Selasa, 19 Februari 2019

Perjuanganku Masuk Kelas CENDOL

               

              Aku pertama kali kenal dengan kelas CENDOL melalui grup Curhat Calon Penulis Beken (CCPB) yang diasuh oleh Teteh Triani Retno A. Waktu itu aku melihat salah satu postingan di grup CCPB tentang kelas CENDOL. Aku jadi penasaran, ini grup apa sih??? Lalu aku baca infonya. Disitu tertera dengan rapi semua jadwal, peraturan, dan disiplin di kelas CENDOL, mirip dengan sekolah formal.

              Ada Kepala Sekolah: mayokO aikO; Dewan Suker: Donatus A. Nugroho, Putra Gara, Agus Linduaji, Erry Sofid; Sekretaris: Divin Nahb; Konsultan: Dela Bungavenus. Ada Koordinator Program Ock Cerpen; Ock Puisi; Fiskom Cerpendol; Fiskom Pupucen; Fiskom Pancen Oye; Panadol; Cecen; Ctc; Ocb; Cie; Cemofreaks; Cenayang; M.Krc; Klinik Cendol, dan masih banyak lagi program lainnya, yang masing-masing diurus oleh beberapa orang koordinator. Semuanya ditulis dengan huruf besar. Aku mengernyitkan dahi, aku belum mengerti maksud dari setiap program itu.

              Aku lanjutkan lagi membacanya sampai kepada Undang-Undang CENDOL, yang terdiri dari beberapa BAB dan ayat yang menyatakan peraturan. Salah satu yang kuingat adalah BAB 2, ayat 1 yang berbunyi: “Dilarang menggunakan bahasa alay.” Aku baca lagi sampai selesei, di beberapa paragraf akhir dicantumkan program kelas CENDOL dari Senin sampai Jumat.

              “Wow… ternyata ini grup tentang belajar menulis dan seluk beluknya”, aku takjub sendiri. Semacam sekolah online tapi tanpa biaya. “Keren sekali…” pikirku. Sesuai dengan namanya, CENDOL (Cerita Menulis dan Diskusi Online).

              Aku tertarik sekali dengan grup ini, langsung saja aku minta bergabung sama Teteh Eno. Aku sangat berharap bisa menjadi bagian dari grup ini, karena aku suka menulis dan menurutku ini adalah grup yang tepat untuk mengasah kemampuanku. Apalagi prinsipnya yang “Satu Untuk Semua, Bukan Semua Untuk Satu”, sangat mengena dihatiku.

              Tapi setelah kutunggu-tunggu permintaanku belum juga direspon. Teh Eno dan teman-teman di grup CCPB mengatakan, untuk masuk ke grup CENDOL seleksinya sekarang sangat ketat, mengingat adanya hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk masuk ke grup ini harus melampirkan profil yang jelas, terutama nama. Nama Fbmu harus nama asli tidak boleh aneh-aneh.

             “Tapi namaku nggak aneh kan…???” Kataku.

             “Iya. Nama kamu nggak aneh, Netter artinya pengguna internet kan??” Jawab Teh Eno.

             Akhirnya dengan kecewa kujawab, “Tapi kalau memang nggak bisa gabung, nggak pa-pa kok.”

             Ternyata untuk masuk ke grup CENDOL tidak segampang yang aku pikirkan. Padahal aku sudah mencoba mengganti nama Fbku. Namun berkali-kali aku coba tetap tidak bisa, sampai saat ini. Semoga hal ini tidak menjadi masalah. Aku hanya bisa bersabar, dan berharap suatu saat nanti keberuntungan datang menghampiriku, dan aku bisa masuk grup CENDOL.

              Beberapa hari kemudian aku iseng-iseng buka grup Story Teenlit Magazine (Official Group), kebetulan aku sudah menjadi members-nya. Aku baca satu-persatu postingan di grup itu. Tiba-tiba mataku tertuju pada postingan dari Rifit Kert, yang isinya kurang lebih seperti ini:

              “Ikutan gabung yuk,
Diskusi fiksi.Menulis Fiksi.Membaca Fiksi (Universal Nikko+mayokO aikO).” Tulisannya bewarna biru dan bisa di klik.

              Wah… ini kan grup yang aku cari-cari. Langsung saja aku komen, “Aku mau…tapi gimana caranya???”

              Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menambahkan Rifit Kert sebagai teman Fbku, agar lebih memudahkanku masuk ke grup CENDOL.

              Satu jam kemudian aku online lagi. Betapa senangnya hatiku saat membaca notifications tentang ketergabunganku dengan grup CENDOL. Terima kasih buat Rifit Kert yang sudah menambahkanku sebagai members di grup itu.

             “Alhamdulillah…akhirnya aku bisa juga masuk grup ini.” Begitu tulisku di wall grup Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi.Membaca Fiksi (Universal Nikko+mayokO aikO). Postingan pertamaku mendapat respon yang baik dari teman-teman kelas CENDOL dengan beberapa like dan ucapan selamat bergabung.

             Ya, akhirnya aku resmi menjadi murid kelas CENDOL, kurasa lebih kurang satu bulan yang lalu. Aku memang tergolong murid baru dibandingkan teman-teman yang lain, yang lebih dulu bergabung. Bahkan aku lihat sudah ada yang hampir setahun bergabung dengan grup ini. Wah… kalau begitu aku jauh ketinggalan, aku merasa rugi kenapa baru-baru ini dapat mengenal grup CENDOL. Coba kalau dari dulu! Pasti lebih banyak ilmu kudapat. Aku juga lihat members-nya sudah mencapai 5238 orang, dan salah satunya itu adalah aku. Aku  beruntung bisa menjadi bagian dari mereka.

            Hari-hari berikutnya aku mulai rajin mengikuti setiap program kelas CENDOL. Aku mulai menambahkan setiap teman di kelas CENDOL menjadi teman Fbku, dan aku juga sering membaca profil mereka. Ternyata kebanyakan dari mereka orang yang pintar menulis, tetapi tidak sombong. Mereka mau berbagi ilmu yang mereka miliki untuk orang lain. Hal inilah yang membuatku betah di kelas CENDOL.

            Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Apa itu chicklit, endorsment, ISBN? Semua itu kupelajari di kelas CENDOL. Sampai informasi yang tidak asing lagi yaitu tips menulis, dan yang paling aku suka adalah events yang diselenggarakan oleh kelas CENDOL. Seperti event yang satu ini, LOMBA MENULIS ‘I LOVE CENDOL.’

           Saat pertama kali menjadi murid kelas CENDOL, aku usahakan membaca seluruh dokumen yang tertera disana, yang keseluruhannya mencapai 803 dokumen. Saat itu aku mengetahui adanya event ini. Setelah membaca persyaratannya, lalu aku mengambil pulpen dan mulai mengonsep pada secarik kertas (kebiasaanku sebelum mengetik di laptop). Tidak lupa pula aku tambahkan jurinya sebagai teman Fbku.

           Kata demi kata kurangkai, betapa sulitnya perjuanganku untuk masuk ke kelas CENDOL. Aku harus bersabar beberapa hari untuk menjadi bagian dari grup ini. Kalau boleh aku mengutip kata-kata A.Fuadi dalam novelnya Ranah 3 Warna, man shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung. Hal inilah yang kurasakan sekarang, karena aku mau bersabar akhirnya aku bisa menjadi murid kelas CENDOL.

           Waktu kuberi tahu tentang perjuanganku ini kepada sahabatku, Zuriani Annisa, dia mengatakan, “Aku sudah lebih dulu masuk ke grup ini, nggak serumit itu prosesnya. Kok aku bisa masuk ya..? Aku aja kurang minat nulis, sedangkan kamu yang minat nulis, susah banget masuk ke grup ini.” sahabatku menjadi heran sendiri.

           Dan akhirnya dalam waktu tiga jam tulisan ini dapat kuselesaikan. Ini semua berkat semangat dari teman-teman kelas CENDOL. Ya, tanpa mereka sadari, mereka telah memberikan semangat untukku lewat tulisannya yang sangat inspiratif. Terima kasih semuanya. Semoga semakin banyak orang yang ingin menjadi bagian dari grup ini.

0 komentar:

 

Pedagogik Template by Ipietoon Cute Blog Design