Minggu, 07 Juli 2019

Ku Temukan CahayaNya di Tengah Perang Palestina



Dimanakah Cahaya Islam itu? (Merlyn)
Korban terus bertambah. Aku sedikit kewalahan menghadapinya.Tapi tidak dengan para dokter di sini, mereka cekatan. Mungkin aku belum terbiasa.
            Miss Merlyn, there are more victims!”
            Seorang berkebangsaan Eropa menghampiriku, ia mendorong ranjang. Di atasnya seorang pasien sedang meradang.
            Tidak, tidak. Perempuan berkerudung itu tidak sedang meradang. Ku lihat mulutnya berkomat-kamit, entah apa yang dilantunkannya.
            Astaga! Aku hampir melupakan kakinya. Kaki perempuan ini terluka, parah sekali. Sepertinya tertimpa reruntuhan puing-puing.
            Tapi aku heran, kenapa darahnya tidak begitu banyak. Tunggu dulu! Aku bukannya berharap seliter darah segar mengucur deras dari kaki perempuan bermata bulat ini. Sungguh, ini di luar nalarku! Berpuluh-puluh tahun aku menekuni profesi sebagai dokter ortopedi di Indonesia, belum pernah sekalipun aku menemukan hal seperti ini. Biasanya, seseorang yang kakinya hancur akan mengeluarkan darah yang sangat banyak hingga dirinya pingsan. Tapi pasien ini tidak, ia begitu tenang.
            “Apa yang Anda ucapkan?” Aku bertanya kepada perempuan yang sedang ku tangani ini.
            Ku coba menyentuh kakinya. Darah merah di kakinya kontras sekali dengan kulitnya yang putih, kulit khas Palestina.
            Ahad… Ahad… Ahad….” Katanya.
            “Allah itu Esa. Allah penolongku!” Ia terus mencerocos.
            Aku tersentak mendengarnya. Ini bukan kali pertama aku mendengar kata-kata itu, maksudku di dalam ruangan 15 x 25 meter ini, aku sering mendengar kata-kata itu.
            Where are you from?” Tanyanya.
            Aku menjawab dengan isyarat, menujuk badge merah putih yang terpatri di lengan baju kananku. Lalu, senyum mengembang di wajahnya.
Aku tahu apa yang ada di pikiran perempuan cantik ini, dan aku tahu alasan ia tersenyum. Pertama kali aku menginjakan kaki di bumi Palestina ini, semuanya terkaget-kaget.
“Anda jauh-jauh datang dari Indonesia, hanya untuk membantu kami!” Ucap dokter kepala di ruangan ini. Lalu, dibuntuti kata-kata berikutnya.
“Kami senang mempunyai saudara dari Indonesia…. Pasti di negaramu sangat mudah untuk mendirikan sholat… tidak diganggu desingan peluru atau roket….”
Aku sudah lama tahu dari media bahwa, rakyat Palestina benar-benar tulus mencintai Indonesia, saudara seimannya, tapi baru kali ini ku dengar langung dari mulut muslim di sini.
Aku berlanjut mengurusi luka pasien cantik ini. Luka perempuan ini cepat kering, sama dengan luka pasien-pasien lain yang tidak cepat membusuk.
            Sekarang, perempuan itu sudah beristirahat. Ia baru saja ku bius. Aku yakin, masih banyak hal yang ingin disampaikannya, tapi keadannya mencegahnya untuk berbicara terlalu banyak.
            Setelah selesai ku perban kakinya, aku tertunduk di ranjangnya. Aku menyeka keringat. Tiga hari ini banyak hal-hal ganjil yang ku temui.
x
Disinikah Cahaya Islam Itu! (Afifa)
Kami dilarang masuk! Kami harus melakukan negosiasi panjang dengan Hamas. Setelah dijelaskan oleh juru bicara kami, akhirnya mereka mengerti.
            Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mengorek informasi dari mereka. Siapa sebenarnya pejuang Hamas itu?
            “Kenapa wajah Anda ditutup?” Tanyaku. Said, juru kamera, sudah siap. Ini live! Jadi tidak ada pengulangan.
            “Kami tidak ingin dikenali, kami tidak ingin riya, kami berjuang karena Allah!” Ucap salah seorang dari mereka dengan bahasa Arab yang fasih.
            Kalau aku tak salah hitung, jumlah mereka ada sepuluh orang. Ku kira mereka semua adalah armynya Palestina, ternyata bukan. Mereka terhimpun dari berbagai profesi yang berbeda, ada dokter, dosen, professor, dan profesi lainnya.
            Sungguh, mereka adalah pejuang yang hebat. Di tengah malam yang buta ini mereka rela meninggalkan anak, istri, dan keluarga yang disayangi untuk menjaga keamanan wilayahnya. Menjadi pejuang Hamas, berarti siap mati, katanya.
            Aku tak sengaja melirik granat di kaitan celana laki-laki yang sedang ku wawancarai ini. Said lalu mengerlingkan matanya kepadaku, memberi kode. Aku mengerti.
            “Granat ini, apa kalian buat sendiri?” Todongku.
            “Ya. Kami tak sengaja menemukan granat. Granat itu lalu kami pelajari, kami bongkar, dan kami rangkai sendiri.” Ia mengusap gerigi granat di tangannya.
            Aku takjub dengan kecerdasan mereka. Di tengah blockade seperti ini, tak mungkin rasanya mereka memperoleh bantuan peralatan perang dari luar. Mau tidak mau, mereka harus membuat sendiri.
            Wawancara ditutup. Kami tidak bisa melakukan wawancara terlalu lama. Crew segera mengemasi semua peralatan liputan. Kali ini, kami akan melanjutkan perjalanan menelusuri terowongan di Gaza. Ahmad, bos ku, sudah mewanti-wanti kami ketika di Jakarta untuk membuat liputan yang menarik, jadi kami harus melakukan hal yang extraordinary.
            Aku bersiap untuk pengambilan scane pertama dengan kalimat pembuka yang menarik. Aku berdiri di tengah-tengah terowongan, dan Said berjarak satu hasta di depanku.
            “Lihatlah, betapa panjangnya terowongan ini….” Aku mengetuk-ngetukan tangan pada papan yang membidangi permukaan terowongan ini.
            Aku sedikit takut menelusuri terowongan ini. Tak terbayangkan, jika terowongan ini tiba-tiba runtuh.
            “Terowongan inilah yang digunakan rakyat Palestina untuk mengakses dunia luar.” Aku mengakhiri scane.
            “Sip!” Kata Said.
            “Besok kita lanjut ke rumah sakit.” Katanya.
            Rumah sakit? Ku rasa, sudah tak ada lagi rumah sakit di sekitar sini.  Kalau yang dimaksud Said tempat penampungan orang-orang sakit, benar adanya.
                                                                      x
Inikah Cahaya Islam Untukku (Merlyn)   
Aku sudah mendapat kabar bahwa, akan ada peliputan di tempat penampungan siang ini dari salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Ini kabar bagus, karena aku bisa mengirim kabar untuk Mama di Indonesia yang selalu mencemaskan kedaanku.        Hampir dua bulan aku di Palestina menjadi relawan medis, dan selama itu pula aku belum bisa menghubungi Mama. Aku ingin menyapa Mama dulu, sebelum pulang akhir Februari ini.
            Miss Merlyn, sebentar lagi rombongan reporter dari Indonesia akan datang. Bisakah anda menjadi juru bicaranya dan membantu menerjemahkan?” Pinta dokter kepala.
            Aku menyanggupi.
            Pukul satu siang, seorang perempuan berkerudung hitam, berwajah Asia, memasuki camp, diikuti oleh seorang laki-laki di belakangnya. Inikah reporternya? Aku tak menyangka reporternya seorang perempuan.
            “Afifa.” Katanya memperkenalkan diri.
            “Merlyn.” Aku menjabat tangannya.
            Sedikit basa-basi. Langsung saja ku giring dua orang ini mengelilingi camp. Hal pertama yang mereka sorot adalah anak-anak.
            “Bolehkah saya mewawancarai anak ini?” Pintanya.
            “Boleh. Asalkan tidak terlalu lama.” Aku lalu berdiri di belakangnya.
            Bocah laki-laki yang diwawancarai Afifa kondisinya sudah cukup sehat, beberapa hari lalu tangannya diamputasi. Namanya Faiz, umurnya baru tujuh tahun. Ia adalah anak yang ceria, walaupun kehilangan satu tangan kananya, tapi senyuman tak pernah luntur dari wajah polosnya.
Afifa memperkenalkan diri, lalu sedikit berbasa-basi, dan satu-persatu melontarkan pertanyaan.
            “Faiz bercita-cita menjadi apa?” Pertanyaan standar untuk anak kecil.
            “Ingin menjadi Brigade al-Qassam.” Ungkapnya.
            Aku dan Afifa saling berpandangan. Siapa sangka jawaban Faiz di luar pikiran anak-anak pada umumnya. Di saat anak-anak lain, dibelahan bumi yang lain, bercita-cita menjadi dokter, guru, atau sebagainya, Faiz justru bercita-cita menjadi pejuang Hamas untuk membela negaranya.
            “Kenapa bercita-cita menjadi Brigade al-Qassam, emang Faiz tidak takut dengan Israel?”Afifa semakin menelontarkan pertanyaan retorik.
            “Tidak. Saya ingin menjadi pemberani. Saya ingin melindungi Ibu, adik-adik, dan mempertahankan wilayah umat Islam.”
            Lagi-lagi aku tersentak. Bagaimanakah anak sekecil ini bisa berbicara seperti itu? Begitu kuatkah imannya? Bagaimana dengan diriku? Perlahan-lahan cahaya itu menyusup dalam sanubariku. Aku mulai mempertanyakan keimananku. Siapakah yang aku imani selama ini?
            Setelah melakukan wawancara, aku menyeret Afifa ke ruangan konsumsi. Aku ingin berbicara panjang lebar padanya. Walaupun Afifa orang yang baru ku temui, tapi aku merasa nyaman bercerita kepadanya.
            “Jadi kamu non muslim?” Afifa tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Tapi aku yakin, ia sudah menduga sebelumnya lantaran melihat kerudungku yang asal-asalan.
            “Rasa kemanusiaanlah yang membawaku ke sini. Dalam memberikan pertolongan, aku tak pernah memandang ras. Bagiku, siapun dia, dibumi manapun ia tinggal, apapun warna kulitnya, kalau ia lagi kesusahan, maka wajib ditolong.” Aku menjelaskan dengan gamblang pertanyaan tersirat Afifa.
            Mata Afifa berkaca-kaca.
            “Afifa, tolong tuntun aku mengenal Islam!” Afifa menghambur dalam pelukanku, air matanya tumpah.
x
Siapapun Bisa Menemukan CahayaNya (Afifa)
Siapapun bisa menemukan CahayaNya. Ia datang dari jalan yang tak disangka-sangka. Beruntunglah orang-orang yang menemukannya.
Ku akhiri ketikan di kalimat penutup ini. Ini bukan ‘artikel wajib’ yang akan dimuat Ahmad, ini hanya artikel tambahan. Artikel tentang seseorang yang menemukan Islam di bumi Palestina. Merlyn. Aku ingin mengukir kisahnya.
Setelah beberapa jam lalu ku antarkan ia kepada salah seorang Imam Masjid, ku yakin, ia sekarang sedang khusyuk menekuni Islam. Semoga ia semakin menemukan cahayaNya.
 “Afifa, sedang apa anti?” Said menyapa dari balik tenda.
Nothing. Aku baru saja menyelesaikan satu artikel.” Jawabku santai.
“Bisakah, anti ke sini sebentar? Ana butuh komentar untuk hasil liputan kita tadi.” Aku memakai kerudung dan menghampiri Said di luar tenda.
Good job!” Puji ku, setelah melihat hasil editan Said.
“Merlyn, apakah ia akan pulang bersama kita lusa?” Tanya Said tiba-tiba, ia tidak menanggapi pujian ku.
“Mungkin beberapa hari lagi, tugasnya belum selesai.”
Kami terdiam. Bergumul dengan pikiran masing-masing. Begitu banyak keajaiban di tanah ini, dan Merlyn adalah salah satunya. Aku masih belum mengerti, kenapa ia mau mengungkapkan kisahnya padaku.
Tiba-tiba… aku mendapat kabar yang mengejutkan. Roket baru saja jatuh beberapa meter dari tempat penampungan orang-orang sakit. Merlyn? Kami berpacu ke sana!
Suasana kacau balau, Said terseok-seok membawa kamera, tak mudah meliput dalam suasana seperti ini. Tidak, bukan liputan lagi yang ada dalam pikiran kami. Tapi saudaraku. Merlyn, apa kabarnya di sana?
Langit berubah cerah, di selatan seonggok cahaya kuning berkoar-koar, bekas letusan roket. Roket menari-nari di udara, tapi kami terus berlari.
Tendaku cukup jauh dari tempat Merlyn. Keadaan sudah cukup tenang ketika kami sampai di sana. Tapi tidak ku temukan Merlyn, sangat susah mencarinya. Aku memaksa masuk camp yang penuh sesak itu. Oh no, jangan sampai! Harus ku cari kemana lagi ia, aku tak dapat menghubungi teman relawannya yang lain. Ia tak meninggalkan jejak.
Ya Allah, dia baru mengenal cahayaMu, akankah Kau ambil ia? [*]

Cerpen Oleh: Nelvianti

Rabu, 03 Juli 2019

Semong



Semong rume rumemu
Linon awak awakmo
Elaik keudang keudangmo
Kilek suluh suluhmo
            Berkulit putih kemerahan, dan bermata sipit, itulah kecantikan khas Asia yang aku miliki. Kecantikan dari penduduk pulau kecil yang berjarak ratusan kilometer dari daratan Aceh, Simeuleu. Ya, aku dilahirkan di Kabupaten Simeuleu, yang penduduknya menjaga ketat adat istiadat secara turun-temurun. Kau tahu, gadis-gadis Simeuleu itu sangat cantik-cantik! Selain cantik, kami juga memiliki budaya yang bisa ditempatkan sejajar dengan masyarakat luar pulau. Kami memiliki bahasa tersendiri, bukan bahasa Aceh. Kami memiliki kekayaan tak ternilai, hamparan laut  luas dan pantai indah. Dan kami memiliki kearifan lokal yang terkenal sampai ke seluruh dunia. Kami membuat penasaran berbagai media, peneliti, hingga wisatawan.
            Kalau boleh bercerita sedikit saja tentang pulau ku, akan ku ceritakan. Pulau ku tidak kalah indah dengan pulau Bali, juga banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Sebut saja penulis Belanda, Martinus Nijhoff yang sampai melakukan riset di pulau ku tentang kearifan lokal yang kami miliki. Kearifan lokal yang kami jaga lebih memikat perhatian dunia daripada wisata selancar, wisata pantai, danau, atau bahari yang kami suguhkan.
            Kalau kamu ingin tahu seperti apa pulau ku, kamu dapat menempuh dua alternatif perjalanan untuk sampai di sini.
            Pertama, lewat jalur laut. Kamu bisa menaiki kapal feri dari dua lokasi di pesisir selatan Aceh, Singkil dan Labuhan Haji dengan harga tiket berkisar Rp 70-80 ribu. Waktu yang kamu habiskan sekitar 8-10 jam.
            Kedua, lewat jalur udara. Kamu harus merogoh kocek lebih banyak untuk melewati jalur ini, Rp 500-650ribu dari Bandara Kuala Namu, Medan ke Bandara Sinabang Lasikin.
            Kalau kamu sudah sampai di pulau ku, kamu akan kami sambut. Kami sangat terbuka dengan masyarakat luar pulau. Jika kamu termasuk tamu nan ramah, maka cerita demi cerita akan meluncur begitu saja dari mulut Chik Oemar. Lagi-lagi cerita itu tidak jauh dari kenangan di masa tragedi 2004 silam.
26 Desember, 2004
            Air laut surut jauh! Aku melihat Chik Oemar berlari dengan sangat kencang ke bukit. Sesaat, syair itu terdengar. Aku dan para penduduk bergegas mengikuti Chik Oemar ke atas bukit―beruntung, pulau ku dipenuhi oleh perbukitan di sekelilingnya.
Semong rume rumemu,
Linon awak awakmo.
Elaik keudang keudangmo,
Kilek suluh suluhmo.
Semong air mandimu,
Gempa ayunanmu.
Petir adalah gendangmu,
Halilintar adalah lampu-lampumu.
            “Zulfikar… mana Zulfikar?” Aku berteriak histeris, ketika tak ku temui adik ku diantara rombongan kami.
            Aku berbalik lagi, tapi Nek Pinah memegang tanganku, erat sekali!
            “Biarkan Bang Sofyan yang mencari Fikar!” Bentak Nek Pinah, ketika melihatku masih bersikeras mencari Fikar.
            Aku terduduk, lantunan Nandong berdenging di telingaku. Jerit, tangis, semua menyeruak menjadi satu. Hilang arah. Aku berputar-putar di kerumunan penduduk, mata ku nanar. Lantunan Nandong, kuasa membawa pikiran pendengarnya melayang-layang. Ombak, pasir, hingga karang, seolah turut berbicara seiring lantunan Nandong yang sesekali lirih dan sesekali melengking tinggi. Di beberapa bagian nadanya seperti meratap, di bagian lain bernada garang seolah siap untuk berperang.
            Dalam nada-nada Nandong yang dilantunkan Chik Oemar, tersimpan kepasrahan dan pengakuan atas kekuatan alam dan laut nan sangar. Dalam lengkingnya seolah mewakili kekuatan bahwa, kami adalah makhluk ciptaan Yang Maha Kuat yang selalu siap menghadapi tantangan.
            Seketika pikiran ku melayang, terngiang-ngiang ketika Zulfikar melantunkan Nandong saat melemparkan kail ke laut, berharap mendapatkan tangkapan yang banyak. Ketika Zulfikar menggembala kerbau di pinggir-pinggir pantai, menundukkan hewan piaraan kami yang bertubuh besar itu dengan syair nandong yang dilantunkannya. Hingga pertunjukkan Nandong satu malam penuh pada pesta pernikahan, khitan, syukuran, dan acara-acara khusus lainnya, bagaimana dua orang memukul dua gendang di antara tiap lirik senandung. Semuanya berseliweran di pikiranku.
            Aku tak yakin Zulfikar tidak mendengar lantunan Nandong. Nandong erat kaitannya dengan Semong. Ketika ‘alarm’ Semong diteriakkan dari mulut ke mulut, seketika penduduk berlari ke arah perbukitan. Tak mungkin Zulfikar tidak mendengarnya!
            Tujuh menit berlalu, Chik Oemar tiada henti-hentinya melantunkan Nandong. Dengan mata terpejam Chik Oemar seakan mengalami semacam ekstase. Di sini efek magisnya akan mengalir kepada siapa saja yang mendengarnya, termasuk kepadaku. Nandong memiliki efek magis yang sulit dilukiskan.
            “Pastikan semua penduduk sudah naik ke atas bukit!” perintah Nek Pinah. Istrinya Chik Oemar ini berseru dengan lantang.
            “Ada berapa kepala keluarga di sini? Coba hitung, apakah ada anggota keluarga yang kurang.” Lanjutnya.
            “Adiknya Rheina belum ditemukan.” Ku dengar salah seorang berseru dari kerumunan.
            “Ya, aku sudah tahu!” Nek Pinah tergopoh-gopoh menghampiriku.
            Aku tidak bisa berbuat apa-apa setelah dilarang keras oleh Nek Pinah.
            “Kau tidak percaya kepada Yang Maha Kuasa yang telah menitipkan kebudayaan luar biasa pada kita?” Nek Pinah mendekap bahuku.
            “Kau masih ingat, bagaimana Martinus Nijhof mencatat sejarah? 4 Januari 1907, pada masa itu masyarakat Simeulue memang belum mengenal istilah tsunami. Laut yang tiba-tiba surut menjadi daya tarik tersendiri bagi nenek moyangmu kala itu….” Aku tersentak mendengar Nek Pinah menyebut kata nenek moyang.
            “…Mereka malah berlain ke arah pantai berebut ikan-ikan yang terdampar tersebut, mugkin mereka pikir akan menemui lobster juga di sana. Tapi lihatlah sekarang, tidak ada satu orang pendudukpun yang mendekati bibir pantai!”
            Aku tak pernah meragukan itu Nek Pinah, batinku. Aku tak pernah meragukan itu, walaupun infrastruktur telekomunikasi di Kabupaten Simeulue sangat terbatas. Aku terus terpekur, lututku bertumpu pada tanah merah.
            Martinus Nijhof, ketika Nek Pinah menyabut nama itu, aku teringat lagi bukunya. Buku Belanda itu, ‘S-Gravenhage’. Aku pernah membacanya! Penggambaran tsunami yang menderu-deru dari arah laut lepas, melibas sebagian besar masyarakat pada abad itu. Masyarakat yang selamat menjadi saksi mata atas kejadian semong dan menuturkannya untuk generasi mendatang agar berhati-hati terhadap kejadian serupa.
            Hal itu telah melakat kuat dalam benak kami. Bagaimana tidak? Potongan syair itu adalah senandung pengantar tidur kami setiap hari. Zulfikar yang berumur sembilan tahun pun hafal syairnya. Seluruh desa yang terdapat di Simeulue hafal seluruh lirik di dalam syair Nandong ini.
            “Smong… Smong DATANG!” Teriak penduduk di belakang ku, mereka menunjuk-nunjuk ke arah gelombong tinggi besar yang menggulung.
Enggel mon sao curito! Inang maso semonan, manoknop sao fano, uwi lah da sesewan. Unen ne alek linon, fesan bakat ne mali, manoknop sao hampong, tibo-tibo mawi. Anga linon ne mali, uwek suruik sahuli, maheya mihawali, fano me singa tenggi. Ede smong kahanne. Turiang da nenekta, miredem teher ere, pesan dan navi da.
Dengarlah sebuah cerita! Pada zaman dahulu, tenggelam satu desa, begitulah mereka ceritakan. Diawali oleh gempa, disusul ombak yang besar seluruh negeri, tiba-tiba saja. Jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segerah cari, tempat kalian yang lebih tinggi! Itulah smong namanya. Sejarah nenek moyang kita, ingatlah ini betul-betul, pesan dan nasihatnya.
            Chik Oemar menyudahi lantunan Nandongnya. Ia berdiri tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
            “Zulfikar….” Batinku bergejolak lagi!
            “Kakak… tiba-tiba Zulfikar menyeruak dari balik kerumunan!” Tangan kecilnya langsung merengkuh badanku.
            Ternyata Bang Sofyan telah berhasil menemukan Zulfikar. Keyakinan ku benar, Fikar mendengar syair itu. Bahkan ia lebih dulu naik ke atas bukit daripada ku. Aku saja yang kepanikan tak menemukannya.
            Semong rume rumemu
            Linon awak awakmo
            Elaik keudang keudangmo
            Kilek suluh suluhmo
            Chik Oemar. Kenapa ia begitu tenang? Apakah ia sudah yakin semua penduduk selamat? Aku tahu, diam adalah sifatnya. Ia berbicara lewat mata. Lihatlah, mata hitam jelaganya menantang gulungan ombak raksasa itu! Tak ada tersirat ketakutan sedikitpun di wajahnya. Aku yakin, ini bukan karena sombongnya pada Yang Kuasa. Tapi ini karena perasaan yakin yang mengakar kuat. Seolah-olah Chik Oemar ingin berkata, lihatlah… walaupun ada satu radio di sini, kami tak sulit melakukan mobilisasi masa dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit.
            Aku selalu diajarkan oleh Chik Oemar yang tak banyak bicara ini untuk selalu menjaga budaya, memegang teguh adat istiadat kami! Hari ini semua perintah darinya itu terjawab, kenapa kami harus menjaga Semong dan Nandong sebagai kesenian tradisional kami!
            Lihatlah, bagaimana dari atas perbukitan ini kami menyaksikan keganasan gelombang tsunami menyapu seluruh desa, menghancurkan perumahan, sawah, dan ladang. Ada perasaan campur aduk di sini, di lubuk hati ini.
            Bukan masalah kami harus bertahan di tenda pasca tsunami ini, tapi masalah saudara kami dia Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Utara, Banda Aceh, dan beberapa kabupaten atau kota lainnya. Bagaimana nasib mereka?
            Hanya sekejap, semuanya berlalu. Menyisakan hamparan lumpur bersampah, hanya satu dua pohon kelapa yang masih berdiri tegak. Pias. Wajahku kebas menyaksikan semua ini. mungkinkah ada saudara kami di antara gelimang lumpur itu. 
***
            Di balik tangis ini, aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Meski gempa bumi dan tsunami 2004 berpusat di Simeulue, tapi jumlah korban di pulau ku paling sedikit dibanding kawasan Aceh lainnya. Nyaris sulit dipercaya, ketika belahan Aceh lainnya menelan korban jiwa lebih dari dua ratus ribu jiwa, di Simeulue hanya terdapat enam orang yang meninggal akibat tsunami pada saat itu. Kecuali dari sisi harta benda, kami mengalami kerugian berupa hancurnya sekitar 1.700 rumah.
            Sebagian besar penduduk di pulau kami selamat hanya karena kami memiliki ‘alarm tradisional’ yang kami sebut dengan “Semong” atau “Smong”. Kata Smong adalah kata sandi yang dipahami bersama oleh seluruh penduduk pulau ini untuk melukiskan terjadinya gelombang raksasa setelah terjadinya gempa besar. Kami bukan hanya sekedar memahami kata tersebut, tetapi kami juga memahami tindakan apa yang harus kami lakukan apabila peristiwa tersebut terjadi. Kami hanya cukup mendengar satu sandi yang dilantunkan, maka kami akan bergerak dengan kecepatan tinggi walaupun kami berada pada daerah yang terpisah-pisah.
            Semong telah mengalami proses pengendapan yang lama sehingga lambat laun menjadi memori kolektif dalam bentuk sistem nilai masyarakat. Nandong sebagai sebuah seni tradisi lisan masyarakat kami memegang fungsi penting dalam membangun memori kolektif tersebut. Nandong dalam masyarakat Simeulue tidak hanya menjalankan fungsi klasik pantun atau syair yaitu sebagai media penyampai isyarat, pendidikan, pencatat sejarah dan hiburan. Nandong telah sampai pada fungsi tertinggi budaya lisan yaitu pembangun memori kolektif masyarakat.
            Kawasan kami paling kecil mencatat angka korban. Maka tak heran masyarakat dunia memberikan penghargaan SASAKAWA AWARD kepada kami. Nandong seolah membawa pesan kepada dunia bahwa, dengan menjaga budaya, membuat nyawa kami terjaga.

Cerpen Oleh: Nelvianti




Sepotong Cinta di Abu Dhabi



Jakarta, 12 Desember 2012
            Hujan.
            Aku suka hujan. Hujan mengingatkanku padanya. Sedari tadi aku masih duduk mematung di kursi menghadap ke luar jendela. Di jendela bias-bias hujan menepi. Buram, seperti hatiku. Aku masih bisa menikmati secangkir kopi―yang biasa ku nikmati dengannya. Secangkir kopi hangat yang masih mengepul asapnya. Aromanya wangi, tapi tak sewangi hatiku.
            Hujan.
            Terus mengguyur. Pandangan di luar sana berkabut. Sederet pengendara motor menepi, beberapa kendaraan berputar mengelilingi bundaran seakan terhisap oleh pusarannya. Aku berdiri, mempertajam pandangan.  Menempelkan badanku ke kaca, dingin. Aku merapatkan jaket. Ku bayangkan nanti dalam keadaan seperti ini, ia akan mendekapku dari belakang.
            Segera ku beristghfar, mengusir khayalan ini. Aku sadar, aku belum halal baginya.
            Aku menarik nafas, masa-masa ini sangat sulit bagiku. Setiap melihat hujan, kopi, dan ruangan ini, aku selalu terkenang dengannya. Ia, yang mempunyai hobi yang sama denganku. Pecinta hujan, penikmat kopi, dan pencipta suasana romantis.
            Ku lirik jam, 14.00 WIB. Dan saat ini mungkin di Abu Dhabi sedang menunjukkan pukul 19.00. ada perbedaan waktu 19 jam. Ah, calon imamku… sedang apa engkau di sana?
***
            Pertunangan itu baru seminggu yang lalu dicetuskan. Sebenarnya tidak ada kata pertunangan dalam Islam menurut murabbi ku di pesantren. Yang ada hanya hibah, menentukan waktu pernikahan dalam waktu dekat, dan selesai. Sudah sah sebagai suami istri. Lalu, secepat itukah? Ku rasa tidak. Mengingat proses yang aku alami sekarang.
            Aku tak mengenal lelaki itu. Aku mengenal lelaki itu hanya sebagai teman kakakku. Suatu hal yang kebetulan. Kak Gio pernah bercerita kepadaku bahwa ia mempunyai teman lelaki di Abu Dhabi, sama-sama dari Indonesia. Aku tidak menggubris. Mungkin karena pikiranku waktu itu tidak terfokus pada pernikahan. Dan lelaki bukanlah hal yang menarik bagiku, tepatnya memikirkan lelaki bukanlah hal yang menarik bagiku saat itu.
***
            Sudah satu jam, aku berdiri di sini. Sepertinya tidak ada tanda-tanda pasien yang aku obati. Jadi biarlah ku nikmati kesendirian ini dulu. Ruangan ini cukup nyaman bagiku. Ruangan berasitektur putih, mulai dari keramik, cat tembok, dan furniture. Aku yang memintanya.
            Putih? Putih itu suci bagiku. Seperti cinta kami, selayaknya begitu. Tidak akan pernah ku nodai. Seperti aku yang selalu menjaga diri ini. Aku tidak ambil pusing soal teman-teman atau pasienku yang berceloteh.
            “Ibu dokter cantik, apa sudah punya pendamping?” pendamping? Masih layak didengar daripada kalimat ini.
            “Kamu itu cantik Yasmin, tajir, cerdas… tapi kok gak mau pacaran sih, kan banyak cowok yang naksir kamu? Kenapa kamu tolak semua?”
            Ku rasa, aku tak harus menjelaskan tentang hal ini kepada teman-temanku. Selayaknya mereka mengerti prinsip hidupku. Mungkin hijabku tidak terlalu sempurna, tapi untuk hal yang satu ini―pacaran―aku katakan, tidak!
            Aku memang mempunyai banyak teman, itu karena aku berusaha membuka diri. Dan pekerjaanku memang mengharuskan demikian. Dulu, semasa kuliah di Jogja, aku mengurus bisnis Papa. Bisnis di bidang kuliner, Rumah Makan Padang. Restoran ke lima Papa ini berkembang pesat di Jogja, cukup membiayai uang kuliahku di yang membengkak tiap semester.
            Papa.
            Aku mendesah lagi. Apakah aku harus menikah bulan ini?
            Aku melirik setumpuk dokumen yang tertata rapi di mejaku. Itulah berkas-berkas yang aku bawa nanti ke Kalimantan. Impian, pengabdian, dan cinta, seharusnya melebur menjadi satu. Tapi jika aku memilih mengabdi, maka untuk sementara cinta harus bersabar menunggu. Namun, bisakah diterima calon imamku? Aku tahu, menunggu bukanlah hal yang diinginkan laki-laki.
            Aku kembali ke kursi, menghempaskan badan.  Kursi ini ku putar-putar, seperti otak ku yang berputar-putar mencari solusi. Mama sudah membicarakannya denganku.
            “Mama tidak masalah… lebih baik kamu komunikasikan dulu keputusanmu dengan calon suamimu, karena biar bagaimanapun kalian yang akan melaluinya berdua.”
            “Ya Ma, aku paham.”
            Untuk beberapa saat kita termenung. Dia ada di hadapan ku. Tapi kami tak berdua, di meja makan di balik lemari hias ada Mama yang memantau kami dari jauh. Kita sama-sama diam. Aku, dan diapun juga.
            Ayolah, aku ingin mendengar keputusan dari mulutmu. Untuk saat ini tak ada yang bisa ku katakan.
            Aku tahu ini sangat berat bagimu. Kamu meninggalkan pekerjaanmu untuk sementara demi aku, berharap bisa mengurus segala tetek-bengek untuk pernikahan secepat mungkin. Tapi, aku malah mengabarkan bahwa kita harus menunda pernikahan ini. Karena aku sudah menekan kontrak untuk mengabdi di Kalimantan selama enam bulan, dan selama itu aku dilarang menikah.
            Aku kembali berdiri menghadap jendela. Hujan belum berhenti. Jakarta selalu menawarkan kesibukkan, dari lantai lima rumah sakit ini semuanya terlihat jelas. Rumah sakit yang menjajikan pundi-pundi uang. Rumah sakit seperti ini yang membuat teman-temanku tidak mau mengabdi di pelosok sebagai sukarelawan.
            Aku terlahir memang sebagi orang yang mempunyai rasa sosial tinggi. Bukannya menyombongkan diri, aku penyuka anak-anak dan sangat terenyuh melihat Ibu-ibu hamil yang berjuang keras untuk jabang bayinya, karena itu aku mengambil spesialis kandungan.
            Mungkin ini juga hal penarik bagi Yusuf―calon imamku. Salah satunya iya. Tapi faktor utamnya bukan itu. Mata ini. Kata Mamanya, mata lentik khas Arab yang ku miliki yang mampu menghinoptisnya ketika pertama kali pandangan kami bersirobok di depan rumahnya waktu itu.
            Aku yang posisinya waktu itu sedang berlibur di rumah, dalam masa-masa menyusun skripsi. Di rumah aku biasa membantu Mama memasak, karena aku memang hobi memasak―hobi inilah yang membuatku mampu mengelola usaha kuliner Papa.
            “Yasmin… daun pandannya gak ada ini Nak, Mama lupa beli daun pandan. Udah gak keburu beli nih, kolaknya udah mau masak. Coba minta aja ke rumah Tante  Sumi yang dekat.”
            Dalam kondisi ini Tante Sumi yang baik ini selalu menjadi tumpuan harapan kami.
            “Tante, Mama… mau minta daun pandan.” Aku mencabuti beberapa daun pandan yang rimbun di halaman rumah Tante Sumi.
            “Terima kasih Tante.”
            Seketika darahku berdesir, melihat sesosok pria tinggi dan berkulit putih ke luar dari rumah Tante Sumi. Sesaat kami tak berkedip, lalu aku menundukkan pandangan untuk detik selanjutnya.
            “Siapa Ma?” kata lelaki itu.
            “Itu anaknya Bu Ani, masa kamu gak tahu?”
            “Berarti adiknya Gio dong Ma?”
            Tante Sumi hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan anaknya.
            “Cantik ya Ma?”
            “Kamu suka Yusuf?”
            “Mama, mau melamarkannya untuk Yusuf gak?”
            Beberapa hari setelah itulah pertunangan terjadi.
            “Gio, kok antum gak pernah bilang sih, punya adik secantik ini.” Candanya pada Kak Gio waktu itu.
            Aku menerimanya tanpa syarat waktu itu, mungkin karena itulah dia bersedia menungguku selama enam bulan. Penantian yang terasa panjang.
Kalimantan, 19 Desember 2012
            Di sini, pertama aku mengawali hari untuk enam bulan ke depan. Dia sudah kembali ke Abu Dhabi satu minggu yang lalu. Aku, Mama, dan Kak Gio yang mengantarnya ke bandara. Hanya setangkup tangan di dada dan seulas senyuman yang ku berikan. Karena jarak jualah diantara kami, jadi tidak ada pelukkan. Aku hanya bisa melihat dia yang menepuk bahu Kak Gio, seakan berucap,  jaga adikmu untuk ku.
            Kak Giolah orang yang sangat mendukung hubungan ini, dan menguatkan di masa-masa penantian ini.
            “Yusuf itu sahabat Kakak, Dek. Kita berteman semenjak kuliah, sama-sama mengambil jurusan Teknik Perminyakan ITB. Dan kita juga sama-sama lolos seleksi bekerja di Abu Dhabi. Jadi Kakak udah tahu baik dan buruknya Yusuf.”
            “Dia itu orangnya sholeh lo, Dek.” Kak Gio seperti melancarkan aksinya mempromosikan Yusuf kepadaku.
            Aku memang tidak terlalu mengenal Yusuf. Aku juga tidak terlalu mengenal Tante Sumi, pengetahuanku tentang Tante Sumi hanya sebatas bahwa, ia adalah tetanggaku di Jakarta yang berasal dari Solo. Aku tidak tahu kalau Tante Sumi mempunyai seorang anak laki-laki. Sebab, semenjak kuliah di Jogja aku hanya sesekali pulang ke Jakarta, ketika libur.
            Aku sendiri dilahirkan di Kuala Lumpur (KL) berbeda dengan Kak Gio yang dilahirkan di Jakarta. Perbedaan tempat lahir ini karena Papa mengelola lima restoran yang tersebar di lima kota,  KL, Jakarta, Padang, Bandung, dan terakhir Jogja. Sedari kecil kami selalu berpindah rumah mengikuti Papa.
            Aku tersenyum mengenang semua itu. Satu kata―sholeh―cukup bagiku untuk melepasnya beberapa bulan. Kepercayaannlah yang menjadi kunci utama dalam hubungan jarak jauh ini, hingga aku bisa melewati masa-masa sulit ini dengan apik.
Abu Dhabi, 25 Juni 2013
            “Sayang… kuncup bunganya bagus ya…?” ia berlari mengejarku.
            Ia menangkapku dari belakang, persis seperti yang ku impikan.
            Honeymoon ini sudah kami rancang sedemikian rupa―menjelajahi kota Abu Dhabi, kota tempat Kakak ku dan suamiku mencari nafkah. Untuk beberapa tahun ke depan aku akan tinggal di sini, mengikuti suamiku dan melepaskan perkerjaan ku di Indonesia. Mungkin anak pertama kita akan lahir di sini.
            Kita sudah merencanakan semua ini, semenjak ijab qabul terucap dari mulutnya beberapa hari setelah aku kembali dari Kalimantan.
            Indah sekali. Aku tergugu, mendengar suara merdunya melantunkan surat Ar Rahman sebagai maharnya untukku.

            “Sayang… kita cobain naik Roller Coaster di Ferrari World ini yuk!” tantangku.

            “Katanya ini Roller Coaster yang tercepat di dunia.”

            “Cepatan mana dengan cinta kita?” rayunya.

            Aku tersenyum. Ia menggamit tanganku.

            “Yasmin El Fasya… percayalah, Mas akan menjadi imam yang baik buatmu.”

            “Yasmin juga akan berusaha menjadi istri yang baik buat Mas.” Kami bergandengan  tangan menuju Roller Coaster.

            Penantian panjang ini, akhirnya berbuah manis.

Cerpen Oleh: Nelvianti
           
           




 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design