Minggu, 28 September 2014

The Sunshine Award

Thanks for the nomination, Aul!

Rules are:
1.Thank the person who nominated you
2. Answer the questions from the person who nominated you.
3.Nominate 10-15 bloggers of your choice.
4.Write the same amount of questions for the bloggers you nominated.
5.Notify the bloggers on their blog.
6.Put the award button on your blog

Okey, I nominate: Aul :D, Yena, Bella, and Teh Niken

Aul questions for me!

1. Kenapa kamu nge-blog?
    Bebas mengekpresikan diri (gak perlu demo di jalan-jalan buat ngritik Pemerintah), nambah teman,
    nambah penghasilan (yang ini belum kesampaian) :D. 
   


   














2. Apa lagu kesukaan kamu dan kenapa kamu menyukainya?
    Secara spesifik sih gak ada, cuma secara umum I love Melayu/Malaysia's song. Because, lagu Malaysia
    melow-melow gimana gitu... saya kan orangnya melankolis. #pliss...janganmuntah.





















3. Apa benda terakhir yang kamu beli?
    Gak ingat, lupa gue. Habisnya jarang beli 'benda', seringnya baju. Biasa Ibu-ibu fashionista (ada gak 
     istilah itu...? )


4. Apa film terakhir yang kamu tonton?
    '99 Cahya di Langit Eropa' dong! Film yang aku suka banget. And suatu saat aku akan
     menjelajahi Eropa seperti Hanum with my lovely husband (gak tahu siapa orangnya. -_-)





















5. Siapa penyanyi favorit kamu?
    Untuk saat ini belum ada.




















6. Siapa grup favorit kamu?
    Gak ada juga.


















7. Apa rahasia terbesarmu yang belum pernah kamu sebutkan di blog?
    Curhat tentang jodoh mungkin.











8. Kalau ditakdirkan punya kekuatan super, kekuatan kamu kira-kira apa?
    Punya kekuatan 'menghilang' aja deh, biar bisa keliling dunia.











9. Pilih disukai seseorang atau menyukai seseorang? Alasannya?
    Tergantung situasi. Kalau capek dikejar-kejar mulu (:D), pilih menyukai. Tapi kalau disukai seseorang kita
    dah punya 1 tiket. Tinggal 1 tiket lagi yang ada didiri kita (tergantung, tiketnya mau dikasihin apa/gak),
    jadi kita lebih aman.
















10. Apakah kamu suka menulis?
      Wow, suka banget! for me, writing is a necessary.





















11. Apakah kamu suka olahraga?
      No!





















12. Kalau diminta mengingat sebuah nama dalam dua detik, nama siapa yang teringat olehmu?
      My Mom dong. :)

















13. Menurut kamu, si Aul itu orang yang bagaimana?
      Santai, up to date, low profile, and suka Harry Potter.


















And this is my question for you friends:
1. Bagaimana pendangan kamu tentang pacaran?
2. Kenapa kamu suka nulis?
3. Kalau nulis cerpen/novel, kamu milih genre apa? and kenapa?
4. Kamu suka baca novel bergenre apa?
5. Keinginan terbesar kamu yang belum tercapai?
6. Usaha yang kamu lakukan ntuk ngedapetin sesuatu yang kamu pengen banget?
7. Kamu suka kesal sama orang yang gimana?
8. Kriteria orang yang kamu sukai?
9. Rencana mau nikah umur berapa? :D
10. Kalau dipermalukan di depan umum, kamu bakalan ngelakuin hal apa?
11. Dosen yang paling kamu gak suka yang kayak gimana?
12. Kalau ada tugas kuliah berkelompok, tapi teman-teman yang lain pada cuek, kamu doang yang ngerjain,
      sikap kamu gimana?

Selamat Menjawab :)

Selasa, 23 September 2014

Fakta: Memasukkan Anak ke Sekolah Dasar Terlalu Dini, Berbuah Kenakalan Remaja!

Selalu ada bahan yang saya tulis setelah pembelajaran ABK. Postingan saya kali ini tidak jauh berbeda, masih berhubungan dengan postingan saya sebelumnya yang berjudul, “Saya [Sempat] Puber Gak ya?”

Kali ini saya akan menulis tentang Pause Playing Delay. Apa itu Pause Playing Delay? Pause Playing Delay adalah Masa bermain yang tertunda, ini berkaitan dengan gangguan belajar pada anak. Menarik! Sebelumnya saya ingin menceritakan sebuah fenomena terlebih dahulu, yang banyak terjadi, dan dulu pernah juga asaya alami.

Eits… tunggu dulu, jangan berpikiran masa kanak-kanak saya tidak bahagia! Bukan itu! Hal ini berkaitan dengan kebiasaan orang tua yang memasukan anaknya ke sekolah dasar terlalu dini. Tidak dapat dipungkiri memang, banyak orang tua yang ingin memasukkan anaknya sekolah cepat-cepat, padahal umur anaknya belum mencukupi. Lalu berapakah umur ideal seorang anak masuk sekolah dasar? Saya tidak bisa menyebutkan pasti, karena tidak ada landasan teorinya, dan saya yakin setiap orang punya pendapat berbeda-beda. Cuman, saya ingin sedikit memberi gambaran.

Di sekitar lingkungan saya, sering saya temui Ibu-ibu memasukan anaknya ke sekolah dasar pada umur 5 atau 6 tahun, umur 7 tahun dianggap terlalu tua. Alasan orang tua untuk memasukan anaknya sekolah sedini mungkin, tidak lain hanya karena tidak mau anaknya tertinggal dengan anak tetangga lain. Memasukan anak sekolah sedini mungkin dianggap suatu gengsi, gengsi anaknya lambat menyentuh bangku sekolah. Sehingga banyak orang tua yang berbondong-bondong mengantarkan anaknya ke sekolah, meski umur si anak baru 5 tahun. Lalu, apa yang dilakukan pihak sekolah?

Ada pihak sekolah, yang membatasi penerimaan siswa kelas 1 SD dengan umur minimal 7 tahun. Ada juga sekolah yang menerima murid dengan umur dibawah tujuh tahun, dengan syarat anak tersebut sudah pernah mengenyam bangku Taman Kanak-kanak (TK), atau anak tersebut sudah bisa membaca. Tak jarang orang tua yang ngotot memasukan anaknya sekolah pada umur 5 tahun, anaknya dites membaca atau berhitung terlebih dahulu. Jika anak tersebut sudah bisa berhitung, minimal sampai 10, maka anak tersebut akan diterima.

Perkara berhitung sampai 10 mungkin hal yang mudah bagi sebagian anak. Jarang anak yang tidak bisa. Tapi selanjutnya, apakah kita tahu apa yang dialami anak tersebut? Okelah, pihak sekolah menerima, dan orang tua merasa lega anaknya sudah bisa bersekolah meski baru berumur lima tahun. Tapi perhatikan! Di kelas 1 SD yang ditemui anak, bukan teman-teman yang seumuran dengannya saja. Umur siswa di kelas 1 SD beragam, ada yang 5, 6, dan 7 tahun. Anak yang berumur 5 tahun mungkin bisa mengikuti pembelajaran sama dengan teman-teman yang lainnya, ia dikatakan mampu. Dilihat dari kemampuannya, ia bisa naik kelas dengan mulus. Dan seandainya guru menaikan anak ini ke kelas yang lebih tinggi dan tidak ada hambatan, maka bisa dipastikan anak ini lulus SD dalam umur 10 tahun, sementara teman-temannya yang lain lulus SD pada umur 11 atau 12 tahun. Dilihat dari kasat mata, ini tentu bagus bagi orang tua, anak dapat menyelesaikan sekolah dasar dalam waktu cepat.

Tapi tahukah orang tua, ada hal yang hilang dari anak tersebut? Masa bermainnya! Ya, anak kehilangan masa bermainnya, 2 tahun lebih cepat dari teman-temannya. Seharusnya di umur 10 tahun tersebut,si anak masih berada di bangku SD, menikmati masa bermain dan bercanda ria dengan teman-temannya, tapi ini tidak. Anak memasuki bangku SMP lebih cepat, tentunya anak akan menghadapi lingkungan yang berbeda, tidak ada lagi suasana bermain seperti di SD. Anak bisa saja shock menghadapi hal ini. Imbasnya, anak jadi berleha-leha ketika di SMP, tidak mau belajar, maunya bersenang-senang saja menikmati masa bermain di SDnya yang tertunda. Dan tak jarang, anak yang masa SDnya cermelang, berprestasi, tapi setelah di SMP melempem

Dan saya sendiri yang masuk SD ketika umur 6 tahun merasa bersyukur, menengah buat saya, tidak terlalu cepat. Dulu, saya iri pada teman-teman yang masuk sekolah lebih cepat, tapi sekarang saya menerimanya dengan senang-senang saja, karena saya bisa menyelesaikan tugas perkembangan saya sesuai waktunya.

Senin, 22 September 2014

Kenapa Tidak Ada Gramedia di Banten?

Sumber Gambar: regiosumatera.blogspot.com

Saya sudah dua tahun berdomisili di Provinsi Banten, di provinsi yang bisa dibilang seumur jagung. Provinsi yang berdiri di tahun mileneum ini dulu merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Barat. Kini, Jawa Barat sudah tidak mempunyai kota yang terpisahkan oleh Provinsi Jakarta lagi. Banten kini sudah menjadi provinsi dengan ibukotanya Serang.

Serang, sebagai ibukota provinsi letaknya cukup strategis. Terletak di tengah-tengah, antara kota Tangerang dengan kota Cilegon. Walaupun tak dapat dipungkiri, Tangerang lebih ramai, pembangunan cukup banyak di kota itu, mungkin karena kota ini dekat dengan ibukota negara, jadi banyak sedikit, pasti ada imbasnya.

Melirik kota Serang, di sana terdapat kantor Gubernur, Alun-alun, dan Masjid Agung Banten. Letak ketiganya sangat berdekatan, sebuah tata kota yang sangat menarik. Alun-alun adalah pusat keramaian di kota Serang, selain pasar Rau. Di sana banyak terdapat pedagang kaki lima. Setiap malam minggu dan minggu pagi selalu ada pasar kecil-kecil, kebanyakan pedagang menjual pakaian. Di sana juga banyak muda-mudi, Bapak-bapak, dan Ibu-ibu yang berolahraga setiap pagi dan sore. Keramaiannya semakin bertambah, sebab di kawasan tersebut terdapat pula sebuah Plaza.

Di plaza tersebut terdapat satu toko buku. Tidak begitu luas,tapi cukup melepaskan dahaga si 'Kutu Buku'. Si Kutu Buku tentu akan bertanya adakah toko buku lain di sini? Jawabannya, ada! Toko buku yang terletak di Jalan Ciceri, kota Serang. Tapi selain toko buku, adakah tempat yang lebih memuaskan? Masih ada! Perpustakaan Daerah, yang terletak di dekat terminal Pakupatan.

Tapi, tatkala ada yang bertanya adakah Gramedia di Provinsi Banten? Saya bingung menjawabnya, sebelum saya katakan tidak! Sepanjang pengamatan saya, tidak ada toko buku Gramedia di sini. Baik sebagai bangunan yang berdiri sendiri, atau tergabung dengan bangunan lain. Ketika saya baru-baru di kota ini, saya juga sempat mencari-cari keberadaan Gramedia. Saya bertanya pada teman-teman yang ternyata juga merindukan kehadiran Gramedia sebagai toko buku yang banyak diburu. Jawabannya, bisa saya katakan, tidak ada Gramedia di sini.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa tidak ada? Apakah pihak Gramedia tidak tertarik untuk mendirikan bangunannya di sini? Pertanyaan ini tentu tidak bisa kita jawab. Tapi saya rasa, jika ada Gramedia di kota ini, pasti banyak masyarakat yang mengunjunginya, terutama mahasiswa. Di kota Serang, terdapat tiga perguruan tinggi negeri, dan beberapa perguruan tinggi swasta. Kadang mahasiswa perlu mencari bahan kuliah/buku, dan kadang kala buku itu susah didapatkan. Jika ada toko buku sebesar Gramedia, tentu para mahasiswa tidak perlu mencari buku tersebut hingga ke Jakarta. Para remaja tentu tidak hanya ingin berolahraga setiap sore, tapi juga ingin hang out ke toko buku. Ke depannya tentu banyak yang berharap, akan ada Gramedia di kota ini.

Sabtu, 20 September 2014

Cabai dan Sariawan

Akhir-akhir ini saya sering terserang sariawan, penyebabnya tidak tahu pasti. Tapi saya rasa pemicunya adalah makanan yang pedas. Ya, beberapa hari lalu saya makan soto pakai sambal ijo yang pedas. Setiap kali saya makan sambal ijo pasti saya sariawan.
Sariawannya di bibir bagian dalam, berbentuk luka terbuka. Saya sebelumnya tidak pernah mengalami sariawan yang seperti ini, saya dulu pernah mengalami sariawan, tapi sariawannya berupa benjolan di bibir, dan itu tidak terlalu perih. Tapi sariawan kali ini berbeda, rasanya sangat perih. Saya jadi susah berkumur-kumur, susah sikat gigi, dan susah makan tentunya.

Saya penasaran, apa sebenarnya penyebab sariawan. Ternyata penyebab sariawan tidak diketahui pasti. Namun, menurut sariawan.org ada beberapa jenis sariawan berdasarkan pemicunya:
1. Stomatitis Afthosa
Sariawan ini terjadi akibat tergigit atau luka benturan dengan sikat gigi
2. Oral Thrush/Moniliasis
Disebabkan oleh jamur candida albicans, banyak dijumpai di lidah
3. Stomatitis Herpetic
Disebabkan virus hepes simpleks dan berlokasi di bagisn belakang tenggorokan
Gambar: sariawan.org
Pemicu sariawan lainnya adalah kekurangan vitamin C. Saya heran, cabai katanya banyak mengandung vitamin A dan vitamin C. Bahkan vitamin C pada satu cabai rawit lebih banyak daripada satu buah jeruk, dan vitamin C cabai hijau lebih kaya dibanding cabai rawit. Tapi kenapa saya selalu tidak cocok dengan cabe hijau? Kalau masalahnya bukan di perut, pasti masalahnya di mulut. Kandungan vitamin C pada cabai yang katanya dapat memenuhi kebutuhan harian setiap orang ini membuat saya sariawan.

Selasa, 16 September 2014

Catatan Kampus Hari Ini: Saya [Sempat] Puber Gak Ya?

Tulisan ini berawal dari ocehan dosen saya, kurang lebih, katanya begini:

“Anda semua yang tidak pernah merasakan cinta monyet waktu remaja, kemungkinan akan muncul waktu umur 40tahunan.”

Sontak kelas saya menjadi heboh. Pasalnya, pernyataan dosen tersebut sangat menakutkan bagi yang belum pernah pacaran. Lalu...

“Saya bukan menyuruh anda semua untuk pacaran lo ya….”

Lo, maksudnya apa?

Begini katanya, pacaran tidak diharuskan tapi mengekspresikannya tidak dibatasi. Anda semua (read: kami) sebagai calon guru, jika menemukan anak kelas 6 SD sudah mulai centil, maka Anda tidak boleh melarangnya, hal yang harus Anda lakukan adalah mengarahkannya! Tentunya mengarahkan ke hal yang positif.

Masa remaja dikatakan juga masa pubertas (puber). Remaja di masa puber mulai tertarik pada lawan jenis, mulai mengenal yang namanya pacaran. Menurut dosen saya, remaja pacaran positifnya, ia bisa saling mengenal lebih dekat. Tapi negatifnya remaja pacaran adalah sudah berkomitmen. Kan aneh ya? remaja sudah berkomitmen untuk saling memiliki/pacaran, melarang pasangannya untuk dekat dengan orang lain. Pergaulan remaja itu kan jadi terbatas. Jadi, tidak bagus juga masa muda itu digunakan untuk pacaran, remaja yang sudah pacaran akan sulit untuk bersosialisasi, ia hanya mengenal pacarnya saja, ia tidak mengenal teman-temannya yang lain. Hal itu tidak bagus untuk kehidupan ke depannya, makanya ketika kuliah ia tidak tertarik untuk berorganisasi, karena yang ditemuinya disetiap organisasi adalah konflik, konflik, dan konflik, dan ia tidak bisa menyelesaikannya/menghadapinya.

Lalu salah satu teman saya membantah.

"Itu prinsip Bu!"

Maksudnya, untuk hal senang berorganisasi atau tidaknya seseorang itu tergantung kepada prinsipnya. Saya juga setuju. Tapi pendapat dosen saya juga perlu digaris bawahi bahwa, seseorang yang masa remajanya pergaulannya terbatas, dewasanya akan sulit bersosialisasi, sulit memecahkan masalah sosialnya, ia akan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, dan ia lebih senang menyendiri. Itu betul!

Terbatasnya pergaulan seseorang sebenarnya berawal dari ia kecil. Fasenya dimulai dari usia 0 tahun. Usia 7-14 tahun adalah fase labil, yaitu fase senang-senangnya seorang anak. Usia 14-21 tahun adalah fase penguatan, dan usia 21 tahun karakter seseorang sudah jadi, dan sulit untuk dirubah. Jika anak masuk dalam pergaulan yang salah di fase labil, maka pergaulan yang salah tersebut akan sulit dirubah. Contoh kecilnya, anak sering telat bangun pagi, maka pada umur dewasa kebiasaan telat bangun paginya itu sulit dirubah. Patut dicurigai, mahasiswa yang sering telat bangun pagi, jangan-jangan membawa kebiasaan dari kecil!

Terbatasnya pergaulan berawal juga dari pengasuhan orang tua. Hal salah yang sering dilakukan orang tua adalah, melarang anaknya bermain. Pernah saya lihat, seorang Bapak yang melarang anaknya bermain dengan anak tetangganya yang dianggap tidak selevel. Bahkan anaknya dikurung di dalam rumah, dan melarang anaknya keluar rumah untuk menemui temannya ketika ada temannya yang berkunjung. Ini sangat tidak baik sekali bagi perkembangan sosialisasi anak ke depannya.

Jika anak belum menyelesaikan fase perkembangannya, dalam artian ia belum bisa menikmati masa remajanya, maka ada hutang yang harus ia bayar. Fase perkembangan remaja yang tidak diselesaikan di usia remaja, maka akan diselesaikan di usia 40 tahunan. Begitu juga fase perkembangan dewasa yang tidak diselesaikan di usia dewasa, akan diselesaikan diusia di atas 40 tahunan. Semisal, dalam urusan karir, setiap orang yang memasuki usia dewasa muda (21 tahun) cenderung ingin sukses, ingin memiliki rumah, ingin membeli mobil, dan sebagainya. Ia akan bekerja keras untuk mencapai hal itu, dan jika hal itu belum tercapai, ia akan terus melakukannya di usia di atas 40 tahunan. Makanya, ada kemungkinan orang yang berusaha keras di atas umur 40 tahunan, adalah orang yang masa mudanya digunakan untuk senang-senang. Ya, senang-senang aja! kata dosen saya. Misalnya ia tidak sekolah, semetara kamu (read: kami) sekarang bersusah payah melanjutkan pendidikan.

Terakhir, kesimpulan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini yang tidak sistematis ini yaitu, hal yang perlu digarisbawahi oleh orangtua sebagai orang yang pertama kali memberikan pendidikan kepada anak-anaknya adalah, jangan pernah membatasi pergaulan anak! apalagi anak usia SD, anak usia bermain. Anak lagi senang-senangnya bersosialisasi, anak akan berteman dengan siapa saja, tanpa memandang apakah orang tersebut kaya/ miskin. Perlu digaris bawahi juga, tidak membatasi pergaulan anak, bukan berarti membebaskan pergaulannya, tapi yang benar adalah mengarahkan pergaulan anak agar tidak salah gaul. 

Sumber Gambar: Google
 


Minggu, 14 September 2014

Sosialisasi Kebijakan dan Program Pengembangan Kewirausahaan Nasional (Technopreneur Camp VII)

Kementerian Perekonomian menggelar kegiatan Sosialisasi Kebijakan dan Program Pengembangan Kewirausahaan Nasional (Technopreneur Camp VII), Jumat-Sabtu, 12-13 September 2014, di Swiss German University (SGU) dan Hotel Ibis Serpong. Kegiatan yang bertema "Menumbuhkan Wirausaha Baru Berbasis Teknologi Untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa" ini dipersiapkan untuk menyongsong MEA 2015.

Kegiatan ini dihadiri oleh dua ratus orang peserta yang terbagi dalam 20 kelompok. Mereka merupakan perwakilan dari lembaga, organisasi, dan perguruan tinggi, yang terdiri dari mahasiswa SGU sendiri, Universitas Pendidikan Indonesia, Surya University, dan univ swasta lainnya di sekitar Tangsel.

Kegiatan yang bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), SGU, serta Tim Wiratif Kemenko Perekonomian ini dibuka pada pukul 08.30 WIB di SGU dengan pembacaan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, penampilan tari Saman dari mahasiswa SGU, dan dilanjutkan dengan laporan ketua pelaksana dari tim wiratif, Dr. Handito Joew ono, lalu sambutan dari rektor SGU, Prof. Dr. phil. Martin Loeffelhoiz.

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan pelatihan bisnis yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama dimulai pukul 13.30, oleh tiga orang pemateri yaitu, Dr. Ir. Anugerah Widiyanto M. Eng (Kepala Balai Inkubator Teknologi-BPP) dengan materi Technopreneur Ways; Ir. Eko Nugroho, MBA (PT. Dream Light Word Media Semarang), dengan materi Motivasi Bagi Calon Pengusaha Baru Berbasis; dan Prof. Dr. Ahmad M Ramli, SH, MH, FCBArb (Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual), dengan materi Pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual Untuk Menciptakan Keunggulan Produk Usaha.


Pelatihan bisnis sesi kedua dimulai pukul 15.30, diisi oleh empat orang pemateri,  Prof. Yohanes Surya (Rektor Surya University), dengan materi Peranan Perguruan Tinggi dalam Menumbuhkembangkan Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (PPBT); Dr. Illah Sailah (Direktur Akademik Ditjen Dikti), dengan materi Pengembangan Kurikulum Kewirausahaan dalam rangka Wirausaha Baru Mahasiswa dikalangan Perguruan Tinggi; Muhammad Al Fatih Timur (Kitabisa.com-Crowd Funding) dengan materi Skema Pembiyaan bagi Usaha Pemula dan UKM, dan terakhir Gabriel Ming (Direktur Kredit Masif Indonesia), dengan materi Penjualan Melalui Internet (E Commerce). Sesi ini ditutup pada pukul 17.00. Lalu kegiatan dilanjutkan di hotel Ibis pukul 19.00 - 23.00.

Di hotel Ibis dilanjutkan dengan materi cara menyusun business plan, tekhnik mempresentasikan business plan di depan investor, dan terakhir penyusunan business plan oleh masing-masing kelompok, yang akan dipresentasikan esok harinya mulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00. Pada hari kedua, setelah presentasi oleh semua peserta, diumumkan lima business plan terbaik.

Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari semua pihak. Semua peserta diharapkan mampu menjadi  technopreneur. Technopreneur berarti bukan enterpreneur semata! Technopreneur merupakan gabungan dari kata teknologi dan enterpreneur, yang berarti bisnis berbasis teknologi atau bisnis yang memanfaatkan teknologi. Salah satu business plan peserta yang berbasis teknologi adalah sebuah inovasi dari cermin yang digunakan sebagai media iklan. Jika dilihat dari jauh, cermin ini seperti reklame yang mengiklankan suatu produk, tapi jika kita berdiri di depan cermin ini, cermin akan berubah fungsi seperti biasa, yaitu untuk bercermin. Business plan ini menjadi salah satu business plan terbaik.

Semoga dengan adanya kegiatan ini, jiwa-jiwa kreatifitas dari masyarakat Indonesia akan semakin bermunculan, dan masyarakat Indonesia dapat bersaing di kancah internasional sebagai technopreneur. Sebab Indonesia akan menjadi negara maju jika 2 % dari jumlah rakyatnya berwirausaha, dan sekarang Indonesia baru menunjukan angka 0,18 %. Akhir kata, seperti dikutip dari salah seorang pemateri, dari pada wara-wiri cari kerja, mendingan wirausaha! [*]





Selasa, 09 September 2014

Jangan Membatasi Diri

Sumber Gambar: Google


Sesuai  dengan kalimat yang tulis di bawah judul ini: "Mahasiswa Itu Sarat dengan Pengalaman, so Jangan Biarkan Dirimu Terbatas!"

Ternyata apa yang saya sampaikan, belum mampu saya aplikasikan sepenuhnya. Saya telah mengabaikan dua peluang, dan mungkin saja itu peluang besar. Tapi mohon maaf, saya tidak bisa menyebutkan dengan detail apa itu peluangnya. Yang jelas peluangnya berkaitan dengan eksistensi saya sebagai mahasiswa. Ya, apalagi kalau bukan soal prestasi! Orang yang haus prestasi ini selalu ingin berbuat lebih, tapi kadang suka mengabaikan peluang.

Saya selalu mengatakan pada diri saya bahwa, saya tidak mampu. Padahal saya belum mencobanya. Jika, saya coba, belum tyentu saya terdepak dari seleksi alam. Karena pada kenyataan yang terseleksi adalah teman yang kemampuannya sama dengan saya. Lagi-lagi saya harus meupgrade diri! So, tetap, jangan biarkan dirimu terbatas!

Senin, 08 September 2014

Susahnya Mencari Carger Laptop Dell Inspiron 1440

Beberapa waktu lalu, tepatnya sehari setelah lebaran, charger laptop saya rusak. Laptop saya Dell Inspiron 1440. Chargernya rusak, awalnya karena jatuh dari tempat tinggi. Saya menaruh charger laptop di atas lemari, karena terburu-buru chargernyanya gak sengaja saya senggol dan jatuh. Adaptornya berbunyi keras setelah menghantam lantai. Setelah jatuh, tidak bisa dipakai lagi. Saya colokan, tapi lampu indikasinya gak nyala. Saya bingung.

Beberapa saat kemudian saya coba lagi, tapi tetap tidak bisa. Gimana ini? saya jadi kepikiran nyeleneh, apa saya jatuhin lagi chargernya biar nyala lagi? Kayak orang amnesia ketabrak mobil, ditabrak lagi ingatannya jadi kembali.

Ternyata benar, setelah cargernya saya benturin lagi, nyala. Saya tidak tahu apakah ini hanya kebetulan atau tidak, tapi yang jelasnya saya senang, charger laptop saya sudah sembuh. Niat untuk membeli charger baru diurungkan. Namun ini gak bertaan lama, jika chargernya saya cabut, dan dicolokin lagi, gak nyala lagi. Waduh, kok bisa gini? Alhasil, chargernya gak pernah saya cabut dari stop kontak, karena takut gak bisa nyala lagi kalau dicabut.

Sepertinya charger saya ‘ambek-ambekan’. Untuk mengantisipasi, saya coba nanya-nanya charger laptop baru di Cimahi Mall, Bandung. Sayang, gak ada yang jualan. Setelah itu saya gak nyari-nyari charger lagi. Saya pulang ke Serang.

Di Serang masih sama, charger saya kadang bisa dipakai, kadang enggak. Charger saya jadi sensitif, jika digeser dikit aja adaptornya, lampunya langsung mati dan gak bisa dipakai lagi chargernya. Akhirnya saya bosan! Saya coba searching di google, barangkali ada yang jualan charger Laptop Dell Inspiron 1440. Gak terlalu banyak referensi, cuma ada 2 tempat, 1 di Jogja, dan 1 di Bandung. Itupun mau gak mau beli online, walaupun saya gak yakin beli barang elektronik online, saya tetap menghubungi nomor yang tertera di situ, sekedar nyari informasi.  Setelah saya hubungi nomor dua orang yang jual tersebut, ternyata gak ada balasan. Saya  searching lagi, perbedaan charger ori dan yang tidak ori. Katanya, kalau charger ori terasa berat, kalau diketuk bunyinya padat, dan tulisan barcodenya jelas.

Setelah puas mencari informasi di dunia maya, akhirnya saya datangi beberapa toko komputer yang ada di wilayah Serang. Toko pertama saya tanya, gak ada charger laptop Dell Mbak, katanya. Saya disarankan untuk mencari ke toko lain, masih sama, jawabannnya juga gak jualan charger laptop Dell. Saya disarankan lagi ke toko berikutnya. Kali ini saya ke tempat service dulu. Saya tanya-tanya lagi.

“Jangankan yang orinya Mbak, yang KWnya aja susah nyarinya. Kalau mau, pesan dulu, belinya di Jakarta.” Kata Mas-mas tukang servicenya.

“Kira-kira arganya berapa ya, Mas?”

“Rp 150.000, buat yang KW 1. Tapi kita kalau beli, gak di tempat resminya Mbak, ya…nyari-nyari aja toko komputer yang gede. Mbak juga bisa searching di google toko yang jualan charger di Jakarta.”

“Oh… gitu ya Mas.”

“Kenapa, gak Mbak nyoba aja service chargernya dulu? Kan kalau beli yang KW, belum tentu tahan lama.” Lagian saya juga gak mau beli yang KW.

“Emang bisa Mas?”

“Ya, kita coba dulu. Kalau bisa Mbak cuma bayar 75ribu kok.”

“Ya udah deh Mas, saya service aja dulu.”

“Oke Mbak, 3 hari lagi saya kabarin.”

Benar-benar susah ya, nyari charger laptop Dell. Yang lain mah gampang-gampang aja, ini karena bentuk carger laptop Dell segi delapan.

Masih belum puas, saya tanyain 4 toko lagi, sembari menunggu charger saya selesai diservice. Jawabannya masih sama, gak ada! Pakai carger lain yang voltnya sama juga gak bisa, karena bentuk chargernya yang beda sendiri, segi delapan, gak bulat. Sekarang saya masi menunggu, apakah charger laptop saya bisa diservice atau tidak!

Kemana lagi harus saya cari? rasanya sudah semua toko komputer di kota Serang  saya jelajahi. Apa yang membuat charger laptop Dell Inspiron 1440 susah dicari? Apa yang harus saya lakukan, jika charger saya tidak bisa diservice? Adakah yang tahu tempat resmi penjualan charger Dell di Jakarta?
 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design