Sabtu, 24 Februari 2018

Sepucuk Surat Untuk Ayah yang Tak Kuasa Ku Sampaikan



Ku pikir ... dengan berada di dekat mu Ayah, hubungan kita semakin membaik. Tapi nyatanya ... romantisme Ayah dan Anakitu ada pada jarak. Dekat membuat kita saling diam, engkau tak dapat memahami maksud ku dan aku tak dapat meyakinkan mu. Tapi Ayah ... aku tetap berharap, suatu hari nanti aku tidak akan menyesal karena sudah berusaha di dekatmu. Dan aku yakin, engkau jua memahami ... bahwa aku, anakmu, ibarat anak panah yan siap kau lepaskan pada masanya.

Diam mungkin caramu menunjukkan cinta Ayah, aku tau ... betapa khawatirnya ngkau saat mendapatiku tiba-tiba tumbang di suatu pagi dalam keadaan pucat pasi dan keringat dingin mengalir di badan. Saat itu kau mungkin berpikir akan menggantikan nyawa ku.

Aku tidak pernah menangis di depan mu, Ayah. Tidak pernah semenjak SMP. Tetapi bukan berarti aku tidak pernah menangis. Aku menangis Ayah. Aku menangis saat mendengarmu terserang diabet,tapi aku menangis dalam tahajud ku.

Maaf Ayah, kali ini aku lemah.

Padang, 22 Februari 2018.

Sabtu, 17 Februari 2018

Bagaimana Seorang Anak Perempuan Bisa Membeci Ayah Kandungnya Sendiri?




Tulisan ini adalah hasil refleksi dari orang-orang yang saya temui di kehidupan nyata. Pengalaman dari teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, atau curhatan dari mereka yang saya anggap adik. Membiasakan diri menjadi pendengar yang baik, banyak pelajaran yang dapat saya ambil dan saya share kepada teman-teman yang lain.  Bukan apa-apa. Saya tidak ada kepentingan apa-apa di sini. Ini murni sebagai bentuk pengingat diri sendiri, bahwasanya kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Saya masih ingat perkataan guru SMA saya, bahwa orang yang beruntung adalah orang yang belajar dari pengalaman orang lain, bukan dari pengalaman dirinya sendiri. Ini berarti, jika belajar dari pengalaman orang lain, secara tidak langsung kita sudah memfilter kejadian tersebut agar tidak terjadi pada diri kita.  
Baiklah, back to the topic! Kenapa judul di atas terdengar begitu ekstrim (setidaknya menurut saya sendiri)? I don’t know! :D Tapi memang begitulah adanya. Saya akan mulai bercerita. Ini berawal dari curhatan seorang adik kelas, sebut saja namanya ‘Mawar’, nama yang sangat familiar bukan? :D
Ok, Mawar ini saya lihat sering marah-marah ketika menelfon dengan Ayahnya, bahkan kadang tak sungkan ia berkata kasar kepada Ayah kandungnya. Padahal waktu itu Ia menelfon di depan orang lain, di depan saya. Setelah itu Ia bercerita panjang lebar tanpa saya minta. Cerita bagaimana Ia melihat perjuangan Ibunya seorang diri dalam membiayai kuliahnya.
“Dulu itu Kak, waktu mau masuk SD ... Ayah saya bilang gini, ‘Mau bayar uang sekolah pake apa? Kalau gak punya uang, ya ... gak usah sekolah saja!’Saya yang waktu itu belum masuk SD geram mendengarnya. Walaupun waktu itu saya masih kecil, tapi saya ingat sampai sekarang apa yang Ayah saya bilang. Dengan gampangnya Ayah saya bicara seperti itu, enak saja ...! Mana tanggung jawabnya sebagai Ayah, memang Ayah tidak mempersiapkan dana pendidikan untuk saya sebelum saya lahir, atau berusaha keras kek, kenapa terkesan pasrah seperti itu. Saya bisa kuliah sampai sekarang, sebagian besarnya karena keringat banting tulangnya Ibu saya. Ibu saya tentu gak rela melihat anaknya gak sekolah. Akhirnya Ibu saya rela-relain pergi pagi pulang malam, menjadi buruh. Apa saja Ibu saya lakukan, mulai dari buruh tani, berjualan, dan lain sebagainya. Saya masih terbayang gimana capeknya Ibu saya pulang malam. Sampai sekarang pun, kalau ada kekurangan biaya kuliah ... Ibu saya yang mengusahakan. Tadi saya menelfon Ayah untuk mengabarkan itu, tapi sudah diduga apa jawaban Ayah saya, saya kesal!”
Lain lagi ceritanya dengan Melati. Melati ini melihat dengan mata kepalanya sendiri Ayahnya sering bertengkar hebat dengan Ibunya sampai adanya KDRT. Puncaknya ketika Melati melihat Ibunya menangis dan ada sedikit lebam atau memar di tangan Ibunya. Saat itu Melati baru berumur 5 tahun. Tapi ia sudah mengerti semuanya, termasuk kenapa Ayahnya sampai hati memukul Ibunya.
“Karena ada perempuan lain, Kak!” Katanya waktu itu kepada ku. “Aku melihat Papa membawa pulang perempuan lain ke rumah, Mama protes. Dan terjadilah pertengkaran hebat itu. Papa sampai memukul Mama dan mendorong Mama, kemudia Papa memilih pergi bersama perempuan itu dan tidak pernah kembali lagi hingga saat ini. Waktu itu Mama menangis. Aku bilang, kenapa Mama menangis? Kalau Mama menangis demi Papa, Mama bodoh. Aku, walaupun masih TK, tapi sudah bicara sefrontal itu. Aku sendiri juga kadang bingung sama diri aku sendiri, darimana aku bisa dapat kata-kata itu. Tapi yang jelas, aku tau Mama ku orang hebat. Dan aku yakin, beliau bisa menjaga kami tanpa Papa! Mama ku dulu kerja di pertambangan Kak, kantornya dan gajinya lebih gede dari Papa aku. Papa aku dulu yang masukin kerja Mama, Papa bisa sampai di posisi sekarang ini, itu karena Mama! Mama rela resign dari tempat kerjanya demi mengikuti Papa, biar karir Papa saja yang melejit, Mama tidak usah, begitu mungkin pikir Mama. Tapi apa, saat itu setelah Papa berada di posisi puncak jabatan, bergelimang uang, lalu perempuan-perempuan itu datang. Perempuan-perempuan yang hanya mau uangnya Papa! Papa ku gak tau itu, terakhir ku dengar kabar Papa ku udah bangkrut, mungkin juga sudah dicampakkan oleh perempuan itu. Tak taulah ... dan aku gak mau tau. Aku gak mau dengar kabar apa-apa tentangnya. Aku benci Kak! Aku bahkan tak ingin ketemu Papa, dan aku bahkan sempat ingin bu**h Papa! (Masya Allah) Dan sekarang kalau Papa datang [lagi] dalam kehidupan kami, kami gak butuh, kehidupan kami sekarang sudah lebih baik. Mama sudah berkerja lagi dan karirnya bagus. Dulu setelah ditinggal Papa, Mama mulai lagi dari nol, tertaitih-tatih. Aku merasakan hari-hari makan dengan mie instan dan roti cukup lama, padahal sebelumnya apa pun barang mewah yang aku minta bisa dipenuhi. Berat, sangat berat rasanya dikhianati Papa! Tapi aku pastikan aku gak akan jadi anak broken home, yang suka bertinak seenaknya, buat apa! Aku juga gak menyalahkan jika ada teman-teman yang lain sampai bertindak di luar batas, karena aku gak pernah tau apa yang mereka rasakan. Yang jelas aku merasakan sakit, makanya aku gak pernah meminta orang untuk sabar ketika ditimpa musibah sebelum aku merasakan musibah itu sendiri! Sabar itu berat dan aku memilih diam daripada tidak memberikan solusi.”
Mmh ... saya tidak bisa berkomentar apa-apa mendengar ceritanya, saya hanya bisa merenung, bahwa ketidakberdayaan seorang Ayah, Ayah yang tekesan kurang bertanggung jawab, bisa menyulut api kebencian dalam diri anak perempannya. Kenapa anak perempuan yang lebih merasakannya? Karena kodrat ‘perempuan’ ingin dilindungi, dan ketika hal yang diharapkan itu tidak dapat Ia rasakan dari Ayahnya, sebagai seorang laki-laki terdekat dalam hidupnya, laki-laki yang pertama kali ia temui ketika Ia lahir, laki-laki yang mengumandangkan adzan di telinga, maka di situ ada perasaan tidak menerima. Kenapa begini? Kok begitu? Ia terus mencari-cari, membanding-bandingkan dirinya dengan teman-temannya, Ayahnya dengan Ayah teman-temannya. Ayah teman saya gak begitu, kenapa Ayah saya tidak seperti Ayah teman-teman saya? Huaaa ... pecahlah semua! Benci! Perasaan itu muncul. Saya kira begitu.

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design