Sabtu, 25 Desember 2010

Toilet Lantai Dua

Oleh: Nelvianti


Giska berlari terbirit-birit menaiki anak tangga. Dia berhenti didepan pintu sebuah toilet. Giska jadi kesal ketika dilihatnya pintu toilet itu tertutup, dia lalu berteriak sambil mengetuk pintu itu. “oi… siapa di dalam? Cepatan sedikit dong, gue udah kebelet ni!”
Satu menit… dua menit… pintu toilet belum juga terbuka. Sementara tidak ada yang menjawab sahutan Giska. Giska kemudian melirik toilet disebelahnya, rupanya pintu toilet itu digembok. Didepan pintu toilet itu tertulis dengan besar “TOILET RUSAK”.
“Sial, toilet ini rusak lagi.” Gerutu Giska. Trrrett… tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari toilet yang ditunggu-tunggu Giska tadi. Giska langsung menoleh, seorang perempuan yang sebaya dengannya keluar dari toilet itu. Ekspresinya dingin sekali. Dia tampak menyeramkan dengan gaun serba putih yang dikenakannya.
Namun Giska tidak menghiraukannya, dia langsung masuk kedalam toilet. Ketika akan keluar Giska menemukan sebuah gantungan kunci yang tegeletakdi lantai. Gantungan kunci itu bergambarkan seorang putri cantik memakai gaun yang indah. “mungkin ini punya cewek tadi.” Pikir Giska. Giska lalu memungut gantungan kunci itu, dan bermaksud hendak mengembalikannya kepada perempuan misterius tadi. Namun perempuan itu telah hilang entah kemana.
***
Krrring… kringgg.. kring… suara jam weker membangunkan Giska. “Uhh… cumi. Cuma mimpi.” Giska lalu mematikan jam wekernya, dia terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30. “ya ampun, mati gue… telat lagi.” Giska langsung mengambil langkah seribu menuju kamar mandi. Dalam sekejap Giska sudah siap memakai seragam sekolahnya. Diapun langsung berangkat ke sekolah.
Disekolah Giska berusaha keras merayu Pak Bowo satpam sekolahnya supaya diizinkan masuk. Akhirnya tanpa mendapat hukuman Giska berhasil masuk menuju kelasnya XI IA2.
Jam istirahat Giska nongkrong sambil ngerumpi bersama teman-temannya di kantin. “Aduh… pantat gue masih sakit ni, gara-gara terpeleset di toilet kemaren.” Keluh Sheila membuka pembicaraan. “Toilet mana?” Tanya Giska acuh. “Toilet lantai dua.” Jawab Sheila singkat. “Serius lo???” Shafa terkejut. “Emang kenapa Fa?” Giska keheranan.
“Tau nggak lo, kata orang-orang ni toilet itu angker. Katanya di toilet itu dulu pernah ada orang yang bunuh diri. Nggak tau deh kenapa.” Shafa menerangkan dengan semangat.
Giska hanya diam terpaku, dia teringat mimpinya tadi malam. “eh Gis, masuk yuk! Bel udah bunyi tu.” Sheila membuyarkan lamunan Giska. “Duluan aja deh! Ntar gue nyusul.” Jawab Giska.
Tiba-tiba, Giska merasakan perutnya sakit. Giskapun pergi ketoilet. Namun karena toilet di lantai satu penuh, Giska terpaksa menuju toilet lantai dua. Toilet itu kelihatan sepi tidak seperti dalam mimpinya.Krrik… tiba-tiba sepatu Giska menginjak sesuatu…Giska terjatuh.
***
Perlahan Giska membuka matanya. Pandangannya mengitari sekitar ruangan. “Akhirnya kamu siuman juga Gis.” Giska menatap mamanya yang duduk disampingnya. “Aku kenapa ma?” Tanya Giska. “Tadi kamu pingsan di sekolah. Teman-temanmu yang mengantarkan kesini.” Terang mama Giska. “Oh ya Gis. Tadi ada seorang perempuan bergaun putih memberikan gantungan kunci ini untukmu. Katanya kamu jatuh karena menginjak gantungan kunci ini.” Mama Giska menutup pembicaraan dan meninggalkan kamar Giska.
“Perempuan bergaun putih… gantungan kunci… masa sih mimpiku jadi kenyataan.” Gumam Giska keheranan.

Dimuat Harian Umum Singgalang: 4 Agustus 2010

0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design