Rabu, 11 Februari 2015

Betapa Aku Dikelilingi Orang-Orang Hebat

Masih pantaskah aku berkata lelah, ternyata ada yang lebih lelah memperjuangkan hidup dariku? Tulisan ini adalah hasil refleksi dari orang-orang hebat yang ku temui selama perjalanan ini.

Ada dua kisah yang akan saya ceritakan di sini dari sekian banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan. Sebuah pelajaran hidup yang nyata, yang membuat saya malu, ketika saya harus mengeluh, ketika saya mengatakan 'capek', ketika saya merasa putus asa, dan perasaan melow lainnya.

Seperti yang saya bilang di postingan yang sudah-sudah bahwa, saya adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari siapa saja, termasuk dari orang yang baru saya temui. Ya, beberapa waktu lalu, saya bertemu dnegan seorang Teteh di Rumah Quran. Teteh itu baru beberapa hari saya kenal, tapi cerita-cerita perjuangan telah mengalir lancar dari mulutnya. Tentunya cerita perjuangan hidup Teteh itu sendiri. O ya, saya juga termasuk orang yang tidak mudah dekat dengan orang lain, tetapi ketika orang tersebut mengajak saya untuk mengobrol duluan, maka saya bisa menjadi teman mengobrol yang asyik, seperti dengan Teteh ini. Sifatnya yang welcome membuat saya nyaman mendengar ceritanya.

Awalnya dia memperkenal diri, dimana ia kuliah, dan darimana asalnya. Saya biasa aja mendengarnya ketika ia bilang kuliah di Banten, namun ia sendiri berasal dari Lampung. Ah, biasa saja, kata saya. Toh, banyak orang yang hidup merantau.

Tapi cerita luar biasa mulai saya dapatkan ketika ia mengatakan bahwa, ia membiayai kuliahnya sendiri. Bukan dengan beasiswa seperti yang saya dapatkan (ia bahkan tak pernah mendapatkan beasiswa), atau apa, tapi dengan berdagang / berwirausaha, mencoba berbisnis kecil-kecilan sendiri.

Awalnya, dia membiayai kuliahnya dengan bekerja di sebuah pabrik / PT. Beruntung dia mengambil kelas karyawan, yang jam kuliahnya cuma Sabtu-Minggu. Jadi Senin-Jumat bisa ia gunakan untuk bekerja. Gaji yang diperoleh jadi karyawan cukup lumayan katanya, bisa untuk membayar uang kuliahnya dan membiayai kebutuhan sehari-hari. Tapi... ya itu, 'gali lubang-tutup lubang', jawabnya terkekeh.

Pekerjaan menjadi karyawan pabrik hanya dua tahun ia lakoni, menginjak tahun ketiga kuliah, ia memilih hengkang, mulai membuka usaha sendiri. Karena pada dasarnya, Teteh ini tidak suka dengan pekerjaan yang terikat. Si Teteh mencoba untuk berjualan kerudung online, kripik pisang Lampung, dan barang-barang lainnya yang sekiranya laku di kalangan mahasiswa. Sembari berbisnis, si Teteh mencoba mendaftar menjadi karyawan toko atau memberikan privat yang tidak terlalu mengikat. Bahkan Teteh ini pun pernah menjadi sales. Agaknya segala jenis usaha sudah pernah ia coba, semua pintu rezeki sudah pernah ia ketuk, berpuluh-puluh surat lamaran telah ia coba layangkan hingga sekarang sampai di tingkat akhir kuliah ia bisa bertahan.

Jika dilihat sekilas, memang ini terlihat biasa saja. Memang banyak yang mahasiswa yang melakukan hal serupa. Tapi sungguh, ini tidak semudah yang dibayangkan ternyata, saya menyaksikan sendiri, bagaimana Teteh itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berpacu dengan waktu, menjemput rezeki.

Saya sendiri rasanya, belum tentu sanggup melakukan hal itu. Apalagi setelah saya tahu, Teteh itu berjuang di rantau sendirian sudah hampir 7 tahun, semenjak SMA. Si Teteh sengaja disekolahkan SMA di Banten oleh orang tuanya, dengan alasan menjauhkan pergaulan dari lingkungan rumah yang kurang begitu baik.

"Waktu SMA, Teteh masih dikirimi biaya sama orang tua, tapi menjelang kelulusan SMA, Teteh nyadar, gak mungkin Teteh menjadi beban orang tua terus. Orang tua Teteh udah tua, dan Teteh anak pertama." Ungkapnya.

Setelah tamat SMA, Teteh ini sempat kuliah di UNJ 2 tahun (hal ini baru saya ketahui belakangan). Kemudian, dengan alasan yang tidak disebutkan, si Teteh pindah ke salah satu kampus swasta yang ada di Cilegon, hingga sekarang menginjak tingkat akhir. Sekarang si Teteh mungkin lagi berjuang buat skripsinya, kita doakan saja, semoga Teteh ini sukses dan kisahnya dapat menginspirasi kita semua.

***

Kisah yang kedua, datang dari adik tingkat saya sendiri. Saya mendapat ceritanya, di saat saya benar-benar terpuruk. Allah memang selalu mempunyai banyak cara untuk membangkitkan semangat saya, memnbuat semangat itu membara dan berkobar lagi.

Cerita perjuangan dari adik tingkat, bagaimana ia bertahan hidup ketika uang beasiswa telat cair. Sebelumnya, saya jelaskan kondisi adik tingkat saya ini, kedua orang tuanya (maaf ) sudah bercerai, dan Ayahnya sudah menikah lagi, begitu juga dengan Ibunya. Ia mempunyai satu Kakak yang sudah berkeluarga, dan satu Kakak yang masih single, bekerja di sebuah pabrik. Jadi bisa dibayangkan, betapa ia tidak bisa berharap banyak untuk mendapatkan suntikan dana dari keluarganya.

Jadi, pada masa-masa awal kuliahnya, uang beasiswa sempat telat hingga 4 bulan. Di masa-masa itu ia benar-benar kesulitan, tak tahu lagi harus menutupi kekurangan darimana. Sementara ia harus makan, bayar kosan, dan sebagainya. Sebagai mahasiswa tingkat 1, tentu belum banyak pengalaman yang ia dapatkan, ibaratnya, 'medan' belum ia kuasai. Mau berwirausaha link gak ada, apalagi modal.

Satu-satunya cara yang ia lakukan adalah, menawarkan diri dari rumah ke rumah untuk memberikan les privat, barangkali ada orang tua yang membutuhkan tenaga pengajar untuk anaknya. Ia lalu mulai berjalan, ke luar dari kosan, berjalan kemana saja. Sasarannya terutama ke komplek perumahan di sekitar kosannya, dengan memberanikan diri, ia mengetuk pintu-pintu rumah penduduk yang mungkin baru dikenalnya beberapa bulan. Kebayang gak? Saya yakin gak semua orang bisa melakukannya, masih banyak yang dikalahkan rasa gengsi.

Nihil. Tak ada satu Ibu pun yang memberikan kesempatan. Ia harus berjalan lagi, kira-kira sudah 2 km jarak yang ditempuhnya. Itu di tengah hari yang terik, tenggorokan kering, sementara uang di tangan hanya Rp 2.000,-, mau dibelikan es? Langsung habis.

Akhirnya ia menawarkan diri ke Rumah Makan, entah apa yang ada dipikirannya saat itu, mungkin ada yang membutuhkan pelayan atau tukang cuci piring. Ternyata, juga tidak ada. Satu hari full ini ia lalui tanpa hasil apa-apa. Dan esok, ia berencana akan mengulanginya lagi. Beruntung, di hari terakhir ini ada Ibu yang anaknya bersedia diajari dengan bayaran Rp 50.000,-/bulan.

"Lumayan Teh, aku bisa bertahan." Katanya.

"Uang ini lebih besar, dari uang yang didapatkan Ayah ku sehari-hari. Ayah ku pedagang asongan aksesoris, mendorong gerobak dari 1 komplek ke komplek lain, kadang hanya laku 1 jepit rambut, Rp 3.000,-. Hanya cukup untuk membeli es. Aku gak tega harus minta uang ke Ayah Teh, aku udah bisa merasakn sulitnya mencari uang, walaupun itu hanya Rp 1.000,-." Imbuhnya lagi.

Benar-benar luar biasa, saya dibuat takjub. Ternyata dari sifatnya yang kelihatan happy di luar, tersimpan kisah perjuangan yang sangat luar biasa. Dan kisah ini belum tentu saya dapatkan jika saya tidak membuka diri dengannya.

Lalu sekarang, apa alasan saya untuk tidak bersyukur? Atas segala rahmat dan nikmat yang telah Allah berikan untuk saya. Betapa banyak inspirasi dan motivasi yang saya dapatkan. Betapa aku dikelilingi orang-orang hebat!

Saya yakin, cerita semacam ini banyak. Mungkin pembaca sekalian juga pernah merasakannya, tapi jarang menuliskannya. Sengaja saya tulis, semoga sepenggal kisah ini dapat membangkitkan semangat kita, membuat kita bersyukur, melihat tidak selalu ke atas.

#SalamMotivasi. :)

0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design