Minggu, 14 Mei 2017

Kerja Tahan Ijazah? Saya Sih, No!

Eitsss ... tunggu dulu, jangan menilai secara sepihak dulu. Ini sharing berdasarkan pengalaman saya kemaren. Tepatnya beberapa minggu yang lalu. Saya membaca ada lowongan pekerjaan sebagai guru SD di sekolah internasional, saya tidak akan sebutkan nama sekolahnya apa, yang pastinya sekolah itu tidak di kota Bandung. Di info lowongan itu tercantum bahwa saat interview diminta membawa ijazah asli. Ada apa nih? Saya udah curiga.

Daripada penasaran, saya bawa aja ijazah asli dan ikut mendaftar. Waktu pengisian formulir ijazah saya sudah diminta untuk dikumpulkan, waktu saya tanya untuk apa? Nanti dijelaskan di dalam, begitu katanya.
Saya isi aja dulu formulirnya. Kemudian saya dipanggil untuk interview di dalam ruangan, bertemu dengan ketua yayasannya langsung. Ketua yayasannya sudah membaca formulir pendaftaran yang saya isi dan berkas lamaran lengkap yang udah saya serahkan, termasuk di dalamnya CV. Beliau kemudian menanyakan soal kesediaan saya untuk di tempatkan di luar kota, di kota mana saja, sesuai cabang sekolahnya. Saya jawab bersedia. Beliau kemudian menjelaskan 'aturan main' di sekolahnya. Katanya nanti setelah kontrak 2 tahun ada serah terima ijazah. Sebentar, maksudnya ijazah saya ditahan selama kontrak 2 tahun? Iya, kan ada surat serah terima ijazah. Apakah bersedia? Saya jawab, saya tidak bersedia.

"Kenapa tidak bersedia? Ini kan cuma prosedur kami." Lanjut beliau, masih berusaha meyakinkan atau merayu.
"Saya merasa gak nyaman aja."
"Kenapa gak nyaman?"
"Sebenarnya alasannya bukan dari diri saya sendiri aja sih, tapi dari orang tua saya juga. Orang tua saya mengizinkan untuk kerja di luar kota, tapi tidak dengan kontrak tahan ijazah. Jadi ya ... saya hanya ingin menyenangkan hati kedua orang tua saya saja."
Ketua Yayasan sejenak berpikir, kemudian kata beliau,
"Sebentar ya ..."
"Jadi gimana kelanjutannya?"
"Tunggu sebentar."
"Berapa lama saya harus menunggu?" Sambil melirik jam.
"Gak lama kok, hanya beberapa menit."


And jeng ... jeng ... akhirnya ijazah saya dikembalikan karena saya tidak bersedia, saya mengundurkan diri.
Beberapa alasannya kenapa saya mengundurkan diri setelah saya diterima, yang mungkin hal ini dapat juga jadi bahan pertimbangan buat teman-teman yang dihadapkan pada kondisi yang sama.

Pertama, saya lihat dulu lingkungan kerjanya. Sekiranya membuat saya nyaman atau tidak. Berhubung saya akan menjadi 'tawanan' selama 2 tahun. Satu lagi, saya tipikal orang yang susah nyaman, dan susah percaya sama orang lain.

Kedua, kembali lagi pada niat. Niat atau tujuan saya berkerja di tempat itu apa, benar-benar membutuhkan atau hanya sekedar cari pengalaman daong.

Ketiga, saya lihat kedepannya. Apa yang saya dapatkan setelah saya berkerja di tempat itu.
Jika sekiranya ketiga hal itu tidak bisa terjawab dengan pasti, mending saya katakan, No!


Nyari kerjaan emang susah, tapi nyari ijazah juga susah. Ingat berapa puluh juta yang sudah dikeluarkan orang tua demi selembar ijazah, yang kini akan kita tukar dengan gaji perbulan. Seberapa? Beda lagi ya konteknya ini bagi teman-teman yang kerja di perusahaan. Hidup itu pilihan!

0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design