Selasa, 23 September 2014

Fakta: Memasukkan Anak ke Sekolah Dasar Terlalu Dini, Berbuah Kenakalan Remaja!

Selalu ada bahan yang saya tulis setelah pembelajaran ABK. Postingan saya kali ini tidak jauh berbeda, masih berhubungan dengan postingan saya sebelumnya yang berjudul, “Saya [Sempat] Puber Gak ya?”

Kali ini saya akan menulis tentang Pause Playing Delay. Apa itu Pause Playing Delay? Pause Playing Delay adalah Masa bermain yang tertunda, ini berkaitan dengan gangguan belajar pada anak. Menarik! Sebelumnya saya ingin menceritakan sebuah fenomena terlebih dahulu, yang banyak terjadi, dan dulu pernah juga asaya alami.

Eits… tunggu dulu, jangan berpikiran masa kanak-kanak saya tidak bahagia! Bukan itu! Hal ini berkaitan dengan kebiasaan orang tua yang memasukan anaknya ke sekolah dasar terlalu dini. Tidak dapat dipungkiri memang, banyak orang tua yang ingin memasukkan anaknya sekolah cepat-cepat, padahal umur anaknya belum mencukupi. Lalu berapakah umur ideal seorang anak masuk sekolah dasar? Saya tidak bisa menyebutkan pasti, karena tidak ada landasan teorinya, dan saya yakin setiap orang punya pendapat berbeda-beda. Cuman, saya ingin sedikit memberi gambaran.

Di sekitar lingkungan saya, sering saya temui Ibu-ibu memasukan anaknya ke sekolah dasar pada umur 5 atau 6 tahun, umur 7 tahun dianggap terlalu tua. Alasan orang tua untuk memasukan anaknya sekolah sedini mungkin, tidak lain hanya karena tidak mau anaknya tertinggal dengan anak tetangga lain. Memasukan anak sekolah sedini mungkin dianggap suatu gengsi, gengsi anaknya lambat menyentuh bangku sekolah. Sehingga banyak orang tua yang berbondong-bondong mengantarkan anaknya ke sekolah, meski umur si anak baru 5 tahun. Lalu, apa yang dilakukan pihak sekolah?

Ada pihak sekolah, yang membatasi penerimaan siswa kelas 1 SD dengan umur minimal 7 tahun. Ada juga sekolah yang menerima murid dengan umur dibawah tujuh tahun, dengan syarat anak tersebut sudah pernah mengenyam bangku Taman Kanak-kanak (TK), atau anak tersebut sudah bisa membaca. Tak jarang orang tua yang ngotot memasukan anaknya sekolah pada umur 5 tahun, anaknya dites membaca atau berhitung terlebih dahulu. Jika anak tersebut sudah bisa berhitung, minimal sampai 10, maka anak tersebut akan diterima.

Perkara berhitung sampai 10 mungkin hal yang mudah bagi sebagian anak. Jarang anak yang tidak bisa. Tapi selanjutnya, apakah kita tahu apa yang dialami anak tersebut? Okelah, pihak sekolah menerima, dan orang tua merasa lega anaknya sudah bisa bersekolah meski baru berumur lima tahun. Tapi perhatikan! Di kelas 1 SD yang ditemui anak, bukan teman-teman yang seumuran dengannya saja. Umur siswa di kelas 1 SD beragam, ada yang 5, 6, dan 7 tahun. Anak yang berumur 5 tahun mungkin bisa mengikuti pembelajaran sama dengan teman-teman yang lainnya, ia dikatakan mampu. Dilihat dari kemampuannya, ia bisa naik kelas dengan mulus. Dan seandainya guru menaikan anak ini ke kelas yang lebih tinggi dan tidak ada hambatan, maka bisa dipastikan anak ini lulus SD dalam umur 10 tahun, sementara teman-temannya yang lain lulus SD pada umur 11 atau 12 tahun. Dilihat dari kasat mata, ini tentu bagus bagi orang tua, anak dapat menyelesaikan sekolah dasar dalam waktu cepat.

Tapi tahukah orang tua, ada hal yang hilang dari anak tersebut? Masa bermainnya! Ya, anak kehilangan masa bermainnya, 2 tahun lebih cepat dari teman-temannya. Seharusnya di umur 10 tahun tersebut,si anak masih berada di bangku SD, menikmati masa bermain dan bercanda ria dengan teman-temannya, tapi ini tidak. Anak memasuki bangku SMP lebih cepat, tentunya anak akan menghadapi lingkungan yang berbeda, tidak ada lagi suasana bermain seperti di SD. Anak bisa saja shock menghadapi hal ini. Imbasnya, anak jadi berleha-leha ketika di SMP, tidak mau belajar, maunya bersenang-senang saja menikmati masa bermain di SDnya yang tertunda. Dan tak jarang, anak yang masa SDnya cermelang, berprestasi, tapi setelah di SMP melempem

Dan saya sendiri yang masuk SD ketika umur 6 tahun merasa bersyukur, menengah buat saya, tidak terlalu cepat. Dulu, saya iri pada teman-teman yang masuk sekolah lebih cepat, tapi sekarang saya menerimanya dengan senang-senang saja, karena saya bisa menyelesaikan tugas perkembangan saya sesuai waktunya.

3 komentar:

Aul Howler's Blog mengatakan...

untunglah aul masuk sekolah umur nya standar. 6 tahun. hehe

Nelvianti mengatakan...

Haha... kita sama ya Ul! ;)

Aul Howler's Blog mengatakan...

Iya haha.
*Toss!*

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design