akan membuat dadanya bergolak. Dan jika engkau menyebarrkan rahasianya, berarti engkau tidak bisa menjaga kehormatannya.

Berikutnya, hendaklah engkau tidak menampakkankeceriaan di hadapannya mana kala ia sedang sedih. Namun, jangan pula engkau menampakkan wajah bersedih ketika ia dalam keadaan berbunga-bunga.

Pencerahan:
"Kebahagiaan bukan di tangan orang lain, tapi di tanganmu sendiri"

Sumber: Menjadi Wanita Paling Bahagia

Selasa, 27 September 2016

10 Kunci Kebahagiaan

Seorang psikolog Amerika, DR Dicxi berkata : Hidup bahagia adalah seni keindahan yang memiliki sepuluh dimensi kategori, yaitu:
  1. Lakukanlah perbuatan yang Anda cintai. Jika Anda tidak mampu, maka lakukanlah kegemaran yang engkau sukai di waktu kosongmu dan perdalamilah.
  2. Menjaga kesehatan adalah ruh kebahagiaan, yaitu dengan menyeimbangkan pola makanan dan minuman serta berolah raga. Dan juga dengan menjauhi kebiasaan buruk yang membahayakan.
  3. Mempunyai cita-cita hidup, karena itu akan mempengaruhi pola hiudp dan membuat Anda lebih bersemangat.
  4. Menghadapi hidup dengan apa adanya, dan siap menerima manis atau pahitnya kehidupan.
  5. Siap hidup di zaman sekarang dan tidak menyesali masa lalu, serta tidak takut menghadapi hari esok.
  6. Memikirkan dan menentukan pekerjaan yang harus dikerjakan, serta tidak mencela orang lain terhadap keputusannya dan apa yang telah menimpanya.
  7. Memandang orang yang dibawah Anda keadaannya (Agar Anda senantiasa bersyukur)
  8. Membiasakan tersenyum dan gembira serta bergaul dengan mereka yang mempunyai sikap optimis.
  9. Berusaha berbuat kebaikan untuk kebahagiaan orang lain.
  10. Berusaha menggunakan dengan waktu sebaik-baiknya dan mampu mengambil pelajaran darinya. 


Itulah 10 kunci penting dalam meraih kebahagiaan hidup secara teori, namun pada dasarnya pembuka kunci-kunci kebahagian terdapat pada diri Anda sendiri. Dan jika kita yakin akan kebesaran Allah , tidak ada alasan hidup terpuruk dalam kesedihan karena dari satu kesempatan tarikan nafas yang kita hirup ada kebahagian yang tidak ternilai harganya.
Berpegang teguhlah pada pelita hidup yang Allah tuntunkan menuju jalan kebahagiaan, dengan meyakini hal tersebut sesulit apapun permasalahan yang Anda hadapi akan selalu ada seribu satu alasan bagi Anda untuk tetap berbahagia.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan”
(QS. Al-Baqoroh:286)

Source : DR. Aidh Abdullah Al-Qarni, MA, Agar Menjadi Wanita Paling Bahagia Di Dunia
 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design