Sabtu, 28 Januari 2017

Tentang Pengendalian Diri

Perihal pengendalian diri, saya mungkin bukan orang yang pantas untuk berbicara hal ini karena saya sendiri juga masih belajar. Tapi tak ada salahnya kan sebagai manusia kita saling mengingatkan. 

Hal yang saya maksud dengan pengendalian diri adalah bagaimana mengendalikan diri ketika emosi. Terkadang kita suka ngomel gak jelas ketika marah dan mengumbarnya di sosmed, emosi gak terkontrol. Saya berusaha sebisa mungkin menahan diri untuk hal ini. Bukannya apa-apa, saya merasa malu kalau ada kata-kata yang tidak pantas saya ucapkan, makanya sebelum berbicara suka mikir-mikir dulu. Saya yakin ada yang pernah merasakan hal itu kan, saat marah, emosi meletup-letup. Semua kata-kata cacian/hinaan dikeluarkan, lalu setelah itu, setelah emosinya mereda ... merasa malu sendiri, "Kenapa ya tadi aku bisa ngomong kayak gitu?"



Ketika ada masalah ... ABG nih, dengan pacar misalnya, langsung update status di facebook. Entah apa maksudnya, mungkin berharap biar 'si pacar' baca, lalu sadar. Atau cuma sekedar pelampiasan emosi semata, biar plong. Yang anehnya lagi, padahal sebelumnya update status yang mesranya luar biasa. Ckckck ... lucu, dan terkadang pengen ketawa ngelihatnya. Maaf, untuk akun seperti ini, kalau gak kenal orangnya, biasanya suka saya hapus dari pertemanan. Bukannya songong, tapi bikin gak enak hati bacanya dan gak  sedap dipandang, takut kebawa atmosfernya. Hehe.

Jadi sebaiknya, ketika marah ... jauh-jauh dari seosmed, deh! Jangan sampai masalah kita jadi konsumsi publik, apalagi bagi yang sudah punya pasangan, malunya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga pasangannya yang menjadi penyebab marahnya.


Saya sih biasanya lebih memilih untuk diam ketika marah dan memilih menjauh sumber penyebab marah. Diam adalah cara yang efektif. Ya, saya diamkan saja orangnya lalu pergi. Kalau masih ada masalah yang harus diselesaikan, nanti dibahas ketika emosinya sudah reda, secara baik-baik.

Baik dan buruknya seseorang kelihatan lo saat dia marah. Orang yang 'dewasa' dan 'sabar' akan kelihatan dari cara marahnya. So, hati-hati ya, ketika marah! *keep smile ;)

Agama dan Akhlaknya (Dalam Memilih Calon Pasangan)

Orang yang baik agamanya belum tentu baik akhlaknya, dan orang yang baik akhlaknya belum tentu baik agamanya. Karena agama dan akhlak adalah dua hal yang berbeda. Begitu yang saya pahami akhirnya dari ceramah Ustadz dan penjelasan beberapa orang teman. Mungkin sebagian kita pernah berkomentar, "Ih dia kerudungnya panjang ... tapi kok masih pacaran!" Atau komentar yang senada lainnya. 

Padahal kita seharusnya tahu, panjangnya kerudung tak ada hubungannya dengan hal itu semua. Ibadah seseorang adalah perihal agamanya, dan tingkah laku seseorang adalah perihal akhlaknya. Makanya dalam ceramah ustadz yang saya dengar, jika ingin mengetahui akhlak seseorang, tanyakan pada lingkungan tempat kerjanya. Dan jika ingin melihat agamanya datanglah ke masjid atau majelis ilmu. Karena seseorang akan cenderung baik jika berada di tempat yang baik. Intinya begini, kita tidak bisa menyalahkan agama seseorang ketika melihat akhlaknya buruk. Dan SEHARUSNYA orang yang baik Agamanya juga baik akhlaknya.

Jadi jika ingin memilih calon pasangan, pastikan yang baik AGAMAnya dan juga AKHLAKnya. Semoga dapat dipahami penjelasan singkat ini. :)

Jumat, 27 Januari 2017

Psikotest dan Segala Jenis Misterinya

Nah, postingan kali ini untuk memenuhi janji saya pada postingan sebelumnya, yaitu janji untuk membahas psikotest dengan segala jenis misterinya. Kenapa saya bilang 'misteri'? Karena tidak ada yang bisa menebak hasil psikotest, apakah seseorang itu cocok dengan lembaga/perusahaan tempat seseorang itu mendaftar. Karena yang dinilai karakter/ kepribadian, jadi tidak menjadikan seseorang yang pintar akan diterima di suatu perusahaan. Sebab ada beberapa kasus, orang-orang yang ber-IPK tinggi belum tentu diterima. Bukannya tidak lulus, mungkin lebih tepatnya tidak cocok. Karena seseorang yang tidak lulus belum tentu jelek. Hanya saja karakternya tidak sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Misalnya untuk menjadi guru di sekolah, dibutuhkan orang-orang yang menyukai anak-anak, sabar, dsb. Atau untuk menjadi pegawai bank, dibutuhkan karakter yang teliti, tekun, ulet, mau berkerja keras, dsb.

Tapi apapun itu, tipe soal psikotest pada umunya sama. Ada Tes Potensi Akademik (TPA), warteg tes, tes gambar, dsb. Namun yang saya bahas di sini hanya beberapa saja berdasarkan pengalaman saya, karena saya bukan ahlinya (mungkin yang lebih tepat menjelaskan ini adalah orang psikologi).

Pertama, yang akan saya jelaskan adalah tes gambar. TPA mungkin sudah pada tahu ya, gak beda jauhlah dengan TPA Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Biasanya TPA lebih melihat kemampuan kognitif. Kalau tes gambar agak unik. Biasanya kita diminta untuk menggambar orang utuh (dari kepala sampai kaki) laki-laki dan perempuan, menggambar pohon yang berkambium, dan menggambar rumah pada kertas hvs yang berbeda-beda. Yang dinilai di sini adalah BUKAN kemampuan menggambar kita, tapi kepribadian kita yang dilihat dari hasil gambar kita. Saran saya menurut apa yang saya baca, untuk gambar orang, buatlah gambar orang utuh dan detail dengan umur yang lebih tua dari kita. Karena berdasarkan gambar itu kita diminta untuk menuliskan identitas orang yang kita gambar, seperti nama, umur, dan pekerjaan/ aktivitasnya. Untuk alasannya nanti saya tambahkan penjelasannya, atau teman-teman searching sendiri aja ya. ^_* Lalu untuk gambar pohon, gambar juga yang detail mulai dari akar, batang,ranting, buah, daun, bahkan tulang daun. Tambahkan juga makhluk hidup di sekitarnya, seperti rumput yang tumbuh di kaki pohon, atau burung yang terbang, Ingat, gambarlah pohon di tengah-tengah hvs, simetris, kertas yang disisakan atas-bawah, kiri-kanan, sama.

Kedua, Warteg Tes. Warteg Tes adalah tes menggambar juga, hanya saja bedanya di sini tersedia 8 kotakyang setiap kotaknya terdapat garis atau titik. Dan kita diminta untuk menggambar berdasarkan garis atau titik tersebut. Kurang lebih seperti di bawah ini gambarnya.


Tips untuk menghadapi tes ini adalah, mulailah menggambar dari kotak yang kanan ke kiri atau kiri ke kanan, yang penting tidak monoton, dan tidak juga mengacak. Karena menurut yang saya baca, kalau mengacak ... menggambar Anda adalah pribadi yang sulit diatur/ mengikuti aturan, lebih tepatnya pembangkang. Trus, untuk gambar garis representasikan dengan benda mati seperti jam, amplop, dll. Dan untuk gambar garis, representasikan dengan makhlukhidup seperti bunga, itik, dsb. Karena kalau tidak, berarti ada yang salah dnegan kepribadian Anda katanya. 

Oke, Bye Bye. Semoga SUKSES.  ;)

Tes Seleksi Masuk Untuk Menjadi Guru di Sekolah Swasta


Maksud saya menulis postingan ini hanya untuk sekedar sharing saja, mengingat saya baru lulus kuliah dan memasuki dunia kerja. Barangkali ada teman-teman yang sedang mencari pekerjaan atau mempersiapkan diri menghadapi tes setelah mendapat panggilan dan butuh informasi ... karena jurusan saya Penddikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), makanya saya ingin sharing tentang seleksi masuk untuk  menjadi guru di sekolah swasta (terkhususnya di kota Bandung) berdasarkan pengalaman saya sendiri. Langsung saja ....



1. Wawancara
Waktu itu saya wawancara dalam bahasa Inggris. Hal yang ditanyakan dalam wawancara adalah seputar pendidikan (kurikulum, metode pembelajaran, karakter guru profesional, dll.) serta sallary (gaji). Ada 2 orang pewawancara dengan meja terpisah. Di meja satunya lagi khusus untuk mengetes wawasan keIslaman saya (bacaan Al Quran,  Tahfidz/hafalahn surat-surat, hafalan hadist, hafalan doa sehari-hari, dll.)

2. Microteaching (Tes Mengajar)
Kalau bisa microteachingnya dalam bahasa Inggris kata Kepala Sekolahnya. Microteaching langsung dihadapan anak. Waktu saya micoteaching diamati/dinilai oleh 3 orang pengamat (Ketua Yayasan, Kepala Seolah, dan Guru Kelas). Selain guru kelas bisa juga diamati oleh Koordinator Level (Korlev). Tema dan Level/Kelas untuk microteaching ditentukan dari sekolah. Waktu microteaching biasanya 1 jam pelajaran.

3. Psikotest
Untuk standar psikotest berbeda-beda setiap sekolah, ada sekolah yang menerapkan standar perusahaan. Yang paling susah ditebak adalah hasil psikotest ini. Nanti akan saya buat postingan khusus tentang psikotest ini dan tips and trik dalam menghadapi psikotest.

Sekian dulu dari saya :)
*Nb: standar untuk tes seleksi masuk setiap sekolah berbeda-beda, hal yang saya sharingkan di atas gak mutlak, semakin bagus sekolahnya, semakin tinggi standarnya.

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design