Jumat, 27 September 2013

PICING



Oleh: Nelvianti

“Picing berkicau lagi. Siapakah yang akan meninggal hari ini?” Amak[1] bergumam sendiri. Ia berdiri di depan pintu, matanya mengitari dahan pohon di sekeliling gubuk kami. “Itu cuma kicauan burung biasa Mak, ndag ada sangkutannya dengan kematian.” Jawabku sekenanya sambil membersihkan motor butut kesayanganku.
“Kamu jangan meremehkan petuah orang tua Lim!” Amak berlalu masuk ke dalam rumah. Amak memang terlalu fanatik terhadap kepercayaan leluhur yang berkembang di kampung kami. Menurut mereka kalau burung picing berkicau berarti itu pertanda akan ada orang yang meninggal, tepatnya sebuah panggilan kematian. Burung yang berbulu hitam legam itu kerap berkicau di siang hari. “Picing… picing.” Begitulah suara burung picing, oleh sebab itu warga sering menyebutnya dengan picing.
“Mande Rubiah… Mande Rubiah…” Panggil Uda  [2]Agus kepada Amak. Nafasnya ngos-ngosan setelah dipaksa berlari-lari. “Ada apa Da?” aku berdiri dengan tangan yang masih berbusa. “Mana Amakmu Lim?” Uda Agus balik bertanya. “Mengapa wa’ang [3]berteriak-teriak Gus?” tiba- tiba Amak keluar dari dapur. “Ini Mande. Tek[4] Rosna sudah dahulu.”
Innalillahi wainnaillahi rojiun…” ucapku menyertai ucapan Amak. Tanpa basa-basi lagi Amak langsung melayat bersama Uda Agus, karena itu artinya sebuah tugas buat Amak  untuk memandikan jenazah. Oleh sebab itulah Amak dipanggil Mande Rubiah, yaitu sebuah panggilan kepada orang yang biasa memandikan jenazah di Minang.
Sudah cukup lama Amak dimintai tolong oleh warga kampung memandikan jenazah, tepatnya setelah nenek meninggal. Sebelumnya neneklah yang mengemban tugas suci itu dan kini diturunkan kepada Amak.
Sebelum pergi kuliah aku sempatkan menjenguk Tek Rosna. Hanya sebentar, setelah itu aku langsung ke kampus. Sempat aku mendengar celotehan dari kerumunan ibu-ibu yang berdiri di pinggir jalan sehabis melayat, “Ini pasti ada hubungannya dengan picing yang berkicau tadi.” Ucap salah seorang dari mereka. “Iya. Kemaren aku lihat Tek Rosna keluar rumah tua itu.” Imbuh yang lainnya.
 Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan mereka. Memang sulit memberi pengertian kepada warga kampung sini yang sangat fanatik dengan ajaran dan kebudayaan leluhurnya. Sudah sering kali hal ini aku sampaikan kepada Amak dan Uda Agus, tapi Amak malah marah bahkan aku sempat ribut dengan Uda Agus.
Dia tidak terima aku memberikan penjelasan kepada warga soal  burung picing dan kematian yang menyertainya. Uda Agus berang, katanya aku mahasiswa yang tidak berguna, suka menyebarkan ajaran palsu. Aku marasa dipojokkan. Amak memperingatiku untuk tidak mengrurusi hal-hal seperti itu lagi.
“Kenapa lagi Lim?” Arman menyentuh bahuku yang masih terbengong-bengong memikirkan kejadian tadi pagi. “Mending kamu selidiki saja daripada kamu capek-capek mikir begini!” Sepertinya Arman tahu apa yang mengganggu pikiranku. Ia menarik kursi dan duduk dihadapanku. Suasana di kafe kampus siang ini tidak begitu beda, seperti biasanya selalu disibukkan oleh aktifitas para pencari ilmu.
“Bagaimana caranya?” aku masih saja terpekur. Kedua tanganku aku kepalkan menopang daguku. “Urusan gampang itu! kamu serahkan saja kepadaku. Nanti kita minta bantuan si Hamid dan si Abdul. Bagaimana?” usul Arman. “Terserah kamu sajalah.” Aku beranjak meninggalkan kafe.
“Oke. Kalau begitu aku tunggu kamu di rumahku pukul 7 malam nanti. Tak begitu aman kalau bicara di rumahmu.” Ucap Arman kawanku yang terkenal jenius ini.
Beberapa hari yang lalu waktu pulang kuliah aku lewat di depan rumah tua yang ditinggal pemiliknya. Dulu rumah itu dihuni oleh keluarga Belanda. Tapi semenjak Indonesia merdeka keluarga Belanda itu kembali ke negara asalnya. Rumah itu tampak suram dan kotor. Apabila lewat maghrib tidak ada yang berani lalu di depan rumah itu. Kata mereka rumah itu angker. Aku hanya bergidik mendengar gosip itu. Tak ada pilihan lain buatku untuk tidak melewati rumah itu, karena akan memakan waktu setengah jam jika aku harus lewat memutar menghindari rumah itu.
“Brak…gedubrak.” Tiba-tiba aku mendengar suara benda jatuh dari dalam rumah itu. Aku tertegun. Sempat aku mengintip ke dalam rumah itu lewat pagarnya yang tinggi menjulang. Sekelabat aku melihat ada bayangan hitam yang melintas di ruang tengah rumah itu. Samar-samar, karena rumah itu hanya diterangi lampu lima watt di pojok terasnya.
Aku menyeruput kopi di teras rumah Arman bersama Abdul temanku yang bertubuh gempal dan Hamid temanku yang terkenal tampan diantara kami berempat.  Sudah lama kami bersahabat, tepatnya semenjak kami diospek. Selain itu rumah kami juga tidak terlalu jauh. Arman masih satu kampung denganku. Hanya Abdul dan Hamid yang tinggal di kampung sebelah.
“Jadi apa rencana kita kali ini?” tanyaku membuka pembicaraan. Asap kopi yang hangat mengepul dari mulutku di malam yang dingin ini. Asap itu berputar-putar sejenak lalu mengembang dan menghilang disapu angin malam. Seperti pikiranku saat ini yang mengembang memikirkan tentang tahayul di kampungku.
“Aku penasaran dengan rumah Belanda itu.” Kata Arman memainkan puntung rokoknya. “Mengapa setiap orang yang masuk rumah itu selalu meninggal?” lanjutnya. “Itu kan cuma dugaan warga sini.” Bantahku. “Iya. Aku juga tak sependapat dengan mereka.” Kata Arman. 
“Tapi tak bisa dipungkiri juga! Rumah tua, Picing, dan kematian. Semuanya berkaitan.” Kenyataanya memang seperti yang dikatakan Hamid, picing berkicau, lalu ada orang yang meninggal setelah itu. Tek Maimun, Tek Jannah, dan terakhir Tek Rosna. Usut punya usut, orang yang meninggal itu sebelumnya sempat masuk ke rumah Belanda.
 “Jadi apa yang harus kita lakukan?” kali ini Abdul buka suara. “Begini saja, kita pasang handycam di rumah itu! Sehari sesudah itu bisa kita ambil dan kita lihat hasilnya.” Argumen Arman.
“Siapa yang berani? aku tak mau masuk rumah angker itu.” Ujar Abdul, selain hobi makan ia juga penakut. “Ah… payah kau Dul!” ledek Hamid. “Kalau kau ketemu hantunya, pasti hantunya yang ketakutan melihat kau Dul.” Tambahku. “Hahaha…” ucapanku ditingkahi gelak tawa mereka.
Seperti yang sudah kami rencanakan malam sebelumnya, malam ini kami akan memulai aksi. Sehabis sholat Isya kami telah mempersiapkan semuanya. Masih terlalu sore memang, tapi keadaan kampung sudah lengang. Tidak ada warga yang lalu lalang jadi cukup aman buat kami, tidak perlu khawatir gerak-gerik kami akan dilihat orang lain. Di kampungku tidak ada aktifitas ronda malam, sehabis maghrib warga sudah berdiam diri di rumah. Mereka seperti ketakukan. Kata mereka noni-noni Belanda sering bergentayangan.
Ah, lagi-lagi masalah rumah tua itu. Aku kesal, aktifitas kampungku seperti mati dibuatnya. Tak ada satupun warga yang berani mendekati rumah itu, walaupun pada siang hari.
“Hati-hati Man!” ucapku pelan kepada Arman yang memanjat memasang handycam di ventilasi rumah itu. “Sudah. Selesai.” Arman turun. “Pegal juga pundakku Man menopang tubuhmu.” Keluh Abdul seraya memijit-mijit lehernya. “Ayo pergi! Nanti keburu dilihat orang.” Ajak Hamid sedikit was-was.
Aku berjalan terburu-buru. Bug. Tubuhku menabrak sesuatu. “Halim! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Uda Agus yang sudah berdiri di depanku. Aku tergagap.
“Kami dari rumah Halim Da, habis belajar kelompok.” Jawab Arman santai. Uda Agus mendelik, ia seperti menganalisa. “Oh…” akhirnya kata itu yang keluar dari mulutnya. Kami pun berlalu meninggalkan Uda Agus yang diam terpaku.
Udara pagi ini sangat sejuk, rugi kalau tidak dirasakan. Untuk itu aku sempatkan olahraga, sedikit berlari-lari kecil keliling kampung. Kampungku terletak di kaki bukit yang permai, diapit oleh sungai yang mengalir jernih dan lingkungannya yang masih asri.
Aku berhenti di tepi sungai. Tiba-tiba mataku tertuju kepada dua orang yang berbicara sangat serius di ujung sana. Kalau aku tidak salah lihat itu adalah Uda Agus. Ya benar, itu memang Uda Agus. Tapi apa yang dia lakukan disini? diakhir pembicaraannya ku lihat pria berjas itu menyalami Uda Agus sambil menenteng sebuah koper, lalu ia masuk ke dalam mobilnya. Aku bersembunyi di balik pepohonan saat mobil mewah itu melintas dihadapanku.
“Lim, kok akhir-akhir ini banyak beredar uang palsu di kampung kita?” ucap Hamid kepadaku di kampus siang ini. “Iya, kemaren Amak ku juga mengeluh saat uang yang dibelanjakannya tidak laku karena dibilang palsu oleh petugas bank.” Abdul nimbrung.
Aku terdiam dalam keheranan mengingat kejadian tadi pagi. “Lim, jangan lupa nanti malam kita ambil handycam.” Arman menyembul dari belakang mengingatkanku.
***
            Sebuah handyacm sudah berada di tangan Arman. Kami mengambil posisi duduk berjejer di kursi di ruang tengah rumah Arman. Aku begitu penasaran, bagaiman hasil observasi kami malam kemaren.
            “Wah… agak gelap, pencahayaannya kurang bagus.” Gerutu Arman. Tiba-tiba sebuah lampu menerangi ruangan itu. Kami akhirnya bisa melihat dengan jelas, tapi aku heran siapa yang menyalakan lampu di dalam rumah itu? “Lihat! Ada sosok hitam.” Tunjukku pada handycam. Kawanku memperhatikan. “Sepertinya aku kenal sosok itu, hitam, pendek, dan berjambang.”
            “Uda Agus!” ucapku serentak dengan Arman. “Tapi tunggu, dia tidak sendirian. Ada empat orang lagi.” Hamid mengamati. Apa yang dilakukan Uda Agus di rumah tua ini? kami menunggu sebuah jawaban besar. Terlihat Uda Agus membopong sebuah peti dari dalam kamar rumah itu. Di sampingnya ada sebuah mesin mirip tempat pencetakkan kertas, serta di bawahnya berserakan tinta aneka warna. 
            Salah satu dari empat orang itu membuka peti yang dibopong oleh Uda Agus. Astaga! Kami terkesiap menyaksikan isi dari peti itu. Berpuluh-puluh lembar uang seratus ribu rupiah menumpuk memenuhi peti itu.
            Sekarang sudah jelas pikirku. Mengapa selama ini Uda Agus selalu memarahiku setiap kali aku membahas soal picing dan melarangku mendekati rumah tua itu. Kejadian ini langsung kami laporkan kepada ketua RW dengan membawa bukti hasil rekaman itu. Pak RW manggut-manggut saat kami jelaskan tentang video itu. Akhirnya kami berencena akan menyergap Uda Agus dan rekan-rekannya esok malam.
            Malam ini ramai warga menyaksikan Uda Agus dan empat orang temannya digondol oleh polisi. Uda Agus sempat melirik kepadaku, tatapannya penuh dendam dan amarah. Aku hanya tersenyum puas, akhirnya apa yang meresahkan warga selama ini dapat kami buktikan.
            Uda Agus sengaja memanfaatkan tahayul ini untuk melancarkan usaha sindikat pembuatan uang palsunya. Ia semakin menebar-nebarkan gosip seram tentang rumah tua itu agar tidak ada warga yang berani mendekati rumah itu, sehingga ia bebas menggunakan rumah itu sebagai markasnya.
 Masalah picing dan kematian itu hanya suatu kebetulan. Kini Amak percaya kepadaku, juga warga kampung.
            “Picing… picing..” burung itu berkicau lagi. Tapi warga hanya menganggapnya sebuah kicauan burung belaka.
***




[1] Amak: ibu, dipakai untuk panggilan kepada ibu di Minang.
[2] Uda: abang, dipakai untuk panggilan kepada saudara laki-laki yang lebih tua di Minang.
[3] Wa’ang: kamu, kata ganti orang kedua. Dipakai hanya kalau berbicara dengan orang seumur atau lebih muda (bahasa Minang).
[4] Tek atau etek: tante, dipakai untuk panggilan kepada perempuan yang seangkatan ibu. Tidak dipakai untuk paqnggilan kepada perempuan yang seangkatan kakak (bahasa Minang).

0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design