Selasa, 02 Juli 2019

Rencana Yang Tak Pernah Tersampaikan


“Kau tau Laka, Kara sudah memerintahkan untuk tidak melewati lembah ini! Barusan segerombolan manusia melewatinya untuk memata-matai kita.”
“Iya benar, tapi sayangnya kau baru saja meninggalkan tinjamu sebagai tanda. Itu akan semakin mempermudah mereka menemukan jejak kita.”
“Hei, kau jangan pernah berbicara soal kotoran ku di depan putri ku! Ini kan daerah kekuasaan ku, aku berhak menandainya.” Ia mengacak rambut Garna. Garna tertawa.
Mereka melewati jalur yang biasa dilewati sekedar untuk berjalan-jalan atau mencari sesuatu yang bisa dimakan, mengsisi perut yang keroncongan. Matahari sudah meninggi, sementara hanya segelintir buah-buahan yang dapat dimakan. Tak banyak membantu.
Mereka dua kepala keluarga yang bertanggung jawab atas perut-perut lainnya. Entah bagaimana mereka kerap menghabiskan waktu berdua, kadang mereka akur tapi lebih sering silang pendapat. Ya, dua kepala keluarga ini tak beda jauh keras kepalanya. Hanya sesekali di antara mereka bersikap bijaksana, lebih sering Laka.
“Dan kau jangan lupa, seluruh kawasan TNUK ini sudah dipasangi kamera pengintai, kau tidak ingat, videomu lagi mandi viral di kalangan mereka.”
“Aku lupa, teknologi semakin maju dan kita semakin tua.”
“Haha ... sudahlah nikmati saja, kita ini memang artis.”
“Lebih tepatnya karena kita istimewa dan terancam punah. Hei, kenapa juga raut muka mu berubah, aku sedang tidak membicarakan Samson. Oke, baiklah teman ... aku minta maaf.”
Semua tentu kenal Samson, kerabatnya yang baru meninggal beberapa waktu lalu akibat penyakit kolik atau torsio usus, yaitu usus besar dan usus kecil terpuntir (torso), sehingga mengakibatkan kerusakan pada usus besar, hingga bakteri mikroflora usus menghasilkan racun dan kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya.
Beruntung mayat Samson tidak ditemukan pemburu sehingga culanya masih utuh dan itu bisa menjadi salah indikator bagi manusia bahwa, Samson mati tidak dibunuh pemburu.
Namun dibalik semua ini, Laka dan kawan-kawannya menyadari hal tersebut sebagai takdir. Samson meninggal di usia 30 tahun dan rata-rata mereka memang berusia 30 – 45 tahun.
Pile tertunduk lesu, ia baru saja mendaratkan pantatnya di tepi kubangan lumpur. Tampangnya masygul.
“Kau benar, kita terancam punah. Kita salah dua keluarga yang bisa bertahan hingga saat ini. Itupun jika anak Krakatau tidak membuat ulah lagi.”
“Tapi kita termasuk hebat teman ... setidaknya kita selamat, sementara empat ratus nyawa manusia melayang karena tsunami kemaren.”
“Bukan kita yang hebat tapi Tuhanlah Yang Maha Pengasih dan Penyanyang yang masih melindungi kita.”
“Aduhhh!” Anak perempuan satu-satunya meringis.
“Hei, Garna hati-hati! Badanmu tidak cukup kecil melewati celah itu.”
Badan Garna tambun seperti badan Ayahnya dan memang demikian rata-rata badan keturunan meraka, sehingga mereka harus hati-hati melewati celah-celah kecil dengan semak belukar kalau tidak mau kulit mereka tergores ranting. Sebenarnya ini juga tidak terlalu berpengaruh buat mereka yang memiliki kulit bermozaik menyeruapai baja. Hanya sajamozaik di kulit Garna belum terbentuk sempurna. Ayahnya sudah melarang agar ia tidak ikut setiap Ayahnya berkelana mencari makan, ia bisa tinggal dan bermain bersama Luzo dan Razenda, tapi mereka juga jarang akur.
“Aku hanya ingin mencoba salto gaya terbaru Ayah.” Sesaat badan Garna berdebam di dalam kubangan lumpur, mencipratkan lumpur hitam ke wajah Laka.
Pile terkekeh.
“Maafkanlah kelakuan putri kecilku ini, Laka!”
“Upsss ... maaf Paman” Garna baru menyadarinya.
“Kata Ayah aku harus sering berendam untuk menjaga tubuhku dari serangan penyakit.”Jenius.
“Ayah, aku khawatir ... bagaimana kalau di tempat baru kita nanti, tidak ditemukan kubangan lumpur seperti ini.” Kini Garna menghadap pada ayahnya dengan rona wajah yang berubah.
“Tenang saja Garna, semua akan baik-baik saja. Tidak semua manusia itu jahat, hanya segelintir dari mereka yang tidak bertanggung jawab. Mereka pasti memikirkan nasib kita.” Laka ambil alih menjelaskan.
Rupanya isu untuk mencari second habitat yang dilakukan manusia sudah tersebar di kalangan mereka.
“Kamu yakin dengan rencana mereka, Laka?” Tanya Pile kemudian.
            “Masalah ini biar Kara yang menilai.”
            “Aku masih geram dengan ulah sebagian mereka yang menyerang moyang kita lima puluh tahun yang lalu.”
            “Sudahlah Pile, kita harus segera pulang!”
Tiga ekor bertubuh molek itu pun berlenggak-lenggok dengan anggunnya menelusuri jalur yang sama setiap harinya, terkadang mereka keluar jalur sehingga video trap tidak berhasil megabadikan momen mereka.
Saat bergabung dengan gerombolannya, mereka memulai rapat yang cukup serius, mengenai rencana hijrah mereka, lebih tepatnya bukan rencana mereka tapi rencana manusia seperti yang Pile katakan. Apa yang bisa gerombolan ini lakukan? Dua kepala keluarga dan seekor tetua yang mereka hormati, Kara. Demikian namanya, ia hidup sebatang Kara semenjak ditinggal dua orang yang paling dicintainya di dunia, ayah dan ibunya yang menjadi korban kebiadaban pemburu dua puluh lima tahun yang lalu. Saat itu umurnya belum genap lima tahun, saat mendapati ayah dan ibunya dibunuh lalu culanya dipotong oleh pemburu-pemburu rakus.
Cula mereka bernilai mahal, bisa mencapai tiga puluh ribu dolar per kilogramnya di pasar gelap, tapi Kara sudah lama memafkan kesalahan manusia. Hidup dalam keterbatasan adalah ketetapan hidup yang harus diterimanya, pada akhirnya jika harus punah, itu adalah bagian dari takdir katanya. Tetapi sebagai tetua, ia tidak bisa pasrah seperti itu. Batinnya bergejolak, apalagi melihat Garna, Luzo dan Razenda, dua anak Laka dengan Zaneba dan satu anak Pile. Sementara Kara sejak kejadian kelam tersebut sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan keturunan. Ia tidak akan mengambil keputusan kawin sedarah, toh jikalau ia berhasil mempunyai keturunan, ia hanya akan melahirkan keterunan yang lemah dari gen yang hampir sama. Kara sudah lama memikirkan hal itu, jauh sebelum manusia memikirkannya.
“Bagaimana ini, Kara? Kita tidak akan melakukan perjalanan panjang seperti yang dilakukan segerombolan dinosarurus di film ‘The Land Before Time’kan? Pile terkekeh.
Ia tidak bisa membayangkan akan bertemu predator ganas jika harus menjadi musafir. Tapi mereka tidak mempuyai musuh selain manusia, hanya saja sebagian besar dari mereka terlalu malu untuk bertemu manusia.
Rapat sudah berlangsung satu jam, namun kesepakatan belum juga dicapai. Melakukan perjalanan panjang tanpa bantuan manusia seperti yang ditanyakan Pile, tentu hal yang mustahil menurut Kara, apalagi dengan kondisi fisik Kara yang sudah tua dan anak-anak yang masih kecil. Namun manut pada keputusan manusia juga bukan perkara gampang, mereka harus merelakan manusia memilih diantara mereka untuk diangkut menggunakan transportasi canggih. Keluarga Laka yang paling memungkinkan kerena mereka memiliki bibit unggul namun mereka tak siap berpisah dengan Laka, Zaneba dan sepasang anak mereka yang lucu-lucu, terutama Pile, ia akan kehilangan teman bertengkar dan juga Garna akan kehilangan teman bermain.
Lihatlah, tiga ekor anak badak tersebut sedang asyik adu ketangkasan, mengasah cula mereka. Mereka berlarian, jatuh berdebam, lalu tertawa bersama.
“Kara, ternyata kau lebih kuat dari ku!” Puji Luzo.
“Yeaaah! Kata Ayah aku harus jadi anak perempuan yang tangguh dan pemberani agar bisa bertahan hidup di lahan yang sempit ini.” Kebiasan anak jenius selalu menjawab panjang lebar ketika ditanya.
            “Karena itu kau selalu ikut ayahmu setiap mencari makan, Garna?” Kali ini Razenda buka suara.
            “Tepat sekali, itu sangat menyenangkan Razenda. Mungkin lain kali kalian bisa mencobanya!” Ucap Garna riang.
            “Kami harus menjaga ibu kami, Garna.”
            “Razenda, stop! Kau akan membuat Garna sedih.” Cegah Luzo.
            “Sorry Garna, aku tak bermaksud.”
            “Tak apa Razenda. Kau tau cerita tentang Ibuku, Razenda, Luzo? Ayahku tidak pernah mau bercerita.”
            “Mmmh ... mungkin itu terlalu menyedihkan buat ayahmu, Garna. Eh, maksud ku ... ayahmu tidak mau membuatmu sedih.” Terbata Luzo menjelaskan alasannya.
            “Setidaknya aku bisa memastikan apakah ibu ku mati di tangan pemburu seperti orang tua Kara atau karena sakit seperti kata orang-orang.”
            “Karena sakit Garna. Baiklah, aku harus menjelaskan ... Kau tau, badak seperti kita gampang terserang penyakit.”
            “Ibu tidak meninggal karena melahirkan ku?”
            “Lebih tepatnya beberapa minggu setelah melahirkan mu.”
            Percakapan tiga anak badak tersebut terhenti sampai di sana. Kehilangan Ibu di waktu kecil membuat Garna tumbuh menjadi anak yang emosional, apalagi di bawah didikan ayahnya, Pile.
            Pertanyaan diotaknya tidak pernah terjawab, lebih tepatnya Pile tidak mampu menjelaskan.
            “Bagimana kita bertahan hidup, Ayah? Bagaimana kalau ayah nanti meninggalkan ku, aku hidup dengan siapa? Bagaimana aku menikah, Ayah?” Pile terbahak mendengar pertanyaan terakhir putrinya.
            “Kau terlalu dini memikirkan hal itu sekarang, Nak!” Masih terbahak.
            Tapi pasti Pile memikirkan pertanyaan Garna. Ya, agar tidak punah, mereka harus melanjutkan keturunan. Seketika ia terbayang Luzo. Buru-buru ia mengenyahkan pikiran itu, permasalahan di hadapan mereka sekarang adalah anak krakatau mulai aktif. Ini juga yang menjadi permasalahan manusia, hingga mereka berpikiran akan memindahkan Kara dan kawan-kawan ke habitat baru atau yang biasa mereka sebut second habitat.
            Rapat dilanjutkan. Jika mereka tidak menggelar rapat kecil secara tidak sengaja saat berjalan-jalan di dalam hutan seperti beberapa hari yang lalu, maka mereka akan menggelar rapat di rumah Kara.Rapat kali ini bisa disaksikan Zaneba, istri Laka dan anak-anak.
            “Sepertinya rencana manusia untuk memindahkan kita butuh waktu yang lama, Laka. Mereka harus memastikan bahwa tempat baru yang akan ditempati nantinya benar-benar sesuai dengan habitat asli kita.”
            “Ya, kau benar Pile, karena kalau tidak, itu sama saja dengan mempercepat kepunahan kita.”
            “Tapi bagaimana dengan anak krakatau yang mulai aktif? Kita tidak mungkin mengatur Tuhan untuk memperlambat terjadinya letusan tersebut.”
            “Aku merasakan manusia begitu menyayangi kita, Pile. Lihat, bagaimana mereka memikirkan untuk membuat ‘cadangan’ kita tapi mereka tidak berpikiran demikian untuk saudaranya sesama manusia.”
            “Mereka tidak perlu second habitat, Laka. Hampir semua tempat di bumi bisa mereka tinggali. Haha.”
            “Ya, dan jumlah mereka sangat banyak, tidak seperti kita.”
            “Kita harus lebih awas dari kemaren terhadap tanda-tanda tsunami.” Kara mengalihkan topik.
            “Kita lebih pintar daripada manusia membaca tanda-tanda, Kara.” Sanggah Pile dengan sombong.
            “Itu tidak bisa menjamin, jika kejadian 1883 kembali terulang. Bisa dipastikan seluruh kita akan punah.”
            Tidak ada yang bisa membayangkan bagaimana menyelamatkan diri dari dentuman maha dasyat yang suaranya saja sudah membuat tuli seketika. Kemungkinan menyelamatkan diri hanya bisa dilakukan jika ketinggian tsunami seperti Desember 2018 lalu.  Kara dan gerombolannya sudah bergerak menjauhi pantai ketika mereka mendenar suara aneh seperti suara gemuruh yang luput dari pendengaran manusia.
            Selain itu, selama ini mereka memang jarang beraktifitas di pantai. Mereka hanya butuh air garam sesekali. Kontur di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang merupakan bukit memuncak pada ketinggian lima ratus meter juga mebantu mereka terhindar dari sapuan ombak.
            “Ayah, boleh aku ikut rapat? Aku ingin menyampaikan sesuatu.”
            “Jangan sok pintar, Razenda!” Sergah Garna. Sifat angkuhnya muncul.
            “Oh, tentu boleh anak-anak ku. Garna ... kau juga boleh ikut.” Ucap Kara bijak.
            “Aku tidak akan mengusulkan apa pun kecuali aku dapat berkumpul dengan ibu ku kembali, lengkap!” Jawaban sinis dan Kara cukup memahaminya untuk anak seperti Garna.
            “Garna!!! Tidak bisa kau berbicara sedikit lebih sopan kepada Kara???” Pile menghardik putri tunggalnya.
            Garna menahan emosi, mukanya memerah dan bulir bening di matanya hampir pecah. Sebelum air itu benar-benar jatuh membasahi pipinya, Garna melarikan diri.Meninggalkan Pile yang terpaku.
            “Garnaaaa!!!” Luzo dan Razenda mengikuti.
            Zaneba berdiri dari duduknya, bersiap menyusul anak-anaknya. Segera dicegah oleh Pile.
            “Pile, kau tidak bisa terlalu keras dengan Garna.” Kara menasehati Pile.
            Pile hanya terduduk lesu, sebanarnya ia sendiri juga tidak tega. Tapi karakternya yang sama-sama keras dengan anaknya memuat ia kesulitan mengatur emosi ketika Garna mulai bertingkah.
            Semua terdiam dalam kebisuan. Prasangka mereka bahwa anak-anak akan kembali sebelum matahari terbenam ternyata salah, Garna, Luzo dan Razenda belum jua menampakkan batang hidungnya. Zaneba tampak paling menyesal, seharusnya dari tadi ia tidak menghiraukan larangan Pile. Jika sudah begini, ia hanya bisa merengek pada Laka. Laka hafal tabiat istrinya. Maka dengan segera ia berunding dengan Kara.
            Pile tanpa berpikir dua kali sudah lebih dulu masuk ke dalam hutan beberapa langkah.
            “Pile, tunggu!!! Kau jangan membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya dengan bertindak seenaknya!”
            “Apa kau bilang?? Bertindak seenaknya? Yang hilang itu anak ku!” Pile hampir menghantam dagu Laka dengan culanya.
            “Iya, tapi dua anak ku juga mengikuti anak mu!”
            Sebelum pertempuran hebat terjadi, Kara segera mencegah mereka.
            “Kita akan membuang banyak waktu, jika aku harus menyaksikan kalian bertarung!”
            Dua-duanya menyadari kekeliruannya dan segera mengatur emosi masing-masing.
            “Kita harus atur strategi.” Lanjut Kara.
            “Kita tidak bisa berpencar mencari anak-anak karena itu akan semakin menyulitkan kita. Bagaimana kalau kita bertemu kawanan pemburu? Pertahanan kita yang paling kuat adalah dengan tetap berkoloni, saling melindungi. Dan untuk Zaneba, tetaplah di tempat! Tunggu anak-anak, seandainya mereka pulang sebelum kami berhasil menemukannya!” Perintah Kara.
            Tiga badak jantan tersebut bergerak pelan tapi pasti, memasuki hutan, menelusuri jalur biasanya.
            “Aku khawatir, anak-anak akan keluar jalur Kara!” Ucap Pile memacah keheningan. Sedari tadi mereka hanya diam membisu, hampir satu jam perjalanan.
            “Ya, seandainya mereka tertangkap kawanan pemburu, video trap tidak banyak membantu untuk mengungkap identitas si pemburu.” Tambah Laka.
            “Tidak akan Pile, Laka. Kawasan TNUK kini dijaga sangat ketat sehingga jumlah kita bisa bertambah puluhan ekor dalam satu dasawarsa terakhir.” Kara menenangkan.
            “Tapi buktinya kita sendiri tidak tau kemana perginya dua kawanan kita yang tidak tertangkap video trap satu tahun belakangan.”
            “Pile, kecemasan mu tidak akan menyelesaikan masalah kan? Jadi berhentilah bicara yang tidak-tidak!” Ucap Kara tegas.
            “Maaf, Kara.” Pile pias.
            Sebenarnya kekhawatirannya beralasan, Garna adalah satu-satunya harta yang ia punya. Ia sudah berjanji pada almarhumah istrinya untuk menjaga Garna sepenuh hati. Tapi barusan ia membuat kesalahan, ia memang terlalu keras kepada Garna selama ini dan ia baru menyadarinya.Sementara Laka juga memikirkan hal yang sama, situasi semakin rumit dan pikirannya berkecamuk.
            Jauh di dalam hutan sana, di bawah pohon kayu yang rindang tampak tiga ekor anak badak bercengkrama. Tampang Garna masygul, ia menopangkan dagunya pada sebongkah batu. Luzo dan Razenda berusaha menghibur.
            “Aku hanya kangen ibu.” Rintih Garna.
            Luzo dan Razenda sudah mencoba berbagai cara untuk menghibur Garna dan membujuknya agar pulang ke rumah, namun tak dihiraukannya. Tak ada yang bisa dilakukan Luzo dan Razenda selain menemani Garna yang sedari tadi tidakpernah berhenti mengoceh, mengutuk takdir.
            Padahal sejatinya tidak ada yang bisa mengatur takdir, menebaknyapun tak bisa. Termasuk takdir yang akan terjadi pada mereka beberapa puluh menit kemudian. Dari tadi mereka abai tersebab kesedihan Garna dan mereka tidak terlalu mahir membaca tanda-tanda seperti orang tua mereka. 
            Di sisi hutan yang lain, tiga ekor badak jantan terus mencari anak-anaknya.
            “Kara, Pile, apa kau mendengar sesuatu? Seperti suara gemuruh?” Laka mempertajam pendengarannya.
            Kara yang lebih paham seketika mengeluarkan titah, “Percepat jalan kalian!”
            Laka dan Pile malah mendorong Kara dari belakang, membantunya berjalan lebih cepat, menaiki tanjakan. Tak dapat dipungkiri, tubuh tua Kara terlalu payah mendaki anak bukit yang ada di depan mereka. Ia tak dapat mengimbangi langkah Laka dan Pile yang masih gesit.
Suara gemuruh semakin jelas terdengar, nafas mereka memburu, pikiran Laka dan Pile terpecah antara menyelamatkan dirinya, istrinya dan anaknya. Sementara Kara tidak mau dibantu, ia menyuruh Laka dan Pile menyelamatkan diri lebih dulu. Ia sebenarnya paham suasana, ia bahkan sudah membaca tanda-tanda tersebut sebelum Laka bertanya. Sedari tadi ia gelisah.
“Tidak, Kara! Kami tidak akan meninggalkan mu!” Tegas Laka.
Kara paham, ia tidak akan bisa melawan keteguhan hati Laka. Keteguhan yang lahir dari hati yang lurus, hati yang bersih, menciptakan rasa kesetiakawanan yang tinggi. Kara pun akhirnya mengalah, ia harus memaksakan dirinya menaiki bukit tersebut demi melihat semangat Laka dan Pile, demi membayangkan wajah anak-anak mereka.
Dalam kegentingan, Zaneba muncul dari belakang menyusul mereka. Ia berlari sekuat tenaga, membuat tanah di sekitarnya bergoyang. Teriakannya sangat lantang, siapaun belum pernah mendengar teriakan seseorang seperti itu, teriakan seorang ibu yang ingin menyelamatkan keluarganya.
“Aku mempunyai firasat buruk dan aku memutuskan mengikuti kalian beberapa saat setelah kalian meninggalkan rumah kita.”
Malang. Beberapa langkah sebelum Zaneba berhasil meraih mereka bertiga, air setinggi puluhan meter sampai lebih dulu mendorong tubuhnya dari belakang dan menghempaskannya ke depan bersama beberapa pohon yang terserabut dari akarnya.
Seberapa cepat jalan mereka, tidak ada yang mengalahkan cepatnya liukan air. Gulungan ombak maha dasyat sudah menghantam mereka, Kara terhempas, terpisah dari Laka dan Pile. Tubuh Zaneba sempat menghantam tubuh mereka bertiga. Tubuh gempalnya berputar-putar tergulung ombak sebelum akhirnya menghantam sesuatu, entah batu atau pohon besar. Gelap.
“Zanebaaaa!!!” Teriak Laka kalap. Ia terperangah, ia sendiri kesulitan bernafas, tubuhnya kemasukkan air, entah sudah berapa banyak air yang ia minum.
            Di sisinya sudah tak ditemukan Kara dan Pile, terpisah. Tubuh Laka terbawa arus dan culanya melewati celah pohon yang sempit, tersangkut di sana. Beruntung, badannya bisa tertahan, tak terbawa arus. Namun matanya tak dapat melihat dengan jernih, matanya terus mencari-dari dimana istrinya, Kara dan Pile.
Pile sedikit lebih mujur, ia berhasil menghindar ke tepi, menapaki bukit yang sedikit lebih tinggi, hingga hanya kakinya yang terkena sapuan ombak.
Kara, tidak ada yang tau dimana keberadaannya.
            “Tsunami!!!” Luzo berteriak kencang.
Garna dan Razenda tersentak dari duduknya lalumenoleh ke belakang, mereka melihat air bagaikan kepala kobra yang siap mematok, mencungkil, apapun yang ada di depannya. Mereka melihat semuanya dengan jelas.
Razenda dan Luzo tanpa pikir panjang berlarian ke arah utara,menjauhi tsunami. Namun Garna malah bergerak ke selatan hendak melawan arus.
            “Garna, kau salah jalur!” Teriak Razenda.
            Luzo yang menyadari bahwa Garna bukan salah jalur tapi sengaja melawan arus, segera menarik Garna.Garna akhirnya pasrah ditarik Luzo. Ia berlari mengikuti Luzo sambil menahan tangis, yang ada di pikirannya sama, orang tua mereka.
            “Bagimana kita bertahan hidup, Ayah? Bagaimana kalau ayah nanti meninggalkan ku, aku hidup dengan siapa?”
            Kalimat tersebut terngiang-ngiang lagi di benak Garna, dengan satu keyakinan bahwa, ayahnya pasti selamat, Garna berlari sekuat tenaga, berpacu dengan air yang semakin dekat. Hingga mereka mencapai puncak tertinggi danbatas aman tsunami menurut perkiraan manusia.
            Mereka terduduk lesu, kehabisan tenaga. Tangis Garna dan Razenda pecah. Luzo terisak. Kini yang ada di hadapan mereka hanya hamparan lumpur dengan pohon tumbang dan balok-balok kayu yang berserakan. Termasuk beberapa mayat manusia yang terseret hingga sejauh itu.
            Garna berdiri tertatih, memaksakan tubuhnya untuk mencari ayahnya. Kali ini Luzo tidak mencegah Garna, karena ia dan Razenda pun ingin melakukan hal yang sama.
            Setelah memastikan tsunami tak kan datang untuk yang kedua kalinya, mereka berjalan menuruni bukit, memanggil-manggil dengan sisa suara dan tenaga yang dimiliki. Tak berapa jauh setelah mereka menuruni bukit, mereka menemukan seonggok  tubuh dan mereka berharap itu bukan tubuh tapi hanya timbunan lumpur dan dedaunan.
            “KARAA!!!” Teriak mereka serentak.
***
            Mereka berduka kehilangan Kara, orang yang selama ini mereka hormati dan orang yang paling mereka dengar nasehatnya.
            Tidak hanya mereka yang berduka tapi seluruh dunia, termasuk manusia karena salah satu badak yang selama ini dilindungi, pergi meninggalkan dunia. Beritanya sempat fenomenal sama dengan fenomenalnya berita kehilangan beberapa nyawa manusia. Berita tentang Laka juga fenomenal, ‘Pasca Tsunami, Seekor Badak Bercula Satu Tersangkut di Ranting Pohon’.
            Andai waktu dapat diputar, badak-badak tersebut berpikir, mereka akan memberi tau dari dulu para pemburu dampak perbuatan mereka beberapa puluh tahun kemudian.
Ini baru tsunami dengan ketinggian beberapa meter, bagaimana dengan tsunami dengan ketinggian berpuluh-puluh meter? Akankah nasib mereka seperti dinosaurus yang hilang ditelan zaman dan hanya tinggal kenangan.


Cerpen oleh: Nelvianti
*ini adalah cerpen yang pernah diikutsertakan dalam salah satu lomba dengan tema menjaga kelstarian alam tapi cerpen ini gagal menjadi juara, alhasil saya posting di sini, mau minta saran dan komentar dari pembaca blog ini, jika berkenan ... tolong tinggalkan komentarnya di bawah yaa! Terima kasih. :)

           


0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design