Rabu, 03 Juli 2019

Salah Siapa, Jika Ia Putus Sekolah



Beberapa Minggu Sebelum Ujian Nasional (UN)
            Puntung rokok berserakan, membaur bersama tanah lembab bekas hujan semalam. Air di selokan sudah mencapai tubir, sedikit lagi mungkin mencapai kaki pos ronda yang di sebelah. Pintu pos ronda masih tertutup rapat terpal biru. Pintu? Sejak kapan pos ronda punya pintu? Ah,  sudahlah! Apapun itu, pos ronda ini selalu dibungkus lewat Subuh, mungkin nanti setelah matahari meninggi baru dibuka.
            Sekarang sudah pukul 10 pagi. Suara dengkuran beraneka ritme masih berpacu di dalam pos. Di dalam pos mungkin ada sekitar lima sampai tujuh orang anak muda. Ya, lima sampai tujuh orang. Kadang jumlahnya bertambah dan kadang jumlahnya berkurang. Mereka semua sama! Siswa SMP yang memasuki masa pubertas.
            Pos ronda ini dibangun bukan buat hansip, bukan juga untuk menjaga keamanan. Pos ronda ini dibangun oleh anak-anak nakal yang kurang kerjaan. Mereka sebut ini markas. Ada saja yang mereka kerjakan di markas. Pesta rokok pasti! Pesta bir? Pesta sabu? Entahlah, tak ada yang tahu. Kadang mereka bacakan, main domino, atau hanya sekedar nongkrong. Kadang  juga menggoda anak gadis orang yang lewat di depan markas.
            Bukan tidak ada Ibu-Ibu yang berteriak di depan markas ini memanggil anaknya pulang. Sudah sering, terlalu sering malah. Sampai pemilik toko di depan markas hafal, siapa yang paling sering dipanggil pulang.
            “Mal… Mal… cepetan bangun! Sebentar lagi Ibu lu pasti datang.” Gibran menepuk-nepuk pipi Akmal.
            Benar saja, belum selesai Gibran bicara, seorang Ibu memanggil-manggil nama Akmal.
            “AKMAL…!”
            Gibran segera meloncat membuka terpal, beberapa temannya tergagau.
            “Cepat pulang!”
            Akmal yang masih mengeliat berdiri terhuyung, satu jeweran mendarat di telinganya. Pemilik toko di depan tertawa melihatnya, mungkin disangkanya ini adegan lucu.
***
            “Sudah berapa kali Ibu bilang Mal… sebentar lagi kamu UN. Ibu tidak pernah melihatmu membuka buku sedikit pun.” Bu Tina duduk di samping anaknya yang baru selesai mandi.
            Kali ini Ibu Tina bicara tidak pakai emosi. Mungkin energinya sudah habis menasehati Akmal sejak satu bulan terakhir. Suami Bu Tina, Pak Anto, juga tidak kalah capeknya, berbagai cara telah ia lakukan, mulai dari memperingati, memukul kaki anak bujangnya dengan rotan, bahkan terakhir kali Pak Anto mengancam tidak akan melanjutkan sekolah Akmal ke SMA jika Akmal tidak lulus UN. Tidak ada yang tahu, apakah hukuman itu benar-benar akan dilaksanakan, yang pasti Akmal tetap santai.
            “Tenang aja Bu… aku pasti lulus UN kok.” Begitulah jawabannya setiap dinasehati.
            “Lulus UN bagaimana, wong kamu gak pernah belajar.” Bu Tina berlalu. Seperti biasa, percakapan berakhir di situ.
            Esok, esoknya, dan esoknya lagi kembali terulang. Akmal berangkat ke markas selepas Magrib dan pulang pagi jika malam minggu. Bu Tina kadang mengunci pintu rumah jika lewat Magrib, agar Akmal tak bersarang di markasnya. Tapi Akmal tidak tinggal diam, ia kabur lewat pintu belakang atau menggerutu jika tidak bisa kabur.
            “Lingkungan emang selalu membawa pengaruh buruk!” Pak Anto emosi.
            “Awas saja kalau anak itu tidak sampai lulus UN!” Pak Anto memang temperamen.
Setelah Pengumuman Kelulusan UN
            Gosip-gosip beredar di warung sayur.
            “SMP Perubahan lulus UN semua!” Ibu yang memakai daster membuka pembicaraan.
            “Iya, kok bisa ya? Nilainya tinggi-tinggi lagi. Bahkan ada yang nilai Matematikanya seratus!” Celoteh Ibu yang memakai baju loreng.
            “Katanya, anak-anak itu dapat kunci jawaban.”
            “Bukan anak SMP Perubahan aja kali, seluruh provinsi, mungkin seluruh Indonesia.”
            Miris!
            Gosip terus berkembang, bagaikan dengungan lebah. Sepenuhnya bukan gosip, separuhnya adalah fakta! Terang saja, Akmal tetap santai walau diancam Bapaknya. Ia mendapat kunci jawaban yang dibeli dari hasil iuran kelas Rp 120.000 per orang. Walaupun begitu, nilainya tidak sememuaskan teman-temannya, lepas makan. Rata-rata 70. Akmal tidak berhasil diterima di SMA negeri. Pak Anto marah-marah, Bu Tina menangis sedu-sedan. Akmal hanya cuek.
            “Kalau gitu… masukan aja Akmal ke swasta, Pak!” Ibu Tina baru melihat ijazah Akmal.
            “Gak ada biaya, Bu. Ibu gak lihat kondisi kita gimana? Uang darimana!”
            “Trus gimana Pak… masa Akmal gak melanjutkan sekolah!”
            Pak Anto mengacak rambut, panik!
            “Akmal tetap sekolah kan, Pak? Pak… jawab Pak!” tangis Bu Tina semakin deras.
            “Sudahlah, masukan saja dia ke Madrasah di belakang rumah. Biayanya lebih murah.”
            Pak Anto berlalu. Bu Tina mengusap air matanya, Hari ini seuntai doa mengapung, doa dari seorang Ibu yang berharap anaknya masih tetap sekolah.
Saat Bersekolah di Madrasah
            “Gimana Nak, kamu kerasan sekolah di Madrasah?”
            “Susah Bu! kenapa sih, Ibu itu gak masukin aku ke sekolah tekhnik aja yang gak ada pelajaran Fiqihnya, bahasa Arab, dan segala macamnya?”
            “Uang darimana Nak...? sekolah tekhnik kan mahal.”
            Bu Tina hanya mengusap dada. Setiap hari ia semakin melankolis, tak banyak yang bisa ia lakukan. Jika semakin dikerasin, Akmal semakin tidak betah bersekolah di madrasah. Sementara kelakuan Akmal tidak berubah. Setiap hari selalu mengunjungi markasnya, bergaul dengan anak-anak putus sekolah. Apalagi sekarang bertambah dua orang temannya yang putus sekolah―temannya sesama di Madrasah. Alasannya putus sekolah sederhana, bersekolah di Madrasah dianggap tidak keren.
            Semester pertama, empat dari dua belas mata pelajaran berhasil tidak dituntaskan Akmal. Nilai mata pelajran Fiqih, Bahasa Arab, Al Quran Hadis, dan Tajwidnya di bawah rata-rata.
            Pak Anto marah-marah lagi.
            Semester dua tak jauh beda. Bu Tina takut anaknya tidak naik kelas, ia takut jika suaminya benar-benar tidak mau melanjutkan sekolah Akmal. Itu tentu hal yang menyenangkan buat Akmal, dia bebas bermain dengan teman-temannya.
Penerimaan Rapor Kenaikan Kelas          
            “Apa? Anak itu tidak naik kelas?”
            “Kemarin empat yang tidak tuntas, sekarang bertambah menjadi tujuh yang tidak tuntas. Pantas saja dia tidak naik kelas!” Pak Anto meradang ketika melihat rapor Akmal.
            “Tapi ini belum tentu sepenuhnya salah Akmal Pak, kita bisa tanya dulu kepada wali kelasnya.” Bu Tina mencoba tenang.
            “TANYA APA? Kamu mau mengemis-ngemis supaya Akmal naik kelas?”
            “Kalau kamu mau anak itu masih tetap sekolah, kamu aja yang membiayai. Aku gak punya uang untuk mengulang satu tahun lagi!” Sifat egois Pak Anto mulai muncul.
            Apa dayaku Pak, jika beban ini ditanggungkan pada ku sendiri. Ya Allah, jika seandainya guru Akmal tahu kalau anak ku tidak bisa melanjutkan sekolah karena ia tidak menaikan anak ku ke kelas dua, apakah ia tetap tidak menaikan anak ku ke kelas dua? Siapa yang bersalah Ya Allah, tidak semua orang tua pandai mendidik anak. Bu Tina membatin.

Cerpen Oleh: Nelvianti



           
           



0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design