Minggu, 13 Februari 2011

Sepotong Cerita Masa Kecilku

Oleh: Nelvianti

Dulu… waktu umurku lima tahun, seorang Kakek pernah mengatakan pada ibuku bahwa kelak aku akan jadi anak yang pintar. Mmh…. Seperti cerita fiksi ya….??? But it’s non fiksi! Ini kenyataan! Lets…
Saat masuk SD umur lima tahun sepuluh bulan aku sempat di tes, karena gurunya menganggap umurku terlalu kecil dibandingkan umur murid lain yang mendaftar waktu itu, yaitu tujuh tahun. Padahal kalau dipikir-pikir itu hal yang biasa kan??? Buktinya, banyak anak yang masuk SD pada umur lima tahun. Tapi itulah kenyataannya! Aku tidak pernah mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak, langsung menuju Sekolah Dasar sama seperti kakak-kakakku.
Jadi, waktu itu aku di tes untuk berhitung dari satu sampai lima. Jika aku bisa berhitung dari satu sampai lima maka aku bisa diterima di sekolah itu, tapi jika tidak terpaksa aku harus mendaftar tahun depan. Sebagian orang mungkin berfikir, “Ah, itu syarat yang asal-asalan. Anak lima tahunan disuruh berhitung sampai lima, ya pasti bisa lah.”
Memang, waktu itu aku sudah bisa berhitung sampai 12. Akupun mulai berhitung. “Ciek, dua, tiga, empat, lima.” Ucapku dengan cepat dan jelas, tapi sedikit malu-malu.

“Satu, bukan ciek.” Ibu menegurku.

“Maaf bu, dia sudah terbiasa berhitung dalam bahasa Minang.” Ibu menjelaskan pada gurunya. Sebenarnya waktu itu aku bisa berhitung dalam bahasa Indonesia, cuma aku pikir karena gurunya orang Minang jadi aku pakai bahasa Minang aja.
Akhirnya aku diterima di SD tersebut. SD tempat aku bersekolah terdiri dari dua sekolah dengan satu bangunan yang sama. Dan waktu itu aku mendaftar di SD tetangga, karena SD yang menjadi tujuanku gurunya belum datang. Walaupun aku mendaftar di SD tetangga, tapi aku sekolah di SD tujuanku yaitu tempat semua kakakku bersekolah. Hehe… seperti punya banyak kakak aja, padahal cuma punya sepasang kakak. One sister and one brother.
Awal pelajaran aku belum mengenal abjad satupun, walaupun aku sering belajar di rumah dengan kakak. Ya, sebelum masuk sekolah jika aku melihat kakak belajar, aku juga ikut belajar. Aku perhatikan kakak membacaa cerita, setelah itu aku coba menirukan apa yang dibaca kakak. Kadang kakak tertawa karena kedengarannya lucu. Jelas saja, aku belum mengenal satupun hurufnya dan hanya mengingat-ngingat gerak-gerik bibir kakak.
Di sekolah, setiap kali bu guru memberikan dikte aku tidak pernah membuatnya. Pernah bu guru mendiktekan kata bola. Aku jadi panik sendiri, karena tidak tahu tulisan bola itu seperti apa. Akhirnya aku minta bantuan teman yang duduk di depanku. Anak cowok yang duduk di depanku cukup pintar, mungkin karena ia pernah TK pikir ku.
“BE-O, BO. EL-A, LA. BOLA.” Ujar anak laki-laki itu. Tapi dasarnya gak kenal abjad, jadi aku gak tahu huruf “B” itu seperti apa. Alhasil aku dimarahin gurunya karena gak bikin latihan. Padahal aku sudah berusaha membuatnya, sampai-sampai buku ku robek karena sering dihapus waktu salah menulis hurufnya. Aku masih ingat, bagaimana bu guru menjitak kepalaku, tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Disini mungkin kamu berpikir, ternyata ramalan kakek itu salah. Tapi keajaiban datang waktu itu. Ya, bisa disebut miracle. Sesuatu yang aneh bin ajaib terjadi, berawal ketika ibu memeriksa buku pelajaranku.
Ibu selalu memeriksa buku pelajaranku setiap aku pulang sekolah. Waktu itu ibu melihat buku Bahasa Indonesiaku, entah mengapa ibu mengisi jawaban dari salah satu latihan yang ada di buku Bahasa Indonesia itu. Mungkin ibu berpikir dengan cara ini aku bisa belajar. Esoknya di sekolah, bu guru menyuruh membuat latihan. Dan ternyata latihan yang disuruh buat adalah latihan yang sudah dijawab ibuku di rumah.
Bu guru mulai menanyakan soal nomor satu, lalu dengan semangat aku mengacungkan tangan menjawabnya. Tapi guruku bilang, jawabannya salah. Jelas saja, yang ditanyakan soal nomor satu, aku jawab soal nomor dua. Hehehe…Mungkin karena teralalu bersemangat kali ya, jadi aku gak melihat soal nomor satu. Akhirnya temanku menunjukkan yang mana soalnya, dan soal selanjutnya sampai selesei sepuluh soal sukses aku jawab.
Bu guru sempat memujiku, katanya hanya aku yang dapat menyelesaikan soal itu. Tentu saja, kan jawabannya sudah ditulis ibuku. Thank’s you mom! Mungkin ini sudah jalannya. Eits… tapi jangan berpikiran yang macam-macam, hanya sekali itu ibu membantuku menyelesaikan soal latihan. Sejak saat itu bu guru lebih memandangaku, anggapannya kalau aku murid yang tak bisa apa-apa mulai berkurang. Tapi entah sejak kapan aku mulai bisa membaca dan menulis, aku tak ingat itu. Yang jelas ini adalah peristiwa yang paling berkesan bagiku ketika kelas satu SD.
Setiap kali ulangan aku tak pernah mendapat nilai nol lagi, nilaiku berkisar antara angka Sembilan dan sepuluh. Dan jika aku salah dalam membuat latihan, bu guru tidak langsung memberikan penilaian, dia menyuruhku untuk memeriksanya kembali. Kudengar dari ibu, bahwa bu guru beranggapan kalau aku heran melihat latihanku yang biasanya benar tapi sekarang kenapa salah? Rupanya bu guru membaca dari raut wajahku yang sangat serius ketika memperhatikannya menilai latihanku. Padahal sebenarnya gak seperti itu.
Penerimaan rapor caturwulan (cawu) satu aku memperoleh peringkat empat. Waktu itu sistem pembelajaran dibagi dalam tiga cawu, cawu dua dan cawu tiga aku berhasil meraih juara 1. Hingga kelas enam SD juara 1 tak lepas dari tanganku, hanya sekali aku hengkang dari juara 1, yaitu kelas tiga SD cawu satu aku mendapatkan juara 2. Disebabkan karena nilai penjaskesku yang anjlok. Ah, aku memang tak suka olahraga! apalagi senam, aku gak bisa.
Seterusnya waktu kelulusan kelas enam SD, Alhamdulillah aku memperoleh nilai tertinggi. Dan dapat melanjutkan ke SMP. Di SMP dua semester berturut-turut aku masih bisa mempertahankan juara 1. Hingga akhirnya aku masuk ke lokal unggul, lokal dimana tempat semua jawara-jawara kelas. Aku benar-benar merasakan persaingan disana, persaingan dalam belajar tentunya. Tapi aku menganggap mereka semua adalah teman-temanku.
Semester pertama di lokal unggul aku hanya mendapatkan peringkat lima, semester duanya naik dua peringkat menjadi juara 3. Naik ke kelas IX, aku masuk lokal unggul lagi. Semester pertama nilaiku jauh menurun, aku hanya memperoleh peringkat sembilan. Semester dua aku tidak tahu peringkatku, karena waktu itu tidak ada penilaian juara.
Tiba saatnya Ujian Nasional (UN). Masya allah….aku duduk di barisan paling depan, dekat meja pengawas lagi. Benar-benar gak bisa berkutik dibuatnya. Saat ujian matematika aku berusaha keras mnencari jawabannya sendiri. Sampai-sampai pengawasnya bilang, “anak lokal ini hebat semua, dia bisa mencari jawabannya sendiri.” Hehe…padahal karena gak dapat contekkan, ya mau gak mau harus cari sendiri. Tapi untung, aku sudah membekali diriku dengan belajar keras.
Menanti pengumuman kelulusan deg-deg kan ni. Sebelum berangkat ke sekolah aku cek dulu lewat sms, aku lulus atau gak. Eh, ternyata salah ketik sampai dua kali, hingga pulsa ku habis. Yang ketiga kalinya baru aku tahu kalau aku, “LULUS”.Di sekolah, aku gak ikut teman-teman coret-coret baju. Karena waktu itu kakiku sakit, jadi aku pulang lebih cepat.
Ternyata nilai UN ku, lumayan lah….walau gak merupakan nilai tertinggi. Tapi aku bangga, karena itu hasil jerih payahku sendiri. Aku bisa diterima di SMA Negeri, dan sekarang aku duduk di kelas XII. Di SMA peringkatku tetap berkisar di tiga besar.
Kini aku sudah 17 tahun. Tapi aku merasa, aku masih anak kecil yang belum menemukan jati diri. Yang jelas, targetku sekarang adalah lulus UN 2011 dengan nilai yang memuaskan, dan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi! Amin Ya Allah....
*Dari aku yang hobi menulis. Tulisan ini ku buat bukan untuk membanggakan diri, melainkan menunjukkan pada teman-teman bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Teruslah berusaha, jika ingin berhasil!

2 komentar:

NouvaLitera mengatakan...

untuk menggambarkar waktu sampai 17tahun dari awal belajar membaca terlalu singkat,, banyak hal seru lain yang terlewatkan,,, ayo bikin novelmu :p... pasti seru..

Nelvianti mengatakan...

Makasi NouvaLitera :)

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design