Selasa, 10 Februari 2015

Tamak


Kali ini, saya akan memposting cerpen-cerpen 'jadul' saya satu persatu. Saya pikir, daripada dimuseumkan di laptop, lebih baik saya publish, ada manfaatnya juga. Pembaca bisa melihat metamorfosa saya dalam menulis, mulai dari gaya bercerita saya yang kaku di awal-awal menulis, hingga gaya bercerita saya sekarang. Selamat Membaca :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gambar:sodahead.com

            Senja itu, aku duduk di ruang tengah menonton TV. Kulihat ibu baru pulang dari pasasr.Ibu menjinjing satu kantong penuh belanjaan dan menaruhnya di atas meja.aku menghampirinya, bermaksud mengintip belanjaan ibu.“jangan buka belanjaan itu sebelum ibu buka!” teriak ibu darikamar yang sedang mengganti pakaian. Suara ibu menghentikanku, padahal aku baru menyentuh kantongnya dan belum sempat membuka ikatannya. Terpaksa aku duduk kembali, dan kutunggu ibu selesai mandi. Ibu paling tidak suka jika belanjaanya aku bongkar,tapi aku tak sabar mencicipi sambal sarden yang kupesan pada ibu sewaktu mau berangkat tadi.
            Perutku sudah mulai keroncongan ketika kucium sedapnya sarden.Aku jadi tak sabar menunggunya.“Berapa lama lagi sih bu masaknya?”“Sebentar lagi, sambil menunggu adikmu pulang.”Kata-kata ibu sedkit menunda rasa laparku.
***
            Sarden kesukaanku telah terhidang diatas mea. Tepat sekali adikku angga baru pulang bermain. “mmmh… sedapnya, ibu masak apaan kak?”Tampaknya sarden itu benar-benar sedap,Sampai angga yang berdiri dalam radius 200 meter dapat mencium baunya. Sedikit lebay gak pa-pa.“Ibu masak sarden kesukaan kita ni. Ayo cepat mandi, abis itu kita makan sama-sama.”Angga langsung menuruti perintahku, ia ambil lamgkah seribu dan berlari menuju kamar mandi. Sambil menunggu Angga, aku duduk memandangi sarden kesukaan kita itu.
***
            Baru saja Angga mendekati meja makan,aku secepat kilat mengambil piring dan menyendok nasi.Setan dalam hatiku  ikut bicara, aku tidak mau didahului Angga. Seperti lagu Rosa. Lezatnya sarden membuatku tak mau mengalah dengan Angga.
            Lalu kucelupkan sendok dalam sarden itu ku aduk-aduk agar tidak mengendap. Sesaat kucium baunya, benar-benar lezat, baunya tersimpan didalam perutku.“Kak cepatan donk ambilnya”,aku juga mau ni”.Angga mendesakku.”ya,ya sabar donk. ”gerutuku tak mau kalah. Bau sarden yang dari tadi menusuk-nusuk hidungku, sekarang sudah berpindah kepiringku. Kunikmati enaknya sarden suap demi suap dengan lahapnya,.Sambalnya yang merah dan ikannya yang lembut membangkitkan selera makanku.
            Tak terasa aku telah menghabiskan sepiring nasi dalam sekejap hanya dengan beberapa sendok sarden. Perutku serasa mau meletus saking kenyangnya dan keringat bercucuran dari tubuhku. Angga yang makannya super cepat lebih dulu selesai dariku. Bahkan ia sudah tidur, mungkin karena kekenyangan juga.
            Sementara itu, aku mengemasi piring-piringkotor dan mengantarnya ke dapur untuk dicuci. Sarden yang sedikit berserakan di atas meja sudah kuhapus dengan bersih. Sarden yang tadinya satu mangkok penuh, sekarang hanya tinggal sepertiga mangkok. Cukup untuk makan satu orang lagi. Melihat hal itu timbullah niat jelek dalam diriku, setan mulai menghasutku. Kalau kubiarkan sarden ini tertutup diatas meja, pasti nanti Angga makan lagi dan dihabisinya sisa sarden ini, bathinku. Tanpa pikir panjang aku ambil satu piring nasi lagi dan kutuangkan semua sarden iytu diatas nasiku hingga habis, lalu kutaruh di lemari makan.
***

(3 hari kemudian)
            Siang ini ibu sudah pulang dari pasar, karena tadi ibu berangkat pagi-pagi sekali. “banyak sekali buah yang ibu beli?”, tanyaku terkesan sedikit memprotes. “udah jangan banyak nanya, tolong ambilkan ibu tempat buah dilemari makan!”
            Tanpa membantah kulaksanakn perintah ibu. Perlahan kubuka lemari makan yang terdiri dari empat pintu  itu. Dua pintu dibagian atas berbentuk persegi, dan dua pintu dibagian bawah berbentuk persegi panjang.
            Dari tadi sudah ku acak-acak semua piring dibagian bawah, namun tidak kutemukan tempat buah yang di inginkan ibu. Mungkin ibu menaruhnya diatas pikirku. Seketika kubuka pintu lemari di pojok kanan atas. Didalamnya terdapat satu piring ceper yang berukuran cukup besar, bermotifkan bunga-bunga terletak tepat ditengah-tengah lantai lemari itu.Lalu kutarik piring itu keluar, ternyata diatasnya terdapat nasi dengan seonggok sambal yang sudah ditumbuhi jamur, sehingga warna merah sambal itu berubah menjadi sedikit keputih-putihan. “lama sekali sih ambil tempat buahnya.”suara ibu mengagetkanku. Tanpa memperhatikan apa yang aku pegang, ibu mengambil tempat buah dan berlalu.
            Aku masih terheran-heran memandangi piring yang aku pegang. Punya siapa ini pikirku, untuk memastikannya kutanya pada Angga yang sedang bermain dikamarnya. ”Angga ini pasti punya kamu kan?” sambil memperlihatkan piring yang kubawa. “bukankah ini sambal sarden tiga hari yang lalu. Seingat Angga sebelum Angga tidur sarden ini masih bersisa. Tapi esok paginya Angga lihat sudah habis bahkan mangkoknya sudah dicuci. Angga pikir ibu yang mengahabiskanya.”
            Angga yang masih duduk dibangku SD, berbicara panjang lebar tanpa memperhatikan tuduhanku tadi, gaya bicaranya sudah seperti seorang detektif. “gak salah lagi, pasti kakak yang ngumpetinnya kan? Angga balik menuduhku. Tapi tuduhannya kali ini benar, aku yang belum sempat pikir panjang hanya  bisa nyengir menahan rasa malu. Malu pada diriku senderi dan malu pada adikku. Angga yang hafal betul watakku, menebak dengan benr tanpa kuceritakan sebab musabab aku menyimpan sambal sarden itu. “ada apa itu?” ibu bertanya karena mendengarku sedikit berdebat dengan Angga. “ni bu, kak Nani ngumpetin sambal sampe ditumbuhi jamur. Angga berlari membawa piring itu kepada ibu.
            Ibu tersenyum melihatku. “kamu pasti menyimpan sarden in karena tak mau dihabiskan Angga kan? Tapi kamu lupa memakannya hingga sudah ditumbuhi jamur  begini. Makanya kamu jangan tamak, akhirnya kamu sendiri yang rugikan. Tak mau dihabiskan orang lain, tapi kamu sendiri juga gak bias memakannya. Seharusnya kamu itu memberi contoh yang baik pada Angga.” Ibu menasehatiku.“iya dasar kak Nani. Udah pikun tamak pula, nuduh orang lain lagi yang ngumpetinnya.” Langsung kukejar Angga yang meledekku. Dalam pikiranku selalu terlintas, “bagaimana bisa aku setamak dan sepikun ini, bayangin sampai tiga hari bo. Pantas aja udah ditumbuhi jamur.

(Nelvianti)

0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design