Selasa, 16 September 2014

Catatan Kampus Hari Ini: Saya [Sempat] Puber Gak Ya?

Tulisan ini berawal dari ocehan dosen saya, kurang lebih, katanya begini:

“Anda semua yang tidak pernah merasakan cinta monyet waktu remaja, kemungkinan akan muncul waktu umur 40tahunan.”

Sontak kelas saya menjadi heboh. Pasalnya, pernyataan dosen tersebut sangat menakutkan bagi yang belum pernah pacaran. Lalu...

“Saya bukan menyuruh anda semua untuk pacaran lo ya….”

Lo, maksudnya apa?

Begini katanya, pacaran tidak diharuskan tapi mengekspresikannya tidak dibatasi. Anda semua (read: kami) sebagai calon guru, jika menemukan anak kelas 6 SD sudah mulai centil, maka Anda tidak boleh melarangnya, hal yang harus Anda lakukan adalah mengarahkannya! Tentunya mengarahkan ke hal yang positif.

Masa remaja dikatakan juga masa pubertas (puber). Remaja di masa puber mulai tertarik pada lawan jenis, mulai mengenal yang namanya pacaran. Menurut dosen saya, remaja pacaran positifnya, ia bisa saling mengenal lebih dekat. Tapi negatifnya remaja pacaran adalah sudah berkomitmen. Kan aneh ya? remaja sudah berkomitmen untuk saling memiliki/pacaran, melarang pasangannya untuk dekat dengan orang lain. Pergaulan remaja itu kan jadi terbatas. Jadi, tidak bagus juga masa muda itu digunakan untuk pacaran, remaja yang sudah pacaran akan sulit untuk bersosialisasi, ia hanya mengenal pacarnya saja, ia tidak mengenal teman-temannya yang lain. Hal itu tidak bagus untuk kehidupan ke depannya, makanya ketika kuliah ia tidak tertarik untuk berorganisasi, karena yang ditemuinya disetiap organisasi adalah konflik, konflik, dan konflik, dan ia tidak bisa menyelesaikannya/menghadapinya.

Lalu salah satu teman saya membantah.

"Itu prinsip Bu!"

Maksudnya, untuk hal senang berorganisasi atau tidaknya seseorang itu tergantung kepada prinsipnya. Saya juga setuju. Tapi pendapat dosen saya juga perlu digaris bawahi bahwa, seseorang yang masa remajanya pergaulannya terbatas, dewasanya akan sulit bersosialisasi, sulit memecahkan masalah sosialnya, ia akan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, dan ia lebih senang menyendiri. Itu betul!

Terbatasnya pergaulan seseorang sebenarnya berawal dari ia kecil. Fasenya dimulai dari usia 0 tahun. Usia 7-14 tahun adalah fase labil, yaitu fase senang-senangnya seorang anak. Usia 14-21 tahun adalah fase penguatan, dan usia 21 tahun karakter seseorang sudah jadi, dan sulit untuk dirubah. Jika anak masuk dalam pergaulan yang salah di fase labil, maka pergaulan yang salah tersebut akan sulit dirubah. Contoh kecilnya, anak sering telat bangun pagi, maka pada umur dewasa kebiasaan telat bangun paginya itu sulit dirubah. Patut dicurigai, mahasiswa yang sering telat bangun pagi, jangan-jangan membawa kebiasaan dari kecil!

Terbatasnya pergaulan berawal juga dari pengasuhan orang tua. Hal salah yang sering dilakukan orang tua adalah, melarang anaknya bermain. Pernah saya lihat, seorang Bapak yang melarang anaknya bermain dengan anak tetangganya yang dianggap tidak selevel. Bahkan anaknya dikurung di dalam rumah, dan melarang anaknya keluar rumah untuk menemui temannya ketika ada temannya yang berkunjung. Ini sangat tidak baik sekali bagi perkembangan sosialisasi anak ke depannya.

Jika anak belum menyelesaikan fase perkembangannya, dalam artian ia belum bisa menikmati masa remajanya, maka ada hutang yang harus ia bayar. Fase perkembangan remaja yang tidak diselesaikan di usia remaja, maka akan diselesaikan di usia 40 tahunan. Begitu juga fase perkembangan dewasa yang tidak diselesaikan di usia dewasa, akan diselesaikan diusia di atas 40 tahunan. Semisal, dalam urusan karir, setiap orang yang memasuki usia dewasa muda (21 tahun) cenderung ingin sukses, ingin memiliki rumah, ingin membeli mobil, dan sebagainya. Ia akan bekerja keras untuk mencapai hal itu, dan jika hal itu belum tercapai, ia akan terus melakukannya di usia di atas 40 tahunan. Makanya, ada kemungkinan orang yang berusaha keras di atas umur 40 tahunan, adalah orang yang masa mudanya digunakan untuk senang-senang. Ya, senang-senang aja! kata dosen saya. Misalnya ia tidak sekolah, semetara kamu (read: kami) sekarang bersusah payah melanjutkan pendidikan.

Terakhir, kesimpulan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini yang tidak sistematis ini yaitu, hal yang perlu digarisbawahi oleh orangtua sebagai orang yang pertama kali memberikan pendidikan kepada anak-anaknya adalah, jangan pernah membatasi pergaulan anak! apalagi anak usia SD, anak usia bermain. Anak lagi senang-senangnya bersosialisasi, anak akan berteman dengan siapa saja, tanpa memandang apakah orang tersebut kaya/ miskin. Perlu digaris bawahi juga, tidak membatasi pergaulan anak, bukan berarti membebaskan pergaulannya, tapi yang benar adalah mengarahkan pergaulan anak agar tidak salah gaul. 

Sumber Gambar: Google
 


2 komentar:

Aul Howler's Blog mengatakan...

Agree

anak akselerasi di sekolah internasional juga tuh, kurang sosial nya. Gara2 dipaksain belajar mulu sih..


P.S.
Soal kenapa jarang bikin cerpen/cerbung islami : cerbung Aul yg pertama islami kok. Tapi cuma itu aja. why? soalnya followers dan readers blog juga banyak yang non muslim. jadi sebisa mungkin di blog Aul minim kalo udah SARA. Berusaha netral aja biar bisa dinikmati semua kalangan

Nelvianti mengatakan...

Ya Aul, semenjak dosennya biulang gitu, aku sendiri jadi kepikiran. Aku udah nyelesaiin tugas perkembangan aku belum ya? he.

Oh, gitu ya Aul. Kalau aku sekarang lagi suka baca cerpen Islami Aul, cuz di internet lagi banyak lomba cerpen Islami.

Thank's ya Aul udah dibalas kunjungannya. Pengen juga punya followers blog dari luar...hehe.

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design